Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Militansi terhadap Jamiyah, Mutlak bagi Kader IPNU-IPPNU

Militansi terhadap Jamiyah, Mutlak bagi Kader IPNU-IPPNU
Pelantikan PK IPPNU Pesantren Nurul Huda, Gingging, Bluto, Sumenep. (Foto: NOJ/Habib)
Pelantikan PK IPPNU Pesantren Nurul Huda, Gingging, Bluto, Sumenep. (Foto: NOJ/Habib)

Sumenep, NU Online Jatim

Untuk menjadi kader militan, pelajar NU yang terhimpun dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) harus digembleng dengan matang. Hal tersebut penting agar mereka tidak terjerumus dan bergabung dengan kelompok non-toleran yang saat ini makin menggurita.

 

Di IPNU dan IPPNU, ada banyak jenjang kaderisasi. Meliputi Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), Latihan Kader Muda (Lakmud), Latihan Kader Utama (Lakut). Selain itu juga masih ada Latihan Instruktur (Latin), dan Latihan Instruktur Nasional (Latinas).

 

Hal itu disampaikan Kiai Marham Syuja'ie saat memberikan sambutan pada Pelantikan Pengurus dan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) Pimpinan Komisariat (PK) IPNU dan IPPNU Pesantren Nurul Huda, Gingging Bluto, Sumenep, Kamis (3/9/2020).

 

Rais Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Bluto ini menyampaikan harapan besar kepada seluruh kader IPNU-IPPNU nantinya menjadi militan. Juga benar-benar paham tentang Islam Ahlussunah waljama'ah an-Nahdliyyah.

 

"Juga menjadikannya sebagai benteng pertahanan dari paham-paham lain yang serangannya sudah sangat masif,” kata kiai yang juga Ketua Yayasan Pesantren Nurul Huda tersebut.

 

Kiai Marham menambahkan, bahwa saat ini kelompok lain memiliki banyak cara terselubung dalam merekrut kader muda NU untuk bergabung.

 

Diceritakan bahwa beberapa waktu berselang ada simpatisan kelompok sebelah melakukan upaya merekrut kalangan NU. Pada mulanya diminta mengantarkan ke suatu acara kajian. Hal itu terjadi sampai tiga kali. Nah, berselang kemudian simpatisan tersebut secara terang-terangan mengajak bergabung.

 

“Untungnya, teman kita itu melapor dan segera diingatkan bahwa itu organisasi terlarang. Alhamdulillah dia selamat," ungkapnya.

 

Dan salah satu cara dalam membentengi pelajar yaitu diikutkan langsung ke pengkaderan yang dilaksanakan oleh organisasi kepemudaan NU.

 

Sedangkan Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU Bluto, Choirur Rohman menyampaikan, bahwa pandemi Covid-19 yang cukup lama mewabah membuat kegiatan harus ditunda. Hal ini cukup berpengaruh terhadap mental dan semangatnya pelajar NU Bluto, khususnya di pimpinan komisariat.

 

Dirinya berharap bahwa PK IPNU-IPPNU Nurul Huda yang baru bisa membangun kembali semangat dan mental kader muda yang sempat 'lumpuh' untuk terus belajar. Juga berjuang serta bertakwa demi Nahdlatul Ulama.

 

Pada kesempatan itu, Yudi Abdurrasyid menyampaikan, bahwa regenerasi di IPNU-IPPNU adalah suatu hal yang mesti dilakukan. Karena indikator dalam berorganisasi adalah di regenerasi kader.

 

Sekretaris Pimpinan Cabang IPNU Sumenep ini juga berpesan, agar pengurus PK IPNU-IPPNU Nurul Huda terus mempererat komunikasi dan silaturrahmi dengan pembina di daerah setempat.  “Karena bagaimana pun, pembina adalah penuntun kita dalam berorganisasi,” ungkapnya.

 

Moh Arham, Ketua PK IPNU Nurul Huda masa khidmah 2020 hingga 2021 menyampaikan akan berupaya terus semangat belajar dan berjuang dalam koridor Nahdlatul Ulama.

 

"Kami mohon arahan dan bimbingan dari senior dan pembina, agar langkah terus sejalur dengan perjuangan muassis Nahdlatul Ulama," harapnya.

 

Yayasan Pesantren Nurul Huda di antara pesantren yang terus melakukan kaderisasi secara berjenjang setiap tahunnya. Banyak kader militan terlahir dari pesantren ini.

 

Makesta mengambil tema ‘Mengenal Islam Ahlussunnah wal Jamaah melalui IPNU-IPPNU’ diikuti puluhan pelajar. Mereka meliputi santri dan siswa di pesantren setempat. Kegiatan yang berlangsung dua hari ini diisi dengan materi dari pendidikan karakter, ke-Indonesia-an, dan ke-NU-an. Selanjutnya juga ada materi keorganisasian, konsep gender, dan ditutup dengan materi ke-IPNU-an serta ke-IPPNU-an.

 

Editor: Syaifullah

PWNU Jatim Harlah