Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Peringati Haul Gus Dur, Pesantren Sabilurrosyad Gelar Wayang Kebangsaan

Peringati Haul Gus Dur, Pesantren Sabilurrosyad Gelar Wayang Kebangsaan
Suasana pagelaran wayang kebangsaan di Pesantren Sabilurrosyad, Gasek, Kota Malang. (Foto: NOJ/Hilyatul Maknunah)
Suasana pagelaran wayang kebangsaan di Pesantren Sabilurrosyad, Gasek, Kota Malang. (Foto: NOJ/Hilyatul Maknunah)

Malang, NU Online Jatim

Desember menjadi bulan bersejarah bagi bangsa Indonesia, khususnya warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin). Hal ini Karena di bulan tersebut, Indonesia kehilangan bapak pluralisme yang wafat pada 31 Desember 2009.

 

Setiap tahun, banyak kalangan turut mengenang kepergian KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dalam rangkaian acara haul. Seperti yang dilaksanakan oleh Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Gasek, Kota Malang, Sabtu (26/12/2020) malam.

 

Pesantren asuhan KH Marzuki Mustamar yang juga Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini rutin mengadakan haul Gus Dur. Kali ini dengan pagelaran wayang kebangsaan bertema ‘Yang Lebih Penting dari Politik adalah Kemanusiaan’.

 

“Setiap tahun pondok kami senantiasa memperingati haul Gus Dur. Sekarang karena masih suasana pandemi, jadi haul kami buat pagelaran wayang climen (daring),” tutur Zainul, ketua pelaksana haul.

 

Rangkaian acara dimulai sejak siang yaitu khatmil Quran kemudian setelah Maghrib hingga selesai, pembacaan istighotsah dan tahlil yang diikuti seluruh santri. Pada pukul 21.00 WIB pagelaran wayang dimulai.

 

Zainul menjelaskan bahwa undangan yang diperbolehkan hadir adalah undangan khusus. Di antaranya para kader lintas partai, anggota dewan perwakilan rakyat, dan beberapa tokoh di Kota Malang dengan tetap memenuhi protokol kesehatan.

 

Pagelaran wayang tersebut didalangi oleh Ki Ardhi Poeroantono dari Singosari, Malang.

 

“Pagelaran wayang ini sebetulnya bertujuan untuk mengingat dan meneladani ajaran Gus Dur perihal kemanusiaan. Selain itu juga mengingatkan kembali sejarah dakwah Walisongo mengenalkan Islam itu melalui budaya, bukan justru menabraknya,” terangnya.

 

Disampaikan bahwa momen mengenang ajaran damai Gus Dur tidak hanya ketika haul.

 

“Di sini kami punya komunitas Cangkru’an Gus Dur biasanya kami ngaji rutinan sama kiai Marzuki bab tasawuf dan dikenalkan dengan teladan yang dibawa Gus Dur utamanya tentang kemanusiaan,” pungkasnya.

 

Penulis: Hilyatul Maknunah

Editor: Syaifullah

Iklan promosi NU Online Jatim