Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Merawat NKRI Bersama KH Marzuki Mustamar

Merawat NKRI Bersama KH Marzuki Mustamar
Buku yang menggambarkan pemikiran Kiai Marzuki Mustamar. (Foto: NOJ/Istimewa)
Buku yang menggambarkan pemikiran Kiai Marzuki Mustamar. (Foto: NOJ/Istimewa)

“Kita sadar bahwa kita ini bersujud di Indonesia, dilahirkan di Indonesia, mencari nafkah di Indonesia, semua yang dilakukan berada di Indonesia, maka secara otomatis kita harus menjaga NKRI.”

 

Kutipan dari pernyataan KH Marzuki Mustamar ini terdapat di dalam buku Kenapa Harus NKRI (Menelisik Faham Nasionalis KH Marzuki Mustamar). Secara sederhana juga akan menjawab dari judul buku itu sendiri, bahwa kita yang dari lahir sudah menghirup udara, makan, minum, dan belajar dengan nyaman di Indonesia. Maka otomatis juga harus mempertahankan NKRI itu sendiri, ketika ada paham yang berusaha mengikis nilai nasionalisme dan keutuhan bangsa.

 

Sosok bersahaja yang sekarang menjabat sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini, terlahir dari keluarga yang taat beribadah. Di bawah asuhan dan pengawasan langsung dari orang tuanya, Kiai Mustamar dan Nyai Siti Jainab, banyak belajar ilmu agama. Bahkan, sejak kelas empat sekolah dasar, sudah menimba ilmu nahwu, sharaf, tasawuf, dan kepada Kiai Ridwan.

 

Tidak berhenti di situ, masih banyak belajar ilmu lain seperti balaghah, mantiq dan hadits kepada ulama di Blitar, seperti kepada Kiai Hamzah, Kiai Abdul Mudjib, dan Kiai Hasbullah Ridwan. Proses pengembaraan selama di Blitar adalah sampai selesainya sekolah di bangku madrasah aliyah, di saat yang sama pula juga sudah mengkhatamkan kitab Hadits Muslim dan kitab-kitab lain.

 

Perjalanan pendidikannya pun dilanjutkan ke jenjang universitas di IAIN Malang (sekarang menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang). Tidak hanya kuliah, juga nyantri kepada KH Masduqi Mafudz di Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono.

 

Di pesantren inilah mendapat banyak pengalaman mengajar karena mendapatkan amanah dari Kiai Masduqi, atas kecerdasannya yang di atas rata-rata. Marzuki muda juga sering mendampingi Kiai Masduqi untuk pengajian dan rapat organisasi kemasyarakatan. Belum lagi saat menjadi mahasiswa juga sering memberikan kursus nahwu kepada mahasiswa yuniornya.

 

Bagi Kiai Marzuki, konsep nasionalisme sebagai fungsinya untuk membela negara adalah wajib. Maka, tugas sebagai bangsa dan negara yang hidup pasca kemerdekaan menurutnya ada empat; Pertama, melakukan hal yang bermanfaat, karena saat dijajah masyarakat tidak bisa melakukan suatu hal dengan bebas.

 

Kedua, belajar dengan tekun untuk bisa mandiri dan tidak disetir oleh orang asing, baik dalam bidang ekonomi maupun pendidikan.

 

Ketiga, ngaji dengan giat. Agar kaderisasi ulama dan kiai tidak berhenti. Keempat, berharap negara Indonesia aman, tidak terpecah belah dan menuju Indonesia yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

 

Tepat di malam menjelang hari kemerdekaan ke-72 RI, Kiai Marzuki menciptakan shalawat yang berisi tentang shalawat dan doa agar Indonesia tetap dijaga kedamaian, keamanan, dan ketentraman. Hal ini didengung-dengungkan di pengajian, wujud kecintaan kepada tanah air juga ditumpahkan ke dalam sebuah shalawat Indonesia tersebut.

 

Tiada lelah Kiai Marzuki Mustamar banyak memberikan teladan untuk tetap cinta Tanah Air dan mengedepankan toleransi dalam hidup di tengah keberagaman dan keberagamaan, sebagaimana yang sudah banyak dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

 

Berkaca pada masa pemerintahan Nabi Muhammad di Madinah dengan masyarakatnya yang majemuk dan masih tetap bisa berdampingan dengan harmonis. Dan hal ini dibuktikan dengan dokumen yang masyur, Shahifatu al-Madinah (piagam Madinah).

 

Buku ini karya tiga penulis yang merupakan santri Kiai Marzuki. Mereka mampu merefleksikan dan menuangkan pemikiran Kiai Marzuki Mustamar ke dalam bentuk yang sederhana, sehingga mudah dan ringan untuk dibaca.

 

Melalui karya Kiai Marzuki Mustamar yang berjudul al-Muqtathafat li Ahl al-Bidayat, ketiga penulis juga mampu menelisik pemikiran tentang wajibnya membela NKRI yang dituangkan ke dalam satu bab khusus untuk memaparkannya. Padahal jika dibaca sepintas dari judulnya, kitab ini akan memaparkan dalil amaliah yang biasa dilakukan oleh Muslim di Indonesia. Namun, ketiga penulis mampu menguak pemikiran nasionalisme Kiai Marzuki Mustamar ini dengan menyajikan hadits dan syiir yang terdapat di dalam kitab al-Muqtathafat.

 

Selain itu, jawaban kenapa harus NKRI bisa terjawab dengan sajian data-data perjuangan para pahlawan, ulama, pemuda, masyarakat dalam memperjuangkan kemerdekaan saat itu. Perjuangan mereka yang tidak dalam waktu yang singkat, banyak darah tertumpah, tenaga yang dikuras, perlu waktu beratus-ratus tahun untuk dapat menjadi negara yang utuh, menjadi NKRI yang berdaulat.

 

 

Data Buku:

Judul: Kenapa Harus NKRI (Menelisik Faham Nasionalis KH Marzuki Mustamar)

Penulis: Muhammad Faishol, Mahalasari, Uswatun Hasanah

Editor: Ali Adhim

Penerbit: Belibis Pusataka

Cetakan: Januari 2018

Tebal: xiv + 180; 14 x 21 cm

ISBN: 978-602-5430-10-7

Peresensi: Rifa’atul Mahmudah, alumni Pondok pesantren Sabilurrosyad Gasek, Malang

Iklan Hari Pahlawan