Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

NU Sidoarjo Peringati Harlah dengan Mengundang Mantan Teroris

NU Sidoarjo Peringati Harlah dengan Mengundang Mantan Teroris
Nashir Abbas menjelaskan kemunculan gerakan radikal. (Foto: NOJ/Rohmad Salam)
Nashir Abbas menjelaskan kemunculan gerakan radikal. (Foto: NOJ/Rohmad Salam)

Sidoarjo, NU Online Jatim

Memperingati hari lahir ke-95 sekaligus satu abad Nahdlatul Ulama (NU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sidoarjo menggelar seminar nasional secara virtual.

 

Kegiatan yang berlangsung Ahad (31/01/2021) tersebut tidak kalah menarik karena mengundang mantan teroris sebagai pembicara.

 

Pada kegiatan dengan tema ‘Mewaspadai Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme Dalam Kerangka Membangun Kejayaan NKRI’ tersebut menghadirkan  Nashir Abbas selaku pengamat gerakan radikalisme sekaligus merupakan mantan.

 

"Saya intoleran sejak umur 16 tahun dan selesai pendidikan di tingkat SMP," kata Nashir Abbas.

 

Dirinya kemudian menceritakan saat menjadi tahanan di dan ditemui pertama kali oleh seorang alim yaitu alamarhum KH Syafi'i Mufid dan mengajak diskusi. Demikian juga bertemu dengan Syafi'i Ma'ruf dari NU.

 

"Sempat kaget dipertemukan dengan alim Indonesia yang nama depannya sama," katanya di hadapan peserta.

 

Sebagai mantan pemimpin Mantiqi III Jamaah Islamiyah, dirinya mengetahui betul gerakan yang akan dilakukan oleh golongan intoleran, radikal dan teroris ini.

 

"Karena saya pernah mengalaminya, di usia 16 tahun menjadi anak intoleran dan radikal, serta pada usia 18 tahun dan lanjut menjadi teroris," ungkapnya.

 

Lebih jauh ia menjelaskan, radikalisme merupakan paham untuk mengubah suatu sistem sosial, politik dengan keras dan rasis. Khususnya di Indonesia ingin menggantikan Pancasila, UUD 45, NKRI, bineka tunggal ika.

 

"Kalangan inilah yang salah satu di antaranya berkeinginan mengubah Indonesia," jelasnya.

 

Selain itu, dirinya menyampaikan bahwa pendidikan golongan tersebut kiblatnya di Afganistan. Karena selama di sana diajarkan cara berperang, menggunakan senjata api, bahkan membuat senjata dan sebagainya.

 

"Tujuan dari gerakan mereka adalah mengubah negara Indonesia menjadi negara Islam," jelasnya.

 

Sebagian pengamat dan pelaku gerakan radikal, Nashir Abbas menyampaikan gagal paham dalam agama merujuk perbuatan intoleran. Masuk paham baru namanya radikalisme, yang ujung-ujungnya perbuatan teror.

 

"Karena saya mengajak masyarakat untuk saling menghargai satu sama lain," tandasnya.

 

Penulis: Rohmad Salam

Iklan promosi NU Online Jatim