Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Mengenal Kiprah Nyai Rosyidah, Pengasuh Pesantren dari Jember

Mengenal Kiprah Nyai Rosyidah, Pengasuh Pesantren dari Jember
Nyai Rosyidah juga kerap mengisi pengajian yang diadakan warga Jember. (Foto: NOJ/Istimewa)
Nyai Rosyidah juga kerap mengisi pengajian yang diadakan warga Jember. (Foto: NOJ/Istimewa)

Jember, NU Online Jatim

Siti Rosyidah biasa dipanggil Nyai Rosyidah, lahir di Kota Gandrung Banyuwangi. Ia adalah istri dari almarhum KH Yusuf Muhammad atau Gus Yus yang merupakan pendiri Pondok Pesantren Darus Sholah, Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, Jember.

 

Perempuan kelahiran 30 Desember 1959 tersebut dikaruniai dua putra, M Zacki Audani dan Muhammad Farid Aulavi. Dan semenjak sang suami wafat, Nyai Rosyidah lah yang menjadi Pengasuh Pesantren Darus Sholah.

 

Sempat mengenyam bangku kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) yang akan berubah menjadi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq, Jember. Kala itu tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Syariah Program Studi Al-Ahwal As-Syakhsiyyah (AS) yang saat ini menjadi hukum keluarga.

 

Lulus sebagai sarjana pada tahun 2001, menjadikan Nyai Rosyidah sebagai salah satu lulusan atau alumni angkatan pertama Fakultas Syariah STAIN Jember kala itu.

 

Menurutnya, menempuh pendidikan sarjana di kampus agama patut disyukuri karena selain diajarkan mata kuliah, juga dikenalkan pendidikan karakter. Itu dibuktikan dengan penanaman akhlakul karimah yang biasanya hanya bisa didapatkan di pesantren.

 

“Itulah yang membuat sosok alumni kampus ini terkenal sopan. Karena kesopanan lebih tinggi nilainya daripada kecerdasan,” katanya kepada media ini suatu ketika.

 

Dirinya bercerita bahwa saat kuliah harus rela berangkat pukul 5 hingga 6 pagi. Hal tersebut untuk bisa mengikuti proses perkuliahan.

 

“Hal tersebut terpaksa dijalani karena fasilitas kampus baik gedung atau kelas saat itu masih kurang memadai, ditambah jarak yang harus saya tempuh cukup jauh,” kenangnya. Ya, saat itu gedung atau ruangan yang tersedia masih minim. Untuk dapat melangsungkan perkuliahan harus bergantian dengan mahasiswa dan dosen lain.

 

Keterbatasan yang ada ternyata tidak mengendorkan semangat para mahasiswa untuk bisa terus kuliah dan berupaya merampungkan studi sesuai jadwal. "Saya harus tetap semangat untuk terus menuntut ilmu,” tuturnya berbinar.

 

Sebagai istri dari kiai yang memiliki kharisma, menjadikan Nyai Rosyidah harus siap dan mampu untuk bertahan menghadapi cobaan berat yang ada. Kendati perempuan, dirinya tetap berupaya melanjutkan cita-cita sang suami sebagai pengasuh. 

 

“Alhamdulillah sampai saat ini perkembangannya masih baik-baik saja, memang harus bisa membagi waktu agar semua kegiatan terlaksana dengan baik,” ungkapnya.

 

Dijelaskan bahwa ketika suami wafat, dirinya harus bisa meneruskan peninggalan almarhum yakni Pondok Pesantren Darus Sholah ini. Pesantren beralamat di jalan Moh. Yamin 25, Tegal Besar Kulon, Tegal Besar, Kaliwates, Jember. Kini merupakan salah satu pesantren terbesar di Jember dengan jumlah santri hingga lima ribu orang.

 

Para penuntut ilmu ini tidak hanya berasal dari Jember, juga dari luar Bondowoso, Banyuwangi, Bali, Semarang, Jakarta, Lampung, Aceh dan masih banyak kota lain. Jumlah alumni mencapai ribuan yang tersebar di berbagai pelosok di Indonesia.

 

Sebagai pesantren modern, Darus Sholah juga dilengkapi dengan pendidikan formal. Mulai tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Tamak Kanak-kanah, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama Plus, Madrasah Aliyah, Sekolah Menengah Atas Unggulan BPPT. Juga Taman Pendidikan al-Qur’an atau TPQ, hingga madrasah diniyah.

 

Nyai Rosyidah menyadari bahwa semakin berkembang, maka pesantren tentu saja mengalami banyak tantangan, rintangan dan hambatan. Termasuk tentu saja wafatnya sang suami. Namun berkat ketabahan, akhirnya semua dapat dilalui dengan baik.

 

Kepada santri, dirinya berpesan agar benar-benar memiliki semangat dalam belajar. Hal tersebut penting demi merengkuh cita-cita yang diidamkan kelak.

 

“Tetap semangat belajar, dan raihlah cita-cita setinggi langit. Kalau bisa mondok untuk menambah ilmu agama dan menjaga ibadah khususnya shalat fardhu,” ujar perempuan yang juga aktif sebagai Wakil Ketua Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Jember tersebut.

 

Meneladani Suami

Memang tidak mudah untuk bisa mempertahankan, bahkan mengembangkan perjuangan sang suami. Karena itu, Nyai Rosyidah terus mendalami perjuangan yang telah dilakukan almarhum.

 

“Banyak teladan yang dapat dicontoh dari almarhum, yakni meski banyak rintangan yang harus dihadapi, tidak pernah mengeluh dan menyurutkan niat serta semangat untuk mencari ilmu di manapun tempatnya,” ungkapnya.

 

Karena itu, di ujung pembicaraan, dirinya meminta dukungan agar bisa meneruskan perjuangan sang suami. Bahkan sejumlah angan yang belum bisa terwujud, diupayakan untuk bisa terealisir.

 

“Mudah-mudahan saya bisa melestarikan peninggalan dan bisa mewujudkan cita-cita beliau yang belum terealisasi,” harapnya.

 

Penulis: Wildan Rofikil Anwar

F1 Promosi Iklan