Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Perbedaan Mbah Bisri dan Mbah Wahab soal Kurban Sapi

Perbedaan Mbah Bisri dan Mbah Wahab soal Kurban Sapi
Kurban sapi diperdebatkan seorang tamu ke Mbah Bisri dan Mbah Wahab. (Foto: NOJ/NUO)
Kurban sapi diperdebatkan seorang tamu ke Mbah Bisri dan Mbah Wahab. (Foto: NOJ/NUO)

Kisah ini kerap diceritakan menjelang hari raya Idul Adha. Bahwa setiap kiai dan ulama memiliki cara berbeda dalam melayani umat. Ada yang kencang, namun tidak sedikit yang longgar dengan tidak melanggar aturan.

 

Dalam sebuah kesempatan, seorang lelaki diceritakan sowan kepada Kiai Bisri Syansuri di Pesantren Mamba'ul Ma’arif Denanyar, Jombang. Bahwa lelaki itu mengutarakan hajatnya yang ingin menyembelih hewan kurban, namun memanggul problem dan kemuskilan. 

 

Ia hendak menyembelih seekor sapi, namun anggota keluarganya terdiri dari delapan orang. Atas problemnya itu, ia sowan kepada Kiai Bisri. 

 

“Ya ndak bisa, satu sapi ya untuk tujuh orang. Begitu aturan syariatnya,” demikian jawab Kiai Bisri. 

 

Lelaki itu semakin masygul. Betapa ia khawatir kelak di akhirat salah satu anggota keluarganya tidak bisa ‘naik’ hewan sembelihan akibat aturan syariat itu. 

 

Dengan tetap memanggul kemasygulan, lelaki itu bergegas ke Tambakberas, sebuah desa yang terletak di utara Denanyar. Ia sowan kepada KH Abd Wahab Chasbullah di Pesantren Bahrul Ulum. 

 

Setelah memperkenalkan diri lengkap berserta asal usul dan riwayat keluarga, hajat yang sama ia utarakan kepada Kiai Wahab dengan suara serak terbata-bata. 

 

“Ya ndak apa-apa. Cuma, anakmu kan ada yang kecil satu, biar dia bisa naik ke punggung sapi, harus disediakan ancik-ancikan (undak-undakan),” ujar Kiai Wahab. 

 

“Ancik-ancikannya berupa apa, kiai?” tanya lelaki itu berbinar dan antusias seolah menemukan solusi bagi jalan buntu dan beban yang menggelayutinya. 

 

"Ya belikan kambing satu, biar bisa dipakai ancikan anakmu," jawab Kiai Wahab. 

 

Bibir laki-laki itu tiba-tiba merekah, seutas senyum mengembang dari sana. Ia menemukan jalan keluar dan pulang dengan berita gembira. Di hari raya Idul Adha kelak, ia bisa berkurban untuk seluruh anggota keluarganya. 

 

Begitulah cara kiai dan ulama dalam menerapkan hukum. Ada yang ketat, juga longgar. Namun demikian, tentu saja tanpa meninggalkan syariat. 


Editor:
F1 PWNU Jatim