Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Mengenal Aminatun Habibah, Pegiat Ma’arif NU Dipercaya Wabup Gresik

Mengenal Aminatun Habibah, Pegiat Ma’arif NU Dipercaya Wabup Gresik
Aminatun Habibah ditetapkan sebagai Wakil Bupati Gresik. (Foto: NOJ/Ist)
Aminatun Habibah ditetapkan sebagai Wakil Bupati Gresik. (Foto: NOJ/Ist)

Gresik, NU Online Jatim

Akhirnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Gresik merampungkan rapat pleno penetapan bupati dan wakil bupati. Lewat perjalanan berliku, Fandi Akhmad Yani dan Aminatun Habibah telah resmi ditetapkan sebagai orang penting di Kota Pudak ini untuk periode 2021-2024, Jumat (22/01/2021).

 

Aminatun Habibah yang telah ditetapkan menjadi wakil bupati terpilih merupakan perempuan pertama di Gresik. Ning Min, sapaan akrabnya mengaku lebih memilih untuk segera melakukan perbaikan data terutama warga kurang mampu setelah dilantik nanti.

 

Cicit dari pendiri salah satu pondok pesantren tertua di Pantura Jawa, Pesantren Qomaruddin, yakni almaghfurlah KH Ahmad Muhammad al-Hammad, menjadi wakil bupati perempuan pertama sepanjang sejarah di Gresik.

 

Menurutnya, semua ini bentuk perjuangan dari para kiai yang mendorong untuk mengabdi kepada masyarakat, dan semua pihak termasuk masyarakat yang menginginkan perubahan.

 

"Bersyukur diberi kesempatan untuk mengabdi kepada masyarakat Gresik. Banyak juga kepala daerah perempuan," katanya, Sabtu (23/01/2021).

 

Aktivis Tulen

Ning Min termasuk perempuan aktivis sejak muda. Dan hingga kini tercatat sebagai Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif NU Jatim. Juga sebagai bendahara Musyawarah Kerja Kepala Sekolah atau MKKS SMK Ma’arif NU dan Pondok Pesantren Jatim.

 

Selain itu, juga memiliki latar belakang di dunia pendidikan seperti Kepala SMK Assaadah Bungah Gresik. Termasuk dipercaya sebagai Ketua 1 Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Gresik, serta Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Gresik.

 

 

Data Warga dan Berdayakan Perempuan

“Saya lebih memilih fokus untuk melakukan perbaikan data,” katanya. Gresik harus memilik big data yang valid. Mulai dari data keluarga kurang mampu, pendidikan dan kesehatan menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi, lanjutnya.

 

Dalam pandangannya, bantuan untuk masyarakat kurang mampu harus benar-benar tepat sasaran. Big data tersebut akan diupdate dalam kurun waktu tertentu, agar sesuai dengan kenyataan di lapangan. “Teknis perbaikan data berbeda dibanding sebelumnya,” terangnya.  

 

Karena itu yang akan dilakukan dengan pemberdayaan warga setempat, mulai dari karang taruna, Fatayat NU, atau yang lainnya. “Mereka akan dilibatkan untuk memperbaiki data di lapangan, yang jelas, warga setempat itu dilibatkan,” urainya.

 

Dikeluhkan kalau selama ini ini yang mengawasi atau mendampingi bukan orang asli. Makanya masih ada yang menerima bantuan tapi orangnya mampu. “Ada yang benar-benar tidak mampu, tapi tidak dapat bantuan. Nah, ini jangan sampai terjadi lagi. Kami siapkan big data agar bantuan tidak salah sasaran," ucapnya.


Jika big data itu sudah valid, bantuan kepada warga tidak perlu ribet. Cukup menggunakan e-KTP dan dicek dalam big data. Misalkan untuk berobat ke rumah sakit, cukup dengan membawa KTP saja untuk proses administrasi, langsung diproses tidak perlu mencari surat untuk validasi data.

 

“Hal ini juga berlaku di dunia pendidikan dan bantuan sosial lainnya,” tegasnya.

 

Salah satu program Nawa Karsa pasangan Niat untuk perempuan adalah 'Bunda Puspa'. Yakni, bantuan untuk pemberdayaan perempuan usaha dan pendidikan anak. Melalui program ini, mampu meningkatkan ekonomi perempuan di dalam keluarga. Pemberdayaan mulai dari pelatihan usaha, bantuan modal, hingga pemasaran secara online maupun offline.

 

"Artinya perempuan harus punya tambahan ekonomi, akan kita garap sektor UMKM, akan kita maksimalkan," kata dia.

 

Disampaikan bahwa hingga kini masih banyak perempuan yang ditemui terjebak dalam utang rentenir. Pihaknya akan memberikan fasilitas kepada ibu-ibu supaya mengerti untuk memanfaatkan fasilitas bantuan dari program ini.

 

"Di kampung-kampung itu banyak yang usaha. Seperti usaha pentol, mereka sangat tradisional sekali. Kami bantu memberdayakan agar bisa melalukan penjualan secara online," kata dia.

 

Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPA) tak luput perhatiannya. Karena selama ini dianggapnya masih kurang maksimal."Nanti ada unit pelaksana teknis untuk pemberdayaan perempuan dan anak. Karena urusan perempuan dan anak ini banyak, sedangkan anggarannya kecil," tutup Bu Min.

PWNU Jatim Harlah