Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Menyekutukan Allah merupakan Dosa Terbesar Makhluk

Menyekutukan Allah merupakan Dosa Terbesar Makhluk
Suasana ngaji kitab di salah satu pesantren. (Fotyo: NOJ/Mdm)
Suasana ngaji kitab di salah satu pesantren. (Fotyo: NOJ/Mdm)

Tulungagung, NU Online Jatim

Setiap pagi, santri Pondok Pesantren Manba’ul Ulum, Tunggulsari, Kedungwaru Tulungagung menerima materi pengajian  kitab Tafsir Jalalain karangan Syekh Jalaludin as-Suyuti dan Jalaludin al-Mahali. Yang istimewa, kajian diampu langsung oleh KH Khoirul Huda selaku pengasuh pesantren.

 

Kajian dipusatkan di serambi masjid setiap pagi, tepatnya pukul 07.00 WIB, kecuali Jumat. Dan pada Sabtu (19/12/2020), yang dibahas adalah surat Qof. Pengasuh menjelaskan tafsir tersebut di depan santri yang memegang kitab masing-masing.

 

Dijelaskan bahwa bangsa Yahudi menganggap tuhan membutuhkan istirahat, sama seperti mereka. Dan waktu yang digunakan tuhan adalah Sabtu. Karena itu, mereka menggunakan hari tersebut sebagai hari raya.

 

“Padahal seperti yang diketahui bahwa Tuhan tidak seperti makhluk yang membutuhkan istirahat,” kata KH Khoirul Huda.

 

Disampaikan bahwa Tuhan sangat tidak menyukai hamba yang menyekutukan, apalagi menyamakan dengan yang telah diciptakan.

 

“Sama halnya manusia telah memberi segala yang dibutuhkan oleh temannya akan tetapi yang bersangkutan menganggap bahwa ada hal yang dapat menyamai permberian itu. Jadi, secara otomatis orang yang memberi tersebut akan merasa kesal dengan temannya,” jelasnya.

 

Disampaikan bahwa Allah sangat membenci hamba yang berbuat syirik, bahkan jangan berharap akan mendapat ampunan jika tidak benar-benar bertobat. “Karena itu Allah membenci umat yang menyembah selain Dia. Terlebih lagi apa yang disembah tidak bisa berbuat apa-apa,” ungkapnya.

 

Lebih jauh dijelaskan bahwa jika tuhan butuh istirahat, lalu apa bedanya dengan mahluk? Demikian pula, hal tersebut tentu saja akan menyulitkan manusia jika membutuhkan tuhan.

 

“Jika istrimu hendak melahirkan lalu berdoa, tetapi tuhan masih istirahat. Terus bagaimana nasib istrimu?” katanya balik bertanya.

 

Di hadapan puluhan santri yang menyimak keterangan pengajian, KH Khoirul Huda mengemukakan bahwa Allah tidak sama dengan makhluk. Sehingga tidak membutuhkan istirahat. Kalaupun hendak menciptakan sesuatu, cukup dengan berfirman 'kun', dan yang diinginkan akan terwujud.

 

Akan tetapi jika dibandingkan dengan sikap orang kafir pada masa Rasul, maka sikap mereka lebih parah. Bahwa dahulu ada golongan orang kafir yang lebih parah daripada orang kafir Quraish.

 

“Karenanya, Nabi Muhammad diperintah Allah untuk sabar dalam menghadapi sikap maupun perkataan kaumnya tersebut,” tegasnya.

 

Pada ayat berikutnya dijelaskan bahwa Allah Maha Suci. Karena itu untuk mendapat kesucian tersebut, maka cara yang dapat dilakukan hamba dengan memuji serta melakukan yang diperintahkan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menegakkan shalat lima waktu.

 

“Maha menyucikan ada yang memaknainya sebagai perintah untuk melakukan shalat sebelum keluarnya fajar. Akan tetapi ada juga yang menafsirkan sebagai membaca tasbih,” jelas KH Khoirul Huda.

 

Di bagian lain ayat tersebut menjelaskan tentang perkataan Malaikat Isrofil. Bahwa tempat yang bagus dari bumi itu berasal dari langit yaitu batu Baitul Muqadas.

 

“Sesungguhnya suatu hari nanti Allah akan memerintahkan kepada hamba-Nya untuk berkumpul di suatu tempat karena akan memutuskan hukum atas segala amal perbuatannya ketika di dunia,” terangnya.

 

Dijelaskan juga bahwa waktu dikumpulkannya manusia setelah bangkit dari kubur, ataupun saat tiupan terompet yang kedua setelah pertanda hari kiamat.

 

“Sesungguhnya Allah mampu menghidupkan dan mematikan segala ciptaan-Nya, kemudian menghidupkan lagi,” katanya

 

Di akhir penjelasan dikemukakan bahwa seluruh makhluk yang dihidupkan kembali akan bangkit dari kubur secara cepat. Dan di hari kiamat, manusia akan dibedakan berdasarkan kelompok sesuai perbuatan. Tentu saja Allah Maha Mengetahui perbuatan mereka ketika di dunia.

 

“Allah berkuasa atas segala takaran keimanan hamba-Nya, sehingga akan memutuskan hukuman yang layak bagi setiap mahluk,” pungkasnya.

 

Penulis: Soheb Nurhafid

Editor: Syaifullah


Editor:
F1 Promosi