Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Mengenal Lebih Dekat MAUWH Tambakberas Jombang

Mengenal Lebih Dekat MAUWH Tambakberas Jombang
Kegiatan di halaman MAUWH Tambakberas, Jombang. (Foto: NOJ/ISt)
Kegiatan di halaman MAUWH Tambakberas, Jombang. (Foto: NOJ/ISt)

Jombang, NU Online Jatim

Madrasah Aliyah Unggulan KH Abdul Wahab Hasbulloh atau MAUWH adalah salah satu lembaga pendidikan formal yang ada di bawah Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Keberadaannya saat ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang madrasah, dari mulai awal berdiri hingga perkembangan yang melingkupi.

 

Sebagai gambaran terkait dinamika yang ada, beberapa tulisan di NU Online Jatim akan menjelaskan keberadaan MAUWH. Dari aspek sejarah, fasilitas yang dimiliki, kelebihan yang melingkupi, hingga prestasi yang diraih dari waktu ke waktu. Besar harapan, hal tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih detail terkait madrasah.

 

Sejarah Pendirian

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) tahun 1989 Bab V Pasal 15 Butir ke-2 dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 29 tahun 1990 Bab III Pasal 4 Butir ke-2 melahirkan Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor: 084/U/1992. Pada Bab I pasal I Butir ke-6 SK tersebut menyatakan bahwa Madrasah Aliyah (MA) adalah Sekolah Menengah Umum (SMU) yang berciri khas Islam.

 

“Sebagai konsekuensinya, kurikulum MA harus disesuaikan dengan kurikulum SMU, yakni hanya memberi peluang pendidikan agama sebanyak 11 sampai 16 persen,” kata Ustadz Faizun Amir, Ahad (09/05/2021).

 

Tidak hanya itu, program pilihan ilmu-ilmu agama yang sebelumnya menjadi andalan MA harus pula dihilangkan secara bertahap terhitung mulai tahun pelajaran 1994.

 

“Dengan kata lain, madrasah aliyah hanya boleh membuka jurusan IPA, IPS, dan bahasa,” kata Kepala MAUWH Tambakberas ini.

 

Menyikapi kenyataan tersebut, berdasar pada undang-undang yang sama serta Peraturan Pemerintah Nomor 29 tahun 1990 Bab III pasal 4 butir ke-3 Menteri Agama RI mengeluarkan SK Nomor 371 dan 374 tahun 1993 tentang Madrasah Aliyah Keagamaan dan Kurikulumnya.

 

“SK ini tentu saja dimaksudkan agar pendidikan keagamaan di negeri ini tetap terjaga atau bahkan saat itu muncul istilah bahwa dengan terbitnya SK Menteri Agama RI Nomor 371, maka pendidikan agama akan dijadikan primadonanya Depag,” ungkap alumnus pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma) ini.

 

Terbitnya SK Menag 371 disambut dengan suka cita oleh kalangan pesantren. Sebagian besar pesantren, terutama di Jawa Timur, hampir seluruhnya membuka Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK), termasuk Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

 

“Tepatnya Sabtu, 30 Juli 1994 beberapa pimpinan dan guru mengadakan rapat untuk merancang pendirian MAK,” kenangnya.

 

Hadir dalam Rapat tersebut Nyai Hj Mahfudhoh Aly Ubaid selaku Pengurus Yayasan Pesantren Bahrul Ulum, KH Imam Asy’ari Muchsin dan Nyai Hj Mundjidah Wahab selaku majelis pengasuh. Juga H Moh Syamsul Huda As selaku Kepala Madrasah Aliyah Negeri, dan sembilan orang guru.

 

“Rapat ini memutuskan untuk mendirikan Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) sebagaimana ditawarkan oleh Menteri Agama. Pendirian MAK dimaksudkan agar keberadaan Pesantren Bahrul Ulum sebagai salah satu benteng pertahanan dan pusat pengembangan nilai-nilai keislaman melalui lembaga ‘formal’ dapat dipertahankan,” jelasnya.

 

Susunan kepemimpinan MAK Bahrul Ulum ketika berdirinya terdiri atas pembina, koordinator asrama, dan kepala tata usaha. Pembina dijabat oleh H Moh Syamsul Huda As, koordinator asrama adalah Nyai Hj Mundjidah Wahab, dan kepala tata usaha Faizun Amir. Sekadar diketahui bahwa saat itu murid MAK wajib tinggal satu asrama, sehingga sebutan resmi di Depag adalah koordinator asrama. Namun belum genap satu tahun, kepemimpinan tersebut berubah seiring dengan mutasi H Moh. Syamsul Huda As menjadi kepala MAN Denanyar.

 

Selanjutnya kepemimpinan MAK Bahrul Ulum terdiri atas pembina yaitu H Moh Syamsul Huda As, kepala madrasah adalah Nyai Hj Mundjidah Wahab, kepala tata usaha yakni Faizun Amir, dan pimpinan asrama dipercayakan kepada H Ach Silahuddin Asy’ari.

 

“Nyai Hj Mundjidah Wahab menjabat kepala MAK hingga tahun 2006 karena Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang menentukan kebijakan tidak membolehkan rangkap jabatan majelis pengasuh dan kepala sekolah maupun madrasah,” terang dia.

 

Buah dari kebijakan tersebut, Jumat, 8 September 2006 dilakukan rapat pimpinan, guru, karyawan, dan komite MAK untuk menentukan kepemimpinan. Rapat memutuskan Faizun yang sejak 2003 menjabat sebagai wakil kepala bagian kurikulum merangkap kepala tata usaha diangkat menjadi kepala madrasah.


Editor:
F1 Promosi Iklan