Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

NU Bondowoso: Santri Hendaknya Menjaga Ciri Khas sebagai Nahdliyin Sejati

NU Bondowoso: Santri Hendaknya Menjaga Ciri Khas sebagai Nahdliyin Sejati
Pembacaan shalawat Nariyah demi kelancaran pembangunan masjid NU Bondowoso. (Foto: NOJ/Ade Nurwahyudi)
Pembacaan shalawat Nariyah demi kelancaran pembangunan masjid NU Bondowoso. (Foto: NOJ/Ade Nurwahyudi)

Bondowoso, NU Online Jatim
Menjadi warga Nahdlatul Ulama atau Nahdliyin tidak semata bangga dalam jumlah. Namun yang harus dilakukan adalah menjaga fikrah atau kerangka berpikir, harakah yakni gerakan hingga amaliah yaitu ibadah keseharian. 

 

Penegasan ini disampaikan H Mas’ud Ali kepada ratusan santri dari Pondok Pesantren Al-Hasan Al-Lathifi, Kauman, Bondowoso, Rabu (12/8).

 

Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bondowoso  tersebut menjelaskan salah satunya ciri dari Nahdliyin adalah fikrah nahdliyahnya dalam hal bernegara. 

 

"Fikrah nahdliyah di dalamnya ada konsep toleran, i’tidal, tawassuth, tawazun dan tasamuh, harus sama sebagaimana praktik dari para kiai dalam hal membangun ukhuwah di tengah masyarakat," katanya. 

 

Hal tersebut disampaikan pada saat acara rutinan pembacaan shalawat Nariyah untuk kelancaran pembangunan masjid NU Bondowoso yang dilaksanakan di gedung Graha NU setempat di kawasan Kutokulon.

 

Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember tersebut kemudian mengemukakan ciri khas kedua dari Nahdliyin sejati yakni menjaga amaliah dalam keseharian.

 

"Seperti bertahil, shalawat, dan sejenisnya semua mengikuti tradisi para kiai Nahdlatul Ulama," ungkapnya.

 

Dikatakannya, kiai NU tidak lepas dari amaliah yang dilakukan umat saat ini, seperti pembacaan shalawat nariyah yang dilakukan santri. Di luar itu masih ada shalawat lain yang beragam, serta ibadah seperti ziarah kubur dan sebagainya.

 

"Itu adalah amiliah yang selalu ditekankan para kiai, guru-guru kita di pesantren untuk terus diamalkan di tengah masyarakat," urainya.

 

Kemudian ciri ketiga yang menjadi pembeda adalah harakah atau gerakan hendaknya sama, termasuk diperintahkan untuk hadir pada kegiatan pembacaan shalawat Nariyah secara berjamaah. 

 

"Bahwa kalian diperintah untuk hadir di tempat ini adalah bagian dari harakah yang digerakkan Nahdlatul Ulama," jelas dia.

 

Di ujung penjelasan, dirinya berharap 

 

“Oleh karena itu setelah nanti kalian pulang ke masyarakat harus menjadi pengerak Nahdlatul Ulama," pungkasnya.

Iklan promosi NU Online Jatim