Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

NU Jatim Kritisi Wacana Pembelajaran Tatap Muka oleh Pemerintah

NU Jatim Kritisi Wacana Pembelajaran Tatap Muka oleh Pemerintah
Prof Abd A'la. (Foto: NOJ/pj)
Prof Abd A'la. (Foto: NOJ/pj)

Surabaya, NU Online Jatim
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Anwar Makarim mewacanakan sekolah tatap muka akan dibuka kembali pada awal tahun 2021. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, wacana ini semakin menjadi sorotan dari berbagai pihak. Pasalnya, sejak November lalu tingkat pertumbuhan kasus Covid-19 semakin meningkat. Kabupaten dan kota di Jawa Timur yang sebelumnya zona kuning, kini menjadi zona merah, seperti Banyuwangi, Jember, Tuban, Kediri, Kota Blitar dan Kota Malang. 

 

Prof Abd A’la turut bersuara atas adanya wacana tersebut. Menurut Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini, wacana sekolah tatap muka harus dikaji ulang melihat fenomena yang terjadi sekarang.

 

“Melihat fenomena penyebaran dan orang yang terinfeksi Covid-19 masih sangat tinggi, maka rencana pembelajaran dengan tatap muka perlu dikaji kembali. Persiapannya harus benar-benar matang dan risiko dari sekolah tatap muka harus diperhitungkan dengan jeli,” katanya, Rabu (16/12/2020).

 

Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya ini menambahkan, bahwa meskipun sekolah tatap muka penting, namun juga harus fokus pada penanganan Covid-19 dulu. Sampai seminim mungkin tidak ada lagi korban.

 

“Sekolah tatap muka memang ada nilai lebih. Pembelajaran lebih intens, efektif, dan bisa diikuti seluruh peserta didik. Namun yang harus diperhatikan, justru bagaimana menghentikan penyebaran Covid-19 agar seminim mungkin tidak ada korban lagi,” jelasnya.

 

Oleh karena itu, PWNU Jawa Timur sejak awal terjadi pandemi Covid-19 sudah memberi perhatian khusus dalam menangani kasus ini.

 

“PWNU telah berkomitmen bukan hanya melakukan sosialisasi tentang pentingnya protokol kesehatan, tapi juga ikut terlibat dalam penyediaan alat-alat pelindung. Selain itu, mulai tingkat wilayah sampai daerah dibentuk satuan tugas Covid-19,” pungkasnya.

Iklan promosi NU Online Jatim