Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Nestapa Mahasiswa Asal Lampung, Dua Lebaran Tanpa Mudik

Nestapa Mahasiswa Asal Lampung, Dua Lebaran Tanpa Mudik
Makan bersama, cara mahasiswa rantau yang gagal mudik. (Foto: NOJ/A Rofii)
Makan bersama, cara mahasiswa rantau yang gagal mudik. (Foto: NOJ/A Rofii)

Mojokerto, NU Online Jatim

Tidak terasa sudah tahun kedua momen hari raya Idul Fitri dilaksanakan di tengah pandemi. Seperti tahun lalu, maka untuk urusan silaturahim tidak dapat dilakukan dengan pertemuan fisik. Dengan demikian, yang dapat dilakukan adalah dengan menjalin silaturahim masih secara virtual.

 

Idul Fitri yang seharusnya dijadikan momen berkumpul bersama keluarga serta melepas rindu dan bersilaturahim, tidak seindah yang di angan. Tidak tanggung-tanggung, suasana seperti ini harus dialami kebanyakan warga hingga dua lebaran. Sebuah pengorbanan menahan rindu yang tentu saja sangat berat.

 

Kondisi ini semakin parah, lantaran pemerintah melarang masyarakat pulang kampung. Tidak sampai di situ, sarana transportasi massal yang harusnya dapat mengantar warga bersilaturahim dilarang beroperasi. Hal ini dengan alasan memutus mata rantai penularan virus Corona.

 

Kesedihan tidak bisa berkumpul dengan keluarga harus dirasakan Fathi Hisyam Panagara. Yang bersangkutan adalah mahasiswa rantau asal Provinsi Lampung yang kini sedang menempuh pendidikan strata satu di Institut Pesantren KH Abdul Chalim (Ikhac) Mojokerto.

 

"Di penghujung pendidikan formal S1 ini saya menganggap bahwa keadaan ini merupakan risiko sekaligus proses dalam menuntut ilmu demi membahagiakan orang tua di rumah," kata Hisyam kepada NU Online Jatim, Kamis (13/05/2021).

 

Peraih beasiswa dari Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Lampung tersebut mengungkapkan, saat mendengar gema takbir adalah momen yang sangat mengharukan. Karena seketika mengingatkan dengan momen bersama keluarga di rumah sebelum pandemi.

 

"Sedih ketika mendengar gema takbir berkumandang, hanya dengan virtual saya berkabar dengan keluarga di Lampung," ungkapnya dengan mata sembab.

 

Masih kata Hisyam, lebaran dalam kondisi pandemi yang kedua ini serasa seperti bukan lebaran, dikarenakan silaturahim dengan keluarga di rumah harus ditunda. Dirinya harus memendam rindu yang tidak dapat diungkat dengan sejumlah kata. Namun realita tersbut harus diterima dengan lapang dada.

 

Di tengah nestapa berada di tanah rantau tersebut, dirinya masih bisa bersyukur sekaligus menghibur diri. Apa sebab? Lantaran masih ada rekan di sekitarnya yang mengalami nasib serupa. Dengan mereka lah, Hisyam menghibur diri.

 

 "Hanya bisa digantikan cara silaturahim dengan keluarga seperjuangan di perantauan yang serasa sudah seperti keluarga sendiri," bebernya. 

 

Karena itu pada momentum kedua tidak bisa lebaran di kampung halaman tersebut, sejumlah kawannya yang turut merasakan derita, menggelar makan bareng. Dengan menu seadanya, mereka terlihat kompak menggelar makanan untuk disantap bersama. Meski raut sumringah tampak terpancar dari wajah mereka, namun dalam hati tentu saja ada ratapan yang tidak terperih. 

 

Dirinya tidak lantas meratap apalagi berkeluh kesah. Dalam dirinya, ada pengharapan besar bahwa keadaan dapat mendewasakan semua pihak, termasuk tentu saja dirinya.

 

"Semoga dengan adanya pandemi dapat mendewasakan manusia untuk peduli dengan lingkungan, juga memaknai betapa nikmatnya silaturahim berkumpul dengan keluarga," tutupnya.

 

Editor: Syaifullah

F1 Promosi Iklan