Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Mengenal Sosok Pahlawan Nasional, KH As’ad Syamsul Arifin

Mengenal Sosok Pahlawan Nasional, KH As’ad Syamsul Arifin
KH As'ad Syamsul Arifin bersama pasukan yang terdiri dari banyak elemen. (Foto: NOJ/MM)
KH As'ad Syamsul Arifin bersama pasukan yang terdiri dari banyak elemen. (Foto: NOJ/MM)

Surabaya, NU Online Jatim

Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan. Hal tersebut sebagai upaya mengingat dan meneladani kiprah sejumlah kalangan terhadap bangsa dan negara.

 

Di edisi spesial ini, sejumlah kiai dan ulama yang meraih gelar pahlawan nasional akan ditampilkan agar menjadi insiprasi bagi generasi muda.

 

Ada sejumlah pahlawan nasional yang telah mendapatkan pengakuan dari negara. Salah satunya adalah KH As’ad Syamsul Arifin.

 

Kiai As’ad, demikian biasa warga memanggil merupakan anak pertama dari pasangan KH Syamsul Arifin dan Nyai Siti Maimunah yang berasal dari Pamekasan. Diketahui memiliki satu saudara (adik) yaitu bernama KH Abdurrahman.

 

Kiai As’ad lahir pada 1897 di Makkah tepatnya di kampung Syi’ib Ali, yang berdekatan dengan Masjidil Haram ketika kedua orang tuanya menunaikan ibadah haji dan bermukim di sana untuk memperdalam ilmu keislaman.

 

Dengan demikian ada darah bangsawan pada diri Kiai As’ad yang berasal dari kedua orang tuanya. Sang ayah yaitu Raden Ibrahim (KH Syamsul Arifin) merupakan keturunan dari Sunan Kudus I, dan sang ibu Nyai Siti Maimunah yang masih mempunyai keturunan dari Sunan Ampel.

 

Ketika berusia 6 tahun, As’ad kecil diantarkan ke Pamekasan untuk tinggal di Pondok Pesantren Kembang Kuning. Sedangkan adiknya, Abdurrahman yang saat itu masih berusia 4 tahun dititipkan kepada Nyai Salhah yang merupakan sepupu Nyai Siti Maimunah yang tinggal di Makkah. Setelah 5 tahun tinggal di Pamekasan, As’ad kecil diajak sang ayah untuk pindah ke pulau Jawa yang pada saat itu masih berupa hutan belantara tepatnya di daerah Sukorejo, Banyuputih, Situbondo untuk menyebarkan agama Islam.

 

Di sana, sang ayah membangun sebuah pondok pesantren sebagai tempat untuk berdakwah. Pemilihan tempat tersebut bukan tanpa alasan melainkan atas saran dua ulama dari Semarang yaitu Habib Hasan Musawa dan Kiai Asadullah.

 

Awal pembangunan pesantren hanya terdiri gubuk kayu kecil, mushala, dan asrama santri yang pada saat itu masih dihuni oleh beberapa orang saja. Seiring berjalannya waktu dengan banyaknya santri yang berdatangan untuk belajar ilmu agama, maka pada tahun 1914 pesantren tersebut dikenal dengan nama Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah.

 

Dari Pesantren hingga Makkah

Kiai As’ad sejak kecil sudah mendapatkan ilmu agama dari ayahnya yang merupakan ulama. Setelah beranjak remaja, sang ayah mengirimnya untuk belajar di sebuah pondok pesantren tua yang didirikan tahun 1785 di Banyuanyar, Pamekasan. Selama 3 tahun belajar di pesantren tersebut (1910-1913) Kiai As’ad diasuh oleh KH Abdul Majid dan KH Abdul Hamid, yang merupakan masih keturunan pendiri pesantren, yakni KH Itsbat Hasan.

 

Setelah selesai belajar di Pesantren Banyuanyar, As’ad muda dikirim lagi oleh ayahnya ke Makkah untuk menjalankan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agama. Belajar intensif di Madrasah Salathuyah, sebuah madrasah yang sebagian besar murid dan guru-gurunya berasal dari al-Jawi (Melayu).

 

Menimpa pengetahuan agama secara serius bersama ulama terkenal, baik dari ulama al-Jawi maupun ulama Timur Tengah. Di antara gurunya adalah Syeikh Abbas al-Maliki, Syeikh Hasan al-Yamani, Syeikh Muhammad Amin al-Quthbi, Syeikh Hasan A-Massad, Syeikh Bakir (Yogyakarta), Syeikh Syarif as-Sinqithi.

 

Sepulangnya dari Makkah, tidak langsung meneruskan pesantren ayahnya. Akan tetapi mengembara di berbagai pondok untuk memperdalam ilmu lagi, antara lain di Pesantren Tebuireng Jombang asuhan KH M Hasyim Asy’ari, Pesantren Demangan, Bangkalan asuhan Syaikhana Chalil, Pesantren Panji Buduran, Pesantren Tetango Sampang, dan Sidogiri Pasuruan.

 

Ketika nyantri di pesantren Syaikhana Chalil, termasuk santri andalan. Suatu hari pada tahun 1924 M, saat Syaikhana Chalil memanggil untuk ditugasi mengantarkan sebuah tongkat dengan pesan QS. Thaha ayat 18 hingga 21 kepada KH M Hasyim Asy’ari di Tebuireng. Selang beberapa bulan di akhir tahun 1924 kembali memanggilnya untuk mengantar tasbih dan berdzikir ‘Yaa Jabbar Yaa Qahhar’.

 

Ketika Syaikhona Chalil memberikan tasbih itu, Kiai As’ad meminta agar dikalungkan di lehernya. Dirinya menjaga dengan sangat baik amanah dari sang guru dan memberikan tasbih itu kepada KH M Hasyim Asyari sebagai tanda memberi restu akan berdirinya Nahdlatul Ulama. Bisa dikatakan bahwa KH As’ad Syamsul Arifin adalah penyampai pesan cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama.

 

Sepeninggalan sang ayah, KH Raden Syamsul Arifin pada tahun 1951, kepengasuhan Pesantren Salafiyah Syafi’iyah diberikan kepada Kiai As’ad. Di bawah asuhannya pesantren mengalami perkembangan cukup pesat, sehingga pada tahun 1968 berdirilah sebuah Universitas Syafi’iyah dengan fakultas tarbiyah dan fakultas dakwah.

 

Tidak berhenti sampai di situ, Kiai As’ad mendirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 1980. Kemudian kemajuan yang lainnya juga ditunjukkan pada 1985 dengan berdirinya sebuah Sekolah Dasar (SD). Selang satu tahun kembali mendirikan sekolah di bidang perekonomian dengan berdirinya Sekolah Menengah Ekonomi Tingkat Atas (SMEA) pada tahun 1986. Dan di tahun 1990 berdiri berbagai lembaga salah satunya, lembaga kaderisasi fuqaha atau yang lebih dikenal dengan nama Ma’had Aliy yang merupakan lembaga dalam rangka mengantisipasi krisis ulama.

 

Perjuangan Melawan Penjajah

Tak hanya sebagai ulama yang menyebarkan ilmu agama dan memimpin pesantren, Kiai As’ad juga turun gunung bergerilya berjuang mengusir penjajah Jepang dari Jember. Di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin, Sukowono yang menjadi markas utamanya, Kiai As’ad menyusun strategi dan melancarkan serangan untuk melumpuhkan penjajah.

 

As’ad remaja memimpin para pejuang untuk melawan serdadu Jepang di Garahan, Kecamatan Silo. Bersama pejuang lainnya bergerilya dari Sumberwringin menyusuri jalan puluhan kilometer, naik turun lembah, menembus hutan belantara dan menyeberang sungai. Gerakannya tercium musuh dan dicegat pasukan penjajah di Sungai Kramat.

 

Pada masa perjuanganya, Kiai As’ad bersama dengan sepupunya, KH Abdus Shomad sempat mendapatkan kursus teknik dasar militer di Jember. Dengan modal ini pula bersama kiai lain menyusun pergerakan yang dipadukan dengan kekuatan rakyat dan para santri.

 

Sosoknya yang berkharisma menjadikannya disegani masyarakat yang berada di kawasan Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Lumajang, dan Pasuruan. Terutama disegani oleh ketiga laskar di kawasan itu yaitu laskar Sabilillah, Hizbullah, dan Pelopor. Semua kiai yang berada pada laskar Sabilillah menaati semua strategi yang dibuat. Begitu juga dengan para santri yang berada pada laskar Hizbullah, mereka dengan senang hati mengikuti strategi pergerakan perjuangan. Tak hanya kiai dan para santri, rakyat termasuk para preman yang berada pada barisan laskar Pelopor juga mengikuti strategi Kiai As’ad.

 

Pasukan yang dipimpin berhadapan langsung dengan musuh. Meskipun begitu, Kiai As’ad bersama pasukan bisa mengatasi para penjajah Jepang, sehingga membuat lari menuju ke tengah hutan. Gerakan pasukan Kiai As’ad membuat Jepang nyalinya ciut dan akhirnya berhasil diusir tanpa peperangan di Garahan.

 

Pesan KH As’ad Syamsul Arifin dalam berjuang membela negara adalah dengan niat. Niat memperjuangkan agama dan negara. Memperjuangkan agama untuk akhiratnya dan memperjuangkan negara untuk dunianya.

 

Kiprah di Panggung Politik

Ketika NU memutuskan untuk menjadi partai politik dan meninggalkan Masyumi pada 1952, Kiai As’ad dan para ulama Nusantara mengembangkan dan memperluas pengabdian menuju politik kenegaraan yang sebelumnya hanya fokus di politik kebangsaan dan kerakyatan. Bahkan pada 1957-1959 Kiai As’ad menjadi juru kampanye Partai NU dan dipercaya mengemban amanat sebagai penasihat pribadi wakil perdana menteri kala itu, KH Idham Khalid.

 

Menurutnya, peran masyarakat Islam dalam mendukung Partai NU ketika pemilu sangatlah penting. Karena berazazkan Ahlusunnah Waljama’ah dan konsepsi pemikiran yang diajukan dalam sidang bersumber dari ajaran Islam serta para calon yang diajukan berasal dari ulama nasional. Alasan inilah yang menjadikannya  berjuang dari satu tempat ke tempat lain yang tak lain demi membela NU di ranah politik.

 

Melihat perjuangan bersama kiai muda lainnya, membuat Presiden Soekarno memilihnya agar menduduki jabatan sebagai menteri agama. Namun Kiai As’ad bukan seorang yang haus jabatan, dengan halus menolak tawaran itu karena menurutnya jabatan seperti itu bukanlah keinginannya. Dirinya lebih memilih memimpin pesantren yang keilmuannya itu telah diwariskan ayah dan gurunya.

 

Pengaruh Kiai As’ad tentu membuat cemas para penguasa Orde Baru yang represif dan otoriter. Sehingga segala cara dilakukan untuk melemahkan NU. Melihat keadaan sepert ini membuat para ulama NU mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama yang bertempat di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo.

 

Pada 1983 Munas menyatakan bahwa NU menerima Pancasila dan melakukan revitalisasi Khittah 1926. Gagasan ini dikemukakan oleh KH Achmad Shiddiq yang langsung disetujui Kiai As’ad karena dapat menjadi pukulan telak bagi penguasa Orde Baru yang hendak membubarkan NU dengan dalih tidak menerima Pancasila.

 

Dari perjuangan di bidang politik, pada 3 November 2016 dianugrahi gelar sebagai pahlwan nasional berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) RI No: 90/TK/Tahun 2016.

 

Sosok dengan Karamah Terbaik

Sebagai seorang kiai dan ulama besar, Kiai As’ad tidak hanya menguasai ilmu dari guru dan kitab. Juga menguasai ilmu yang dianggap oleh masyarakat sebagai ilmu gaib. Muridnya berasal dari kaum bromocorah (preman,brandalan) yang mendalami ilmu kanugrahan, yaitu ilmu kekebalan tubuh. Ketika sesama mereka dibekali oleh sebuah pedang dan celurit untuk saling bacok, tidak ada dari mereka yang cidera sedikit pun.

 

Salah satu dari muridnya yang bernama Mabruk dulunya seorang preman yang kemudian bergabung pada laskar Pelopor untuk menghadapi pasukan penjajah, beberapa hari telah mendalami ilmu kanugrahan tersebut beserta silat. Ia juga disuwuk (ditiup dengan doa) oleh Kiai As’ad. Kemampuannya dibuktikan ketika perjalanan di daerah Dabasah yang merupakan tempat gudang senjata para penjajah. Dengan izin Allah, pasukan laskar Pelopor berhasil mengambil 24 pucuk senjata dan sejumlah amunisi tanpa mendapatkan perlawanan sedikit pun. Dengan ilmu gaib yang telah dibekalkan ke pasukan laskar Pelopor tersebut oleh kiai As’ad, mereka mampu masuk gudang tanpa terlihat oleh pasukan penjajah.

 

Dan KH As’ad Syamsul Arifin wafat pada 4 Agustus 1990 di Situbondo pada usia 93 tahun. Alfatihah.

Iklan Hari Pahlawan