Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Penasihat GMNU Ponorogo: Jihad Itu Jalan Kehidupan, bukan kematian

Penasihat GMNU Ponorogo: Jihad Itu Jalan Kehidupan, bukan kematian
Penasihat GMNU Kabupaten Ponorogo, Ahmad Syafi'i. (Foto: NOJ/HK)
Penasihat GMNU Kabupaten Ponorogo, Ahmad Syafi'i. (Foto: NOJ/HK)

Ponorogo, NU Online Jatim

Penasihat Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU)  Kabupaten Ponorogo, Ahmad Syafi'i memandang kasus bom bunuh diri yang terjadi di depan Gereja Katedral di Makassar, Sulawesi Selatan, ada kaitannya dengan pemahaman agama seseorang atas ajaran agama Islam. Mereka memahami konsep jihad yang muncul dari interpretasi terhadap teks-teks agama secara kaku, literalis dan melenceng dari nilai-nilai luhur Islam.

 

“Penafsiran yang keliru terhadap teks-teks suci itu melahirkan sikap eksklusif dan perilaku destruktif serta mengakibatkan klaim kebenaran (truth claim) yang keras, tertutup, dan dogmatis,” Syafi’i berpendapat sebagaimana ditulis dalam artikelnya, "Jihad Kontemporer: Jihad Sebagai Jalan Kehidupan, Bukan Jalan Kematian".

 

Dijelaskan bahwa Islam adalah agama penebar kedamaian, keadilan dan rahmat bagi semesta alam. Agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini didakwahkan melalui caracara yang santun, damai dan penuh hikmah.

 

Sayangnya, belakangan ini ada sebagian umat Islam sendiri telah mencoreng wajah Islam sehingga ia diklaim oleh masyarakat dunia internasional sebagai agama yang keras, anarkis dan bahkan terorisme.

 

Pengklaiman tersebut akan terus disematkan pada diri Islam selama umat Islam tidak mengubah dan membongkar paradigma dan ideologinya, terutama mereka yang berhaluan fundamentalisme, radikalisme dan ekstrimisme. Dalam hal ini ia menyimpulkan bahwa proses interpretasi makna jihad seringkali terinfeksi dari berbagai macam kepentingan. Baik kepentingan politik maupun kepentingan sosial.

 

Pada hakikatnya, perintah jihad merupakan sebuah misi suci dari Allah SWT. Sehingga memiliki bagian yang penting di dalam ajaran agama Islam. Namun, bahasa-Bahasa gerakan radikalisme terlalu mempolitisir teks-teks suci keagamaan. Maka tak pelak, tema "jihad" pun dipolitisir hanya identik dengan makna "perang suci" (holy war). Ini mengakibatkan lunturnya konsep Islam rahmatan lil alamin.

 

Kiai Syafi'i menemukan konsep untuk dibumikan  dan sekaligus harapan baru yang pernah diintrodusir oleh Gamal Banna, penulis Risalatul Jihad, yang mengkontekstualisasi makna jihad kontemporer: ‘Jihad di abad modern bukanlah kita mencari mati di jalan Allah, akan tetapi bagaimana kita bisa hidup bersama-sama di jalan Allah’.

 

Menurut dosen Institut Sunan Giri (INSURI) Ponorogo itu, esensi jihad pada masa kini tidaklah mengharuskan mati di jalan Allah, akan tetapi bagaimana caranya agar tetap hidup dan bertahan di jalan Allah.

 

Jihad yang lebih tepat ialah pembebasan negeri dan rakyat dari cengkraman subordinasi ekonomi, keterbelakangan, serta sikap agar dapat mengarungi arus globalisasi sehingga umat Islam tidak terperangkap dan masih melakukan aktifitas sesuai koridor syariat Islam.

 

Makna jihad harus selalu dikontekstualisasikan menurut perkembangan zaman. Karena Islam adalah agama yang memiliki sifat shalih li kulli zaman wa makan.

 

"Saya berpesan kepada generasi muda NU, pertimbangkanlah kepada siapa kalian akan belajar memahami agama. Bergurulah kepada syekh, guru, ulama, dan kiai yang memiliki sanad keilmuan yang berlandaskan Islam Ahlussunnah wal Jamaah, moderat, dan Islam yang rahmatal lil 'alamin yang selalu mengedepankan tiga prinsip utama, yakni tawazzun wal i'tidal, tawasuth, dan tasamuh,” tutur Kiai Syafi'i kepada NU Online Jatim, Rabu (30/03/2021).

 

Editor: Nur Faishal


Editor:
F1 PWNU Jatim