Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Mengenang Kepergian Kiai Habib Ahmad Tebuireng

Mengenang Kepergian Kiai Habib Ahmad Tebuireng
Almaghfurlah KH Habib Ahmad saat membacakan sanad kitab Shahih Bukhari. (Foto: NOJ/Faozan)
Almaghfurlah KH Habib Ahmad saat membacakan sanad kitab Shahih Bukhari. (Foto: NOJ/Faozan)

Oleh: Ahmad Faozan*

 

"Selama di rumah, seorang santri harus menjaga tiga hal. Pertama, shalat jamaah lima waktu. Kedua, membaca al-Qur'an. Ketiga, patuh terhadap orang tua." Demikianlah salah satu pesan yang pernah disampaikan almukarram Kiai Habib Ahmad.

 

Wajahnya sangat menyejukan. Kiai ahli hadits ini kalau sudah duduk bersila menghadap ke barat di tempat yang dahulu kabarnya KH M Hasyim Asy’ari mengajar santri terlihat penuh wibawa. Kita bisa membayangkan ke mana-mana. Tempat duduk yang sangat keramat itu memang tidak sembarangan bisa diduduki. Dalam pengertian hanya kiai dan santri hebat yang pantas duduk di tempat itu untuk mengajar santri.

 

Kiai Habib Ahmad setelah tamat belajar di Pesantren Tebuireng tidak tinggal di daerah sekitaran pesantren sebagaimana para abdi pesantren lain. Jarak rumahnya dengan Tebuireng lumayan jauh. Akan tetapi, meski tidak tinggal di dalam lingkungan pondok, namun soal waktu sangat disiplin. Sudah mencari ciri khas murid Kiai Idris Kamali yang sangat menghargai waktu. Begitu pun dengan KH Salahuddin wahid (Gus Sholah) yang dikenal sangat tepat waktu.

 

Selanjutnya, Kiai Kamuli Chudori yang sekarang masih sugeng (semoga diberi kesehatan, amin) dan yang menggantikan peran Kiai Habib Ahmad juga sangat tekenal sangat disiplin waktu. Kalau mengaji ke beliau selain wajib baca sendiri, apa pun kitabnya, juga harus menghafal. Jarang sekali beliau meliburkan mengaji meskipun hujan deras misalnya. Selalu datang ke pondok. Itulah yang pernah saya amati selama ikut mengaji. Datang terlambat, juga sama sekali tidak terlihat.

 

Selama ini KH Habib Ahmad merupakan salah seorang yang dikenal sebagai santri senior Pesantren Tebuireng yang ikut berkontribusi terhadap almamater yang didirikan oleh KH M Hasyim Asy'ari. Setelah lulus dari Madrasah Aliyah pada tahun 1967 melanjutkan belajar di bawah bimbingan KH Idris Kamali di Pesantren Tebuireng.

 

Saat mengaji kepada Kiai Idris Kamali, sering membawakan kitab gurunya. Kiai Idris Kamali sangat mempengaruhi kepribadian dan intelektual seorang Kiai Habib Ahmad. Banyak kitab yang hafal dan dikaji secara mendalam. Maklum, semua kitab yang mau dingajikan kepada Kiai Idris Kamali, para santri harus membaca sendiri dan menghafalkan. Sedangkan kiainya hanya menyimak bacaan, menerima setoran, dan memberikan penjelasan secara mendalam.

 

Belajar di bawah bimbingan Kiai Idris Kamali juga mewajibkan santrinya shalat berjamaah, puasa sunnah, dan selalu aktif saat pengajian. Bila ketahuan ada yang berhalangan hadir, maka wajib meminta maaf kepada orang tua. Jika tidak, maka tidak segan bagi kiai untuk manakzir bahkan mengeluarkan. Belajar disiplin amat ditekankan.

 

KH Habib Ahmad belajar di Pesantren Tebuireng cukup lama. Khusus kepada Kiai Idris Kamali belajar selama 7 tahun. Kitab Shahih Bukhari dan Muslim pernah dibacakan di depan gurunya itu. Serta masih banyak kitab hadits dan lainnya yang dikhatamkan.

 

Kiai Habib Ahmad bisa nyantri di Tebuireng merupakan salah satu mimpi dari kedua orang tuanya yang berasal dari desa sebelah, Watugaluh, baratnya Keras, Jombang. Beliau sendiri seorang yang sangat gigih dan tekun dalam belajar saat muda.

 

Kiai Habib tidak menyangka akan meneruskan tradisi membaca kitab Shahih Buhkari Muslim di Pesantren Tebuireng menggantikan gurunya, Kiai Syansuri Badawi tokoh sebelum beliau.(sebelum Kiai Syansuri, sempat almarhum Gus Ishom meski sebentar). Tradisi yang dimulai sejak era Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari hingga sekarang terus berjalan.

 

Alkisah, sekitaran tahun 1973, almarhum KH Yusuf Hasyim datang ke rumah Kiai Habib Ahmad di Perak, Jombang. Beliau meminta untuk membaca kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Dalam keterangan lainnya, beliau sendiri juga bercerita, pernah bermimpi didatangi Kiai Idris Kamali. Tentu saja, saat itu sempat membuat hatinya tersentuh, dan bertanya dalam diri, ada apa ini. Apalagi, bagi kita yang santri kemarin sore, kadang memang dipanggil kiai baik di dalam alam nyata maupun alam mimpi sering bikin bertanya-tanya, ada firasat apa ya?

 

KH Habib Ahmad tidak bisa menolak perintah Kiai Yusuf Hasyim. Dan beliau juga menduga inilah tanda mimpi kunjungan Kiai Idris Kamali ke rumahnya saat dalam mimpi. Sebelum memulai pengajian kitab Shahih Bukhari Muslim menjelang Ramadhan, beliau selalu tirakat terlebih dahulu. Beliau mendekatkan kepada Allah dengan cara berpuasa selama beberapa hari dan memohon keberkahan ilmu kepada Allah. Tak lupa, juga selalu berkirim Alfatihah kepada Mbah Hasyim dan masyayikh lain.

 

Usahanya itu membuahkan hasil. Kata beliau, selain dapat istikamah, juga diberikan pengetahuan dari Allah SWT. Saat pengajian semua lancar, tidak ada kesulitan mengartikan teks dan menjelaskan isi kitab.

 

KH Habib Ahmad juga tercatat sebagai salah satu kiai yang diajak KH Salahuddin Wahid, Gus Sholah untuk merintis mendirikan Madrasah Mualimin Hasyim Asy'ari. Lembaga pendidikan yang khusus berkonsentrasi kitab kuning ini secara resmi berdiri pada tahun 2008. Di Mualimin ini masa belajar 6 tahun. Materinya semua kitab kuning. Masa awal hanya beberapa santri, lima belasan yang mendaftar, kini sudah tiga ratusan kurang lebih jumlahnya, dan semua pelajar dan pengajarnya, laki-laki tidak ada perempuannya.

 

Madrasah Mualimin tentu kini nampak besar baik dari segi jumlah santri dan gedungnya dibandingkan tahun 2008-2009. Setelah enam tahun mendalami kitab kuning diharapkan lulusannya kalau melanjutkan belajarnya di Ma’had Aly Tebuireng.

 

Kiai Habib Ahmad selain tercatat sebagai pendiri, juga dewan pengajarnya bersama kiai sepuh lain, seperti KH Abdul Hakam, dan lainnya kala itu. Jauh sebelum mengajar di Mualimin, juga mengajar di Madrasah Aliyah dan lainnya di lingkungan Pesantren Tebuireng.

 

Semasa KH Habib Ahmad nyantri di Pesantren Tebuireng satu kelas dengan KH M Ishak Latif. Kepada teman sekelasnya beliau menganggapnya bukan sekadar kawan, namun juga guru.

 

Pada tahun belakangan ini, pengajian kitab Shahih Bukhari Muslim seterusnya dipercayakan kepada Kiai Kamuli Chudori. Sosok kiai yang lebih muda secara usia dan masih kelihatan segar. Kiai Kamuli teman satu kamar dengan Prof Ali Musthofa Yakub, ahli hadits, juga merupakan santri Kiai Idris Kamali generasi akhir. Karena faktor usia dan kesehatanlah yang membuat Kiai Habib berhenti mengisi pembacaan kitab hadits yang monumental dan telah berlangsung bertahun-tahun.

 

Sabtu siang, 26 September 2020 Kiai Habib Ahmad dipanggil Sang Khalik. Udara yang siang tadi terasa sangat panas tiba-tiba rahmat Allah yang berupa hujan turun ke bumi. Suasana pun berubah menjadi sejuk. Selama jalan, pak kiai. Semoga mendapatkan ampunan dan kedudukan mulia di sisi Allah SWT. Kagem Kiai Habib Ahmad, alfatihah.

 

Pernah nyantri di Pesantren Tebuireng, Jombang.

Iklan Hari Pahlawan