Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Pedagang Sapi Asal Madura Raih Gelar Doktor, Ini Disertasinya

Pedagang Sapi Asal Madura Raih Gelar Doktor, Ini Disertasinya
Mo'tasim saat menerima SK kelulusan dari Ketua Sidang Maskuri Bakri. (Foto: NOJ/Habib).
Mo'tasim saat menerima SK kelulusan dari Ketua Sidang Maskuri Bakri. (Foto: NOJ/Habib).

Bangkalan, NU Online Jatim

Isu-isu yang bertendensi untuk memecah belah kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk kerapkali menjadi isu utama dewasa ini. Pendidikan muktikulturalisme dituntut untuk hadir dan menjadikannya tonggak utama dalam menjaga kemajemukan masyarakat Indonesia yang memiliki banyak ragam etnis, agama, bahasa dan suku. Penguatan nilai multikulturalisme dalam kehidupan masyarakat Indonesia selayaknya mendapatkan perhatian lebih dibanding yang lainnya.

 

Atas dasar hal ini, Mo'tasim, mantan Ketua Umum Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Surabaya Selatan menulis disertasi dengan judul "Adaptasi Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Menciptakan Kerukunan Masyarakat Multi Etnis dan Agama di Madura".

 

Ia dikukuhkan sebagai Doktor Ahli di bidang Pendidikan Agama Islam Multikultural setelah berhasil mempertahankan penelitiannya tersebut di depan tujuh penguji yang dipimpin Maskuri Bakri di Universitas Islam Malang (Unisma) Dinoyo, Lowokwaru, Kota Malang, Selasa (08/12/2020).

 

Dosen Luar Biasa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya ini menyatakan, bahwa kerukunan masyarakat multi etnis dan agama di Madura dapat terwujud karena peran serta pesantren yang berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam yang mengadopsi nilai-nilai keaswajaan dan ke-NU-an.

 

"Sebab, nilai-nilai keaswajaan dan ke-NU-an yang diterapkan di Pesantren cukup kuat dan kental. Bahkan mendarah daging dalam setiap lekuk kehidupan pemangku kebijakan dan santri-santrinya," jelasnya.

 

Ia menambahkan, ada empat pendekatan yang harus dilakukan oleh pesantren untuk menyokong penerapan nilai-nilai keaswajaan dan ke-NU-an tersebut. Yakni pendekatan tradisi, pendekatan aliran atau madzhab yang moderat, pendekatan misi atau dakwah ke-NU-an dan pendekatan modal kultur ekonomi dan simbolik.

 

"Keempat hal ini merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan, agar pesantren tetap memiliki peranan penting dalam mewujudkan kerukunan multi etnis sebagaimana dimaksud di tadi," imbuhnya.

 

Penerima beasiswa 5000 doktor ini berkomitmen untuk terus berupaya memajukan dunia pendidikan Islam berwawasan ke-NU-an. "Karena pendekatan masyarakat dengan nilai Ke-NU-an memiliki daya yang kuat dalam menciptakan kurukunan dan keberagaman di masyarakat Madura," tuturnya.

 

 

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Ibrohimy Bangkalan tersebut mengaku senang dan bersyukur atas diselesaikannya program doktoralnya di tengah kesibukannya sebagai dosen dan pedagang sapi.

 

"Walaupun saya juga punya aktivitas berdagang. Bahkan, sebulan yang lalu saya harus masuk rumah sakit karena menjalani operasi usus buntu. Alhamdullilah, tugas ini dapat terselesaikan sesuai waktu yang ditentukan oleh Kementerian Agama," pungkasnya.

 

Sementara itu, Junaidi Mistar, selaku Penguji dan Co-Promotor, memberikan pujian terhadap temuan mahasiswa asal Bangkalan, Madura ini. "Ini hasil penelitian yang bagus. Disertasi ini dapat menjadi model pendidikan Islam Pesantren khususnya di Madura, dan bahkan mungkin di Nusantara," ujarnya.

 

Editor: Romza

Iklan promosi NU Online Jatim