Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Mengulik Tradisi ‘Dhemar Kambeng’ di Madura

Mengulik Tradisi ‘Dhemar Kambeng’ di Madura
'Dhemar Kambeng' yang masih mentradisi di Madura. (Foto: NOJ/Firdausi)
'Dhemar Kambeng' yang masih mentradisi di Madura. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Kebanyakan penyebar agama Islam di Nusantara mengawinkan kebiasaan-kebiasaan lokal yang berlaku di tengah masyarakat dengan nilai-nilai Islam. Dengan begitu Islam mudah diterima. Produk-produk budaya bikinan para penyebar Islam ada yang sudah punah, tapi juga masih ada yang lestari. Salah satunya tradisi ‘Dhemar Kambeng’ di Madura.

 

Dalam bahasa Madura, ‘Dhemar Kambeng’ berarti lentera menyala yang mengambang. Dalam praktik, lentera lentera dibuat dengan sumbu mengambang di atas minyak. ‘Dhemar Kambeng’ biasanya dipakai sebagai pelengkap setiap hajatan yang digelar warga di Madura. Anda bisa menemukan tradisi ini di Kabupaten Sumenep.   

 

Salah satu tokoh muda di Sumenep, Ra Ahmad Herzi, menjelaskan, ‘Dhemar Kambeng’ sering dijadikan pelengkap di acara perkawinan, pelet betteng atau tingkepan, selamatan, khataman, dan sejenisnya. Yang sering lumrah dilihat oleh warga, bentuknya sebuah lentera yang menyala dengan sumbu mengambang di atas air atau minyak.

 

Filosofi dari ‘Dhemar Kambeng’ itu adalah agar putra-putri penggelar hajatan yang menikah, bayi di dalam kandungan atau anak yang khatam Al-Qur’an bisa memberikan cahaya pada keluarga dan menyinari kehidupan sosial, atau dalam bahasa Madura disebut tera’ atenah (hatinya bercahaya atau bersih).

 

“Isi yang ada di atas nampak adalah bunga tujuh rupa, sisir, kaca, beras atau nasi, telur, pisang, dan jajanan pasar tradisional. Di tambah lagi dengan Dhemar Kambeng,” Ra Herzi saat ditemui NU Online Jatim di acara pernikahan, Ahad (12/9/2021).

 

Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qorarul Makien Prenduan, Pragaan, Sumenep, itu menambahkan, makna dari kembang tujuh rupa itu adalah kelak akan memberi keharuman dalam rumah tangga, dan keturunan memberikan citra yang baik bagi keluarga dan agamanya. Untuk acara pelet betteng, ditambah dengan kelapa agar keturunannya sempurna atau memiliki rambut yang lebat (anggota badannya lengkap).

 

Ritual ini dilakukan memiliki maksud dan tujuan, yakni ‘maberkat’ atau untuk keberkahan. “Warga yang memiliki hajat pasti tamunya banyak. Untuk memberikan keberkahan, maka ritual itulah yang mensakralkan acara,” ungkap Ra Herzi.

 

Pengurus Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama Sumenep, Kiai Muhammad Tibyan menegaskan, tradisi tersebut sudah ada sejak nenek moyang. Bersemai, mendarah daging dalam diri masyarakat, dan menjadi kekuatan atau kepercayaan warga.

 

Tradisi ‘Dhemar Kambeng’ bagian dari akulturasi budaya yang dilakukan oleh Wali Songo saat mensyiarkan Islam di Nusantara.

 

“Islam hadir di Nusantara di tengah-tengah adat istiadat yang berkembang di masyarakat. Tradisi yang baik dipertahankan oleh kanjeng wali dan dimasuki nilai-nilai keislaman. Model ini menghasilkan kekhasan atau Islam Nusantara,” ujar Kiai Tibyan.

 

Editor: Nur Faishal


Editor:
F1 PWNU Jatim