Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Pengalaman Kiai Fuad Menyaksikan Pertemuan Kiai Djazuli dan Kiai Hamid Pasuruan

Pengalaman Kiai Fuad Menyaksikan Pertemuan Kiai Djazuli dan Kiai Hamid Pasuruan
Almaghfurlah KH Fuad Mun'im Djazuli. (Foto: NOJ/Istimewa)
Almaghfurlah KH Fuad Mun'im Djazuli. (Foto: NOJ/Istimewa)

KH Fuad Mun’im Djazuli pada Sabtu (17/10/2020) pukul 03.00 WIB wafat. Pengasuh Pesantren Ploso Mojo, Kediri tersebut meninggal usai dirawat di Rumah Sakit Darmo, Surabaya. Innalillahi wainna ialihi rajiun.
 

 

Kepergian KH Fuad Mun'im Djazuli tentu saja merupakan duka mendalam bagi Pesantren Ploso dan juga Nahdlatul Ulama. Satu demi satu, kiai sarat dedikasi pergi untuk selamanya. Namun, di balik kepergian tersebut banyak kisah yang hendaknya menjadi pelajaran, 'ibrah kepada santri zaman now. Salah satunya adalah kisah berikut: 

 

Almaghfurlah KH Fuad Mun'im Djazuli adalah adik kandung KH Hamim Tohari Djazuli atau Gus Miek. Pengalaman itu disampaikan Muhamad Anam di Majlis Sambel Terong yang merupakan grup alumni Pesantren Ploso untuk kawasan Blitar. Kisahnya pun lumayan lama, 4 September 2016.

 

Postingan ini diunggah kembali oleh Ahmad Karomi, alumni Pesantren Ploso yang juga Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur sesaat setelah KH Fuad Mun’im Djazuli wafat. Berikut cerita singkatnya.  

 

Saat masih muda, KH Fuad Mun'im Djazuli pernah bepergian nderekno (mengawal) ayahandanya, KH Ahmad Djazuli Utsman, untuk menghadiri sebuah acara di daerah Malang. Mereka pergi dengan mengendarai andong, kendaraan yang tersedia kala itu.

 

Setelah acara di Malang usai, KH Ahmad Djazuli bermaksud melanjutkan perjalanan ke Pasuruan untuk bertamu kepada KH Abdul Hamid. Hal ini membuat Fuad Mun'im muda merasa khawatir, karena uang bekal perjalanan sudah habis.

 

Saat hendak berangkat dari Malang, Fuad Mun'im mengutarakan kehawatirannya kepada ayahanda: Ngapunten, Abah. Sangune sampun telas. (Mohon maaf abah. Uang sakunya sudah habis) KH Ahmad Djazuli hanya menjawab singkat: La shahiba ilmin mamqutun. (Tiada seorang berilmu pun akan dimurka).

 

Apa yang menjadi jawaban ayahanda, rupanya belum dapat menghapus kekhawatiran Fuad Mun'im. Di tengah perjalanan dirinya mengulangi perkataan: Abah, artone sampun telas. Dan jawaban KH Ahmad Djazuli pun tetap sama: La shahiba ilmin mamqutun.

 

Keduanya akhirnya sampai di kediaman KH Abdul Hamid. Sebelum mendekat di kediaman, sekali lagi Fuad Mun'im menyinggung perihal uang saku yang benar-benar sudah habis. Namun jawaban KH Ahmad Djazuli tak berubah sedikit pun: La shahiba ilmin mamqutun.
 

Tak lama menunggu, keduanya dihampiri seorang khadam (pembantu) KH Abdul Hamid. Setelah mempersilakan masuk, si khadam bertanya: Ngapunten, njenengan paring asmo sinten? (Maaf, Anda bernama siapa?)
 

KH Ahmad Djazuli menjawab: Kulo Ahmad Djazuli (Saya Ahmad Djazuli).
 

Sang khadam melanjutkan pertanyaan: Saking pundi? (Dari mana?) KH Ahmad Djazuli kembali menjawab: Saking Ploso – Kediri. (Dari Ploso – Kediri).

 

Si khadam mempersilakan kedua tamu tersebut supaya menunggu, sebelum kemudian menghaturkan kabar kehadiran KH Ahmad Djazuli bersama anaknya kepada KH Abdul Hamid.
 

Ngapunten, wonten tamu saking Ploso Kediri. Paring asmo Ahmad Djazuli." (Maaf, ada tamu dari Ploso Kediri bernama Ahmad Djazuli), kata si khadam menghaturkan kabar.

 

Seketika itu KH Abdul Hamid yang belum pernah bersua KH Ahmad Djazuli, langsung berteriak: Djazuli, man jazula ilmuhu (Djazuli, seorang yang agung keilmuannya).

 

KH Abdul Hamid sungguh merasa bahagia mendapat tamu istimewa, yakni seorang alim yang tidak lain adalah KH Ahmad Djazuli. Suguhan untuk tamu istimewa ini pun tentu berupa hidangan-hidangan yang sangat istimewa.

 

Mendapati jamuan yang begitu istimewa, giliran Fuad Mun'im sambil tersenyum dan dengan mantap berkata: Laa shoohiba ilmin mamquutun.

 

KH Abdul Hamid tidak menyia-nyiakan kesempatan bersua tamu istimewa ini. Beliau kemudian meminta KH Ahmad Djazuli agar sudi membaca kitab walau sejenak, dengan harapan supaya para santri KH Abdul Hamid dapat tabarrukan (memperoleh berkah) lantaran KH Ahmad Djazuli.

 

Tidak tanggung-tanggung, KH Abdul Hamid menyodorkan kitab Tafsir al-Kabir kepada KH Ahmad Djazuli. Melihat ayahanda disodori kitab tersebut, Fuad Mun’im berkata keheranan: Abah, kitab ipun ageng njih. (Ayah, kitabnya besar ya).

 

KH Ahmad Djazuli pun berkata: Abahmu iki, Le! Isuk sarapane kitab, awan ya kitab, sore ya kitab, bengi ya kitab. (Abahmu ini, nak! Pagi sarapannya kitab, siang ya kitab, sore ya kitab, malam ya kitab).

 

Di saat perjalanan pulang, KH Ahmad Djazuli menemukan banyak sekali tumpukan amplop berisi uang. Menyaksikan hal itu, Fuad Mun’im semakin mantap dengan apa yang dikatakan ayahanda, KH Ahmad Djazuli: la shahiba ilmin mamqutun.

 

Kepada KH Abdul Hamid Pasuruan, KH Ahmad Djazuli dan KH Fuad Mun'im Djazuli, alfatihah.

 

Iklan Hari Pahlawan