Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Mengenal Kiai Abdul Hadi, Penggerak NU di Ujung Utara Jember

Mengenal Kiai Abdul Hadi, Penggerak NU di Ujung Utara Jember
Almaghfurlah KH Abdul Hadi, pegiat NU di Jelbuk, Jember. (Foto: NOJ/M Haris)
Almaghfurlah KH Abdul Hadi, pegiat NU di Jelbuk, Jember. (Foto: NOJ/M Haris)

Jember, NU Online Jatim

Bagi warga Nahdlatul Ulama bagian utara Kota Jember, tepatnya di Kecamatan Jelbuk, nama KH Abdul Hadi sudah tidak asing lagi. Dikenal sebagai ulama kharismatik pejuang jamiyah dari daerah yang dulu minim pemahaman NU hingga jaya di masanya.

 

Kiai Abdul Hadi telah tiada, namun anak cucu dan kadernya masih tetap menjadi pengabdi di masyarakat dan NU. Mereka turut serta dalam menegakkan dan menghidupkan Islam Ahlussunah Wal Jama’ah.

 

Diceritakan Muhammad Tsabit, putra pertama almarhum, bahwa ayahnya lahir tahun 1953 di Desa Sukojember, Kecamatan Jelbuk. Adalah putra dari pasangan Kiai Masdar dan Nyai Siti Kholifah.

 

Di masa kecil, Abdul Hadi muda belajar ilmu Al-Qur’an langsung dari abahnya serta sang kakek, KH Ahmad Iqrom. Selain itu, belajar ilmu alat dan kitab kuning kepada kakak sepupu, KH Ibrohim. Sedangkan pendidikan formal hanya sampai sekolah dasar.

 

Setelah beranjak dewasa, sekitar tahun 1965 menuntut ilmu ke Pondok Pesantren Sumberwringin asuhan Kiai Umar. Di sanalah mempelajari segala macam ilmu keagamaan, termasuk juga NU.

 

Setelah beberapa lama, berkeinginan melanjutkan pengembaraan ilmu ke Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, namun gagal karena tidak direstui sang guru. Akhirnya terus melanjutkan belajar di pesantren tersebut hingga 9 tahun.

 

Setahun setelah berhenti mondok, tepatnya pada 1975 berangkat melaksanakan ibadah haji. Pulangnya dinikahkan oleh Kiai umar dengan Nyai Farid yang merupakan putri Kiai Misbah, Pengasuh Pondok Pesantren Misbahul Ulum.

 

Akan tetapi pernikahan dengan Nyai Farid hanya berlangsung 16 bulan tanpa dikaruniai keturunan.

 

Dan setelah firaq , pada tahun 1977 menikah kembali dengan Nyai Siti Kholifah dan memutuskan tinggal di Kecamatan Mayang, Jember. Dari pasangan ini memiliki dua keturunan, yaitu Muhammad Tsabit dan Siti Zulfa Unziah.

 

Setelah beberapa tahun tinggal di Mayang, KH Abdul Hadi sering ditanyakan paman sekaligus gurunya terkait kapan akan kembali ke Suko, Jember membantu keluarga. Karena waktu itu membutuhkan penerus pesanrtren.

 

Akhirnya pada 1983, bersama keluarga pulang kembali ke Suko untuk membantu keluarga dalam mengurus pesantren. Bersamaan dengan itu mulai merintis berjuang untuk menghidupkan kembali Nahdlatul Ulama yang sempat vakum.

 

Perjuangan di NU

Tahun 1983 bertepatan dengan dilaksanakannya Munas NU di Situbondo,  KH Abdul Hadi mulai berjuang di jamiyah di kawasan Kecamatan Jelbuk sekaligus meneruskan Pesantren Suko.

 

Sebelum itu, di kawasan setempat memang sudah ada kepengurusan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), namun vakum dan tidak berjalan maksimal. Sehingga KH Abdul Hadi bersama sejumlah tokoh kembali merintis NU.    

 

KH Abdul Hadi diamanahi sebagai Wakil Rais MWCNU Jelbuk, sedangkan rais yakni KH Khudori. Namun karena faktor usia, KH Khudori jarang hadir ketika ada rapat dan kegiatan, sehingga KH Abdul Hadi lah yang selalu menggantikan.

 

Kala itu NU di Jelbuk masih minim dikenal masyarakat, sehingga KH Abdul Hadi bersama sebagian pengurus melakukan beragam gerakan untuk memasyarakatkan NU. Salah satu yang dilakukan yakni menggelar anjangsana rutin dan pengkaderan yang dilakukan di beberapa titik, termasuk kawasan pegunungan.

 

Yang dirasa berat, kala itu banyak aliran atau organisasi di luar NU seperti Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) serta warga Partai Komunis Indonesia (PKI). Tentu saja hal ini menjadi tantangan tersendiri. Pada saat yang sama, NU masih minoritas dan masyarakat memandang sebelah mata sekaligus meremehkan. Selain itu masyarakat juga banyak yang trauma dan takut masuk NU karena klaim Orde Baru. Bahwa mereka yang masuk di NU identik dengan urusan politik, serta sering dibawa ke Koramil dan Polsek.

 

Suasana demikian tidak menyurutkan semangat KH Abdul Hadi bersama kader NU lain untuk meneruskan perjuangan. Yang dilakukan dengan mengajak dan menjelaskan secara perlahan bahwa NU bukan mengurusi partai politik, namun sosial keagamaan.

 

Dalam hal pengkaderan, KH Abdul Hadi bersama NU Jelbuk pernah melaksanakan latihan dasar yang bertujuan mencari kader dalam mengisi kepengurusan MWCNU serta mengaktifkan sejumlah badan otonom yang belum terbentuk.

 

Dalam perjuangan di NU, KH Abdul Hadi merupakan salah seorang figur sangat gigih dalam mengabdi. Dikenal sering menanggung biaya saat NU melaksanakan berbagai kegiatan. Juga kerap mengisi kegiatan sampai ke pegunungan. Dijelaskan sejumlah sumber yang dapat dipercaya, KH Abdul Hadi pernah jatuh dalam perjalanan saat naik sepeda untuk mengisi kegiatan yang berlokasi di atas gunung, tepatnya desa Sumbercandik. 

 

Pada awal Februari 1990, KH Abdul Hadi terpilih menjadi Rais MWCNU Jelbuk menggantikan KH Khudori dikarenakan periode kepengurusan habis.

 

Selain berjuang di NU, KH Abdul Hadi juga merintis pesantren baru karena dirasa sudah tidak mampu menampung santri. Dari saking cintanya kepada jamiyah, nama pesantren rintisannya diberi nama Nahdlatul Ulum, yang mirip dengan NU. Dalam perkembangannya, pesantren ini mengundang banyak santri. Saat itu sebagian santri dikader menjadi pejuang dan mengabdi bersama dalam menghidupkan NU.

 

Sejumlah santri sering diutus mengikuti kegiatan NU, mengisi pengkaderan dan menghidupkan banom seperti Fatayat NU, Muslimat NU, IPNU-IPPNU serta Pagar Nusa.

 

Sampai beberapa tahun kemudian, yaitu sekitar tahun 1995-an  NU di Jelbuk mencapai masa keemasan. Terbukti seluruh banom mulai dari IPNU-IPPNU, Fatayat NU, Ansor, Banser, dan Pagar Nusa semu aktif bersinergi dalam menghidupkan jamiyah. Yang dilakukan dengan mengadakan kegiatan rutin dan acara besar lain.

 

Editor: Syaifullah

F1 Promosi Iklan