Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Milad Pesantren di Mojokerto Tampilkan Kreasi dan Tingkatkan Kemampuan Santri

Milad Pesantren di Mojokerto Tampilkan Kreasi dan Tingkatkan Kemampuan Santri
Pewmbukaan milad ke-32 Pesantren Fatchul Ulum, Pacet, Mojokerto. (Foto: NOJ/M Rofii B)
Pewmbukaan milad ke-32 Pesantren Fatchul Ulum, Pacet, Mojokerto. (Foto: NOJ/M Rofii B)

Mojokerto, NU Online Jatim

Pondok Pesantren Fatchul Ulum Pacet, Mojokerto menggelar pembukaan milad ke-32. Peringatan hari ulang tahun pesantren ini dilaksanakan di gedung serbaguna pesantren setempat, Senin (31/8).

 

Milad kali ini dilaksanakan selama sepekan dengan berbagai rangkaian acara. Mulai dari pembukaan yang menampilkan kreatifitas, hingga pelatihan peningkatan kemampuan santri.

 

Pesantren yang didirikan KH Muslich Abbas sejak 32 tahun lalu ini telah menyelenggarakan kegiatan milad selama sepekan. Pada milad ini mengusung tema ‘Khidmah kepada Beragama, Bernegara dan Berbudaya demi Kemaslahatan Bangsa.’

 

“Tema tersebut telah disepakati bersama oleh dewan pengasuh dan para santri yang kemudian disempurnakan kembali kepada Kiai Muslich Abbas,” kata Lutfi Hakim selaku Ketua Persatuan Alumni Fathul Ulum.

 

Lutfi melanjutkan alasan mengambil tema tersebut adalah seyogyanya santri perlu berkhidmah kepada agama sesuai kemampuan yang dimiliki. Apabila tidak mampu berjuang dengan jasmani, maka alangkah baiknya berkhidmah dari sisi yang baik.

 

Dalam sambutannya Kiai Muslich Abbas mengatakan bahwa agama dan negara akan sulit menjalankan tugasnya tanpa adanya budaya dan kesenian. Misalnya adzan ada kalimat yang merupakan syariatnya. Budayanya adalah setiap lagunya tidak sama. Lagu boleh berbeda, tapi syariat tidak boleh diubah.

 

Apabila telah mampu menyatukan keberbedaan bernegara, beragama dan berbudaya maka bangsa dan negara dalam keadaan maslahah bagi warga negaranya. Selain berkhidmah pada agama dan negara, juga pada budaya. “Sehingga berharap untuk selalu melestarikan kebudayaan Nusantara, khususnya kepada para santri,” pesan Kiai Muslich.

 

Penampilan apik dan menarik dalam membawakan kreasi tari Nusantara membuat para penonton terkesan. Selain itu pula, ada penampilan drama musikal oleh santri putra yang berkisah tentang anak bangsa yang tetap mempertahankan negara Indonesia dari penjajah yang ingin membentuk negara Indonesia menjadi negara khilafah, seperti keadaan pada saat ini.

 

“Kebudayaan tidak boleh lepas dari kehidupan kita. Para santri harus memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara ini. Jangan pertentangkan agama, negara dan budaya, ketiganya saling berkaitan,” pungkasnya.

 

Editor: Syaifullah

Iklan promosi NU Online Jatim