Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Mengintip Buku-buku Favorit Pangeran Diponegoro

Mengintip Buku-buku Favorit Pangeran Diponegoro
Lukisan yang menggambarkan akhir perlawanan Pangeran Diponegoro. (Foto: NOJ/TWi)
Lukisan yang menggambarkan akhir perlawanan Pangeran Diponegoro. (Foto: NOJ/TWi)

Hari ini, 28 Maret, 191 tahun silam, Pangeran Diponegoro disergap, dikhianati di rumah perundingan di Magelang. Pada bulan Syawal saat itu, di tengah kesepakatan tidak membawa pasukan dan peralatan tempur lengkap, sang pangeran datang, dengan hanya dikawal beberapa orang saja. Penangkapan Diponegoro dilukis dengan format yang berbeda.

 

Nicolas Pieneman, pelukis Belanda, menggambarkan ekspresi sang pangeran yang pasrah diiringi dengan isak tangis para prajurit pengawal. Di belakangnya, Jenderal Hendrik Merkus de Kock tampak pongah. Di belakang gedung, bendera Merah Putih Biru berkibar dengan angkuh. Ini jelas perspektif kolonial. Lukisan bertarikh 1835 ini ditandingi dengan corak berbeda oleh Raden Saleh Bustaman. Dia melukiskan peristiwa ini dari sudut pandang pribumi. Diponegoro dilukiskan dengan wajah ksatria, menatap de Kock dengan penuh amarah, tangan kirinya terkepal, dan sama sekali tidak disertakan bendera triwarna Belanda. De Kock dan perwira disampingnya bahkan dilukis dengan ukuran kepala lebih besar dari lazimnya. Ya, Raden Saleh melukis dengan antipati. Lukisan cat minyak di atas kanvas ini diselesaikan Raden Saleh pada 1856. Perspektif seni lukis yang menunjukkan sudut pandang kaum pribumi yang bergolak. Para seniman lukis serta kurator memberi makna atas dua lukisan ini dengan sudut pandang yang menarik.

 

Bagi pihak penjajah, Perang Jawa (1825-1830) adalah medan perang mengerikan karena membuat bangkrut pihaknya dan menyebabkan ribuan serdadu koalisi Eropa berkalang tanah di Jawa. Saat itu, Diponegoro didukung oleh barisan bangsawan, milisi lokal (Jawa, Madura, Bali, dan Bugis), serta ribuan santri dan ratusan ulama. Faktor terakhir ini yang membuat Belanda pusing, sebab mereka sadar keberadaan ulama di jantung masyarakat akan membuat bara perlawanan terhadap kolonialisme tetap menyala.

 

Dalam karyanya, Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855, Peter Carey menulis, kurang lebih ada 108 kiai, 31 haji, 15 syekh, 12 penghulu Keraton Yogyakarta, dan 4 kiai-guru (mursyid tarekat) yang turut berperang bersama Diponegoro. Yang paling terkenal tentu saja Kiai Mojo, ideolog Perang Jawa yang banyak disebut sebagai penasehat spiritual-intelektual sang pangeran. Menurut sejarawan asal Inggris yang telah meneliti perjuangan Pangeran Diponegoro sejak 35 tahun silam itu, dukungan dari para ulama datang karena sejak kecil Diponegoro sering mengunjungi berbagai pesantren di wilayah Yogyakarta, serta ditempa secara spiritual oleh nenek buyutnya, Ratu Ageng, yang dikenal salehah.

 

Nenek buyut Diponegoro ini selain dikenal sebagai perempuan yang memiliki pengetahuan agama Islam, juga dihormati karena keperkasaannya saat mendampingi sang suami, Sultan Hamengku Buwono I ketika berjuang menghadapi Belanda selama Perang Giyanti (1746-1755). Ratu Ageng, yang suka membaca kitab berbahasa Arab dan Jawa, juga menjadi komandan pertama barisan perempuan pengawal raja alias korps prajurit estri, satu-satunya formasi militer yang membuat Daendels terkesan manakala berkunjung ke keraton ini pada Juli 1809. Demikian tulis Peter Carey dalam karyanya yang lain, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855). Carey menengarai, didikan dari perempuan hebat inilah yang membuat Raden Mas Ontowiryo—nama kecil Diponegoro-- mampu berpikir kritis menyikapi dominasi Belanda di keraton Yogyakarta serta membuatnya mampu mengenal dekat jejaring para ulama di wilayah Mataram. Kelak, jaringan inilah yang menopang perjuangan Diponegoro. Sebagian dari mereka berdampingan dengan kelompok bangsawan di kesatuan tempur Diponegoro. Demikian tulis Zainul Milal Bizawie dalam Jejaring Ulama Diponegoro: Kolaborasi Santri dan Ksatria Membangun Islam Kebangsaan Awal Abad ke-19.

 

Tulisan ini tak hendak mengupas penyebab, kronologi, dan hal ihwal Perang Jawa, namun pada bacaan-bacaan yang memperkaya khazanah keilmuan sang pangeran di masa mudanya hingga kelak selain mampu memimpin Perang Jawa, juga piawai menuliskan otobiografinya dalam Babad Diponegoro.

 

Raden Mas Ontowiryo: Pembaca dan Penulis yang Baik

Di masa mudanya, Raden Mas Ontowiryo memiliki selera keilmuan yang tinggi dibandingkan dengan bangsawan lainnya. Ratu Ageng—yang merupakan keturunan Sultan Abdul Qahir, dari Bima—sejak awal memilih menyingkir dari keraton yang semakin kuat intrik dan konflik di dalamnya. Ia memutuskan tinggal di sebuah kawasan yang membuatnya leluasa memperdalam ilmu agama di usia senja, menjauh dari hiruk pikuk politik, dan secara khusus mengkader Ontowiryo. Tempat tinggalnya di Tegalrejo didesain dengan unik dan khas. Di saat rumah bangsawan Jawa dibangun menggunakan kayu, rumah Ratu Ageng terbuat dari susunan batu yang rapi, disertai dengan bangunan untuk para pembantu, gudang, lumbung, semacam bangsal luas untuk menampung peserta diskusi. Para ulama kerap diundang untuk bermusyawarah di bangsal yang luas. Pohon-pohon buah juga ditanam mengelilingi bangunan utama yang dilindungi tembok batu. Bahkan, usai Ratu Ageng mangkat, Ontowiryo lebih leluasa lagi merenovasi dan memperluas bangunannya, semata-mata agar para ulama dan santri pengelana bisa lebih leluasa berdoa, belajar, dan berdiskusi.

 

Ratu Ageng yang merupakan cucu ulama terkemuka, Ki Ageng Datuk Sulaiman Bekel Jamus benar-benar mendidik cicitnya agar senantiasa dekat dengan rakyat, mencintai ilmu, menghormati ulama, serta menempanya sebagai calon negarawan. Ratu Ageng juga telah mendorong para tokoh agama di Yogyakarta agar mengambil tempat di Tegalrejo. Di antara mereka ada penghulu Kiai Muhammad Bahwi, yang kelak dalam Perang Jawa dikenal sebagai Muhammad Ngusman Ali Basah. Sebelumnya ia mengabdi sebagai ketua forum ulama Masjid Suranatan (masjid pribadi Sultan). Tokoh lainnya adalah Haji Badaruddin, komandan korps Suranatan yang sudah dia kali naik haji atas biaya keraton dan memiliki pengetahuan tentang sistem pemerintahan Turki Usmani.

 

Semakin kuatnya dominasi Inggris dan Belanda di Kesultanan Yogyakarta, pada akhirnya justru menjadikan Tegalrejo sebagai sebuah markplaats, yaitu tempat “menjual dan membeli” gagasan, konsep ideologi, politik, kenegaraan, budaya, militer, rencana strategi dan aksi; tempat berkumpulnya pemimpin masyarakat ketika di Kesultanan Yogyakarta terjadi kekosongan kepemimpinan, serta tempat Ontowiryo alias Diponegoro memperoleh basis legitimasinya melalui pemufakatan sukarela dari kelompok yang berkepentingan. Demikian tulis Saleh As’ad Djamhari dalam Strategi Menjinakkan Diponegoro: Stelsel Benteng 1827-1830 (Komunitas Bambu, 2014: 30).

 

Di usia yang masih belum genap 20 tahun, Diponegoro mulai mempelajari berbagai cabang keilmuan. Dalam bidang fiqh, dia mempelajari Taqrib karya Abu Syuja’ al-Isfahani. Salinan kitab fiqh favorit sang pangeran ini bahkan masih disimpan di Museum Pengabdian Pangeran Diponegoro di Magelang, tempat sang pangeran dikhianati 191 tahun silam. Selain kitab ini, ada pula mushaf al-Qur’an, dan jubah sang pangeran, yang ditempatkan di lemari khusus, berdampingan dengan seperangkat kursi dan meja tempatnya berunding dengan para jenderal Belanda.

 

Selain Taqrib, Diponegoro juga mempelajari al-Muharrar-nya Imam Ar-Rafi’i (w. 623 H/1226 M) dan Lubab al-Fiqh karya al-Mahamili (w. 415 H/1024 M). Di sisi lain, dia juga belajar Fath al-Wahhab karya Zakariyya al-Anshari (w. 926 H). Ketika pada akhirnya bergerilya, Diponegoro mengajarkan Taqrib dan juga kitab politik At-Tibr al-Masbuk fi Nas}ihat al-Muluk karya Imam al-Ghazali, kepada para bangsawan pendukungnya. Sedangkan Kiai Mojo, penasihatnya, kebagian tugas mengajarkan Fath al-Wahhab kepada para laskar ulama. “Bahkan, kitab fiqh ini dijadikan sebagai rujukan dalam bernegosiasi dengan kompeni Belanda saat mengajukan perundingan damai.” tulis Ahmad Baso dalam Islam Nusantara: Ijtihad Jenius dan Ijma’ Ulama Indonesia (Jakarta: Pustaka Afid, 2015: 71).

 

Di bidang politik, Pangeran Diponegoro menggunakan kitab Taj al-Salatin karya Bukhari al-Jauhari, seorang keturunan Persia yang mengabdi di era Sultan Sayyidil Mukammil ((1588-1604). Kitab yang diselesaikan pada 1603 ini berisi etika menjalankan pemerintahan bagi para birokrat. Termasuk, ada riwayat jika Sang Pangeran di masa mudanya mempelajari karya Syekh Nurruddin Ar-Raniri, berjudul Bustanus Salatin. Karya sebanyak tujuh jilid yang dinilai oleh Azyumardi Azra sebagai referensi yang tak tergantikan dalam merekonstruksi sejarah awal Islam di wilayah Melayu-Indonesia (Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVII: Akar Pembaharuan Islam Indonesia, hlm. 228). Selain dua karya di atas, ada juga kitab berbahasa Melayu yang dirujuk oleh sang pangeran. Judulnya Sulalat al-Salatin. Karena terkesan dengan beberapa kitab ini, ia kemudian merekomendasikannya kepada adiknya, calon Sultan Hamengkubuwono IV, manakala sedang ditempa di keraton.

 

Selain itu, Diponegoro mulai menyukai tasawuf dengan mengagumi kitab Topah alias al-Tuhfat al-Mursalah ila Ruh an-Nabi karya Muhammad bin Fadlullah al-Burhanpuri, India. Jadi, kitab Topah ini bercorak tasawuf dan banyak digunakan dalam penguatan ruhaniah pengikut Tarekat Syattariah yang saat ini berada di keraton. Dengan demikian, kitab Topah yang disebutkan dalam Babad Diponegoro adalah karya al-Burhanpuri, bukan Tuhfat al-Muhtaj-nya Imam Ibn Hajar al-Haitami, bukan pula Tuhfat at-Thullab karya Imam Zakariya al-Anshari maupun Tuhfat al-Habib al-Bujairimi, dimana ketiganya merupakan corak kitab fiqh.

 

Di samping mempelajari kitab-kitab di atas, pangeran juga mempelajari etika seorang negarawan dan ketatanegaraan yang diadopsi dari karya klasik Arab dan Persia seperti At-Tibr al-Masbuk fi Nas}ihat al-Muluk karya Imam al-Ghazali.

 

Sebagai bangsawan Jawa, Diponegoro juga menyukai karya adaptasi klasik seperti Bharatayudha, Serat Rama, Bhoma Kawya, Arjuna Wijaya, dan Arjuna Wiwaha. Catatan ini disebutkan dalam Babad Kedungkebo. Naskah ini ditulis oleh Cokronegoro I, Bupati Purworejo pertama, sahabat Pangeran Diponegoro saat berguru kepada Kiai Taftazani (Taptojani), dan lantas menjadi menjadi lawannya dalam Perang Jawa. Cokronegoro I yang memihak Belanda telah menjadi 'pemandu jalan' dalam gerilya di wilayah Bagelen (1825-2830). Ia dibantu Basah Abdullatif Pangalasan, salah satu komandan laskar Diponegoro yang menyerah, dalam proses menulis Babad Kedungkebo yang berisi lika-liku Perang Jawa versi dirinya dan Belanda, dan menjadi manuskrip penting selain Babad Diponegoro yang ditulis oleh Sang Pangeran. Keren sekali, detail Perang Jawa yang ditulis oleh dua lelakon penting.

 

Selain itu, teks lain yang diajarkan kepada sang pangeran adalah Joyo Lengkoro Wulang yang salinannya pernah ditemukan di markas besar pasukannya di Goa Selarong pada Oktober 1825. Naskah berbahasa Jawa ini menjelaskan aspek-aspek kenegarawanan dalam bentuk kisah seorang pangeran muda yang berkelana (lelono) ke seluruh Jawa dan berjumpa dengan banyak guru sekuler, guru agama, dan guru mistik. Menurut Peter Carey, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855) (Kompas: 2014, 32) ini adalah teks yang memiliki daya tarik universal di antara elit keraton, yang menjadi lambang cita-cita pendidikan ideal bagi para ksatria muda.

 

Luasnya bacaan sang pangeran, dari naskah berbahasa Arab, Melayu dan Jawa klasik pada akhirnya membuktikan apabila dia adalah bangsawan yang memiliki cita rasa kosmopolitan. Sebagai santri, dia melahap referensi berbagai jenis dalam bahasa Arab. Sebagai bangsawan yang menobatkan dirinya Sang Erucakra, dia mengunyah karya klasik berbahasa Melayu, yang ditulis para pujangga di era Kesultanan Aceh. Sedangkan sebagai orang Jawa, dia mempertautkan jiwanya pada karya-karya pujangga kraton Jawa yang melakukan adaptasi karya klasik India. Dengan kemampuan seperti ini, tidak mengherankan jika dia memiliki racikan tulisan yang mumpuni dalam mengulas otobiografi dirinya, kronologi perang yang dia pimpin, beserta penjelasan tasawuf berbasis Tarekat Naqsyabandiyah dalam Babad Diponegoro, sebuah karya yang dia tulis ketika diasingkan di Manado dan Makassar. Karya ini ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan ingata dunia atau memory of the world, pada 2013 silam.

Wallahu a’lam bisshawab.

 

Rijal Mumazziq Z adalah Rektor Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Jember dan mahasiswa program doktor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. 

PWNU Jatim