Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Naghfir, Pemuda Potensial Pengurus LWPNU Sumenep

Naghfir, Pemuda Potensial Pengurus LWPNU Sumenep
Naghfir, Pengurus LWPNU Sumenep. (Foto: NOJ/MA)
Naghfir, Pengurus LWPNU Sumenep. (Foto: NOJ/MA)

Sumenep, NU Online Jatim

Dari usia yang tergolong masih cukup muda, yaitu 28 tahun Naghfir berhasil menjadi Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Padahal latar belakang dia adalah santri yang secara kultur tentu lebih dekat pada pendidikan. Namun, nasib berkata lain, dimulai sejak Naghfir kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dengan beasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

 

Saat kuliah ia mengambil Fakultas Hukum. Geliatnya di bidang hukum sudah terlihat sejak mahasiswa. Dengan aktif dalam advokasi masyarakat khususnya pada persoalan syi'ah di Sampang. Berapa pengalaman yang dia ikuti dalam hal advokasi seperti persoalan sengketa tanah itu, menjadi alasannya memilih untuk melanjutkan S2 Fakultas Hukum di Universitas Brawijaya (UB) Malang. Dirinya menceritakan, bahwa proses kuliahnya di S2 sedikit terkendala urusan biaya.

 

"Bahkan perjuangan untuk menyelesaikan kuliah S2 di UB sering terlambat dalam pembayaran uang kuliah," cerita Naghfir.

 

Selain menjadi PPAT ia juga sebagai dosen di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bahkan ia rela bolak-balik Sumenep Malang. Kemudian Naghfir mengatakan bahwa dirinya diminta untuk menjadi pengurus Lembaga Wakaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama (LWPNU) Sumenep.

 

"Dengan tanpa banyak pertimbangan saya siap dengan alasan ini karena barokahnya para kiai," ujarnya.

 

Atas dasar itu, dirinya siap mengabdi di NU secara struktural melalui LWPNU. Kemudian, ia menargetkan seluruh aset NU di Kabupaten Sumenep tersertifikasi. Bahkan, Naghfir telah melakukan identifikasi terhadap aser NU termasuk seluruh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se-Kabupaten Sumenep.

 

Untuk menyelamatkan aset NU dirinya membuat program di LWPNU Sumenep yaitu inventarisir aset NU di semua tingkatan.

 

"Jadi salah satu program LWPNU adalah mendata aset NU yang belum tersertifikat," terangnya.

 

Tentu, yang mendasarinya untuk semangat mengabdi di NU karena motivasi para kiai yang bisa mendirikan NU dan bertahan hingga memasuki umur hampir satu abad.

 

"Perjuangan para kiai terdahulu menjadi rujukan setiap melangkah," ungkapnya.

 

Diakhir, Naghfir mengatakan mengabdi di NU seyogyanya jangan mengharap sesuatu tetapi jadikan sebagai ladang pengabdian.

 

"Pengabdian di NU adalah ladang mengabdi yang harus menjaga niat dengan baik," pungkasnya.

 

Editor: Risma Savhira

Iklan promosi NU Online Jatim