Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Perjalanan Satpam yang Dipercaya sebagai Direktur Pascasarjana IAIN Ponorogo

Perjalanan Satpam yang Dipercaya sebagai Direktur Pascasarjana IAIN Ponorogo
Aksin Wijaya, Direktur Pascasarjana IAIN Ponorogo. (Foto: NOJ/KTa)
Aksin Wijaya, Direktur Pascasarjana IAIN Ponorogo. (Foto: NOJ/KTa)

Ponorogo, NU Online Jatim

Hidup penuh dinamika dan sarat misteri. Mereka yang dulunya berjaya, ternyata saat ini menjadi kalangan yang miskin papa. Demikian pula sebaliknya. Tidak sedikit kalangan yang hidup prihatin, namun diberikan jalan dan berjaya.

 

Gambaran ini yang dapat disaksikan dari Aksin Wijaya. Pria kelahiran 1 Juli 1974 di Desa Cangkreng, Dusun Lang-langger, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep ini melewati hidup dengan penuh warna. Dengan ketelatenan, akhirnya diamanahi sebagai Direktur Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo.

 

Berikut perjalanan yang diceritakan kepada media ini di kediamannya di kawasan Kadipaten, Babadan, Ponorogo.

 

“Saya adalah anak terakhir dari lima bersaudara,” kata anak pasangan Suja’i dan Zainab ini mengawali kisahnya.

 

Disampaikan bahwa sebagai orang desa, maka kesederhanaan adalah hal yang melekat dari dirinya. Kendati demikian, pria yang akrab disapa Cak Aksin ini merupakan sosok pria tangguh serta organisatoris.

 

Yakin Keberkahan Muassis NU

“Sejak kecil, saya sudah aktif Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama atau IPNU, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yakni PMII, Palang Merah Remaja, hingga Lembaga Dakwah Kampus di Universitas Jember,” ungkapnya.

 

Demikian pula aktif di Unit Kegiatan Pengembangan Keilmuan (UKPK) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (IAIN) Jember. Bahkan pernah aktif di Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), sebelum akhirnya memutuskan untuk mengabdi di Nahdlatul Ulama (NU).

 

“Saya aktif di NU karena yakin dengan barakah dari para pendiri jamiyah. Bahwa keberkahan itu akan datang di saat waktu tepat,” kenangnya. 

 

Dirinya tercatat sebagai pendiri PMII Rayon Syariah Komisariat IAIN Jember ini, sebelum menjadi mahasiswa di Universitas Islam Jember (UIJ) dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember.

 

Hal yang layak ditiru dari sosok Cak Aksin adalah kesungguhan dalam hidup. Dirinya banyak mengalami liku-liku kehidupan. Sejumlah pekerjaan dilakoni hanya untuk bisa bertahan hidup, sekaligus menyelamai makna perjalanan. “Saya pernah menjadi satpam, merantau ke Surabaya dan bekerja di sebuah home industri sepatu,” ungkapnya.

 

Demikian pula pernah mengajar di yayasan yatim piatu di Sawojajar Malang, hingga akhirnya kembali ke Jember lagi sebagai penunggu kantor NU, serta membantu berbagi ilmu di Pondok Pesantren Al-Irsyad Bondowoso.

 

Semangat itu juga yang mengilhami suami dari Rufiah Nur Hasan tersebut untuk menempa diri di sejumlah lembaga pendidkan. Sebelum kuliah di IAIN Jember, tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Islam Jember (UIJ). Kala di STAIN Jember pernah menjabat sebagai Wakil Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) serta mendirikan beberapa organisasi mahasiswa seperti. Ada Unit Kegiatan Pengembangan Keilmuan (UKPK) STAIN Jember bersama KH Abdullah Syamsul Arifin atau Gus Aab, yang sekarang sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember.

 

Pada 2001 dia melanjutkan studi S2 di Yogyakarta. Tepatnya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga yang sekarang menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, dengan mengambil jurusan filsafat Islam. Kemudian di kampus yang sama melanjutkan program doktor hingga selesai pada 2008.

 

Bangga Alumnus Kampus Agama

Saat masih menempuh studi, pada 2005 dirinya akhirnya secara resmi  menjadi dosen Fakultas Ushuluddin di STAIN Ponorogo.  Berbekal semangat kala menempuh pendidikan S1 dan S2,  membuatnya mampu merampungkan program doktor dengan nilai comload di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

”Jangan pernah malu menjadi lulusan STAIN, IAIN, maupun UIN, karna di sana kita diajari untuk selalu berpikir kritis dalam melihat apa pun,” katanya.

 

Setelah mengalami cukup panjang perjalanan menjadi dosen di IAIN Ponorogo, pada 2015 dirinya dipercaya sebagai Kepala P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) kampus tersebut.

 

“P3M adalah lembaga atau organisasi sosial kemasyarakatan non-pemerintahan yang berbasis komunitas pesantren sebagai pusat pendidikan keagamaan masyarakat yang dinaungi oleh Universitas Islam Negeri di seluruh Indonesia,” terangnya.

 

Karena beragama prestasi dan capaian diraih selama kepemimpinan di lembaga tersebut, mengantarkannya dipercaya menjadi Direktur Pascasarjana IAIN Ponorogo hingga sekarang. Menurutnya, kepercayaan tersebut buah dari keuletan dan tekadnya sejak menjadi mahasiswa.

 

Cak Aksin berpesan kepada kalangan yang saat ini tengah menempuh studi di kampus untuk tidak hanya kuliah. Yang harus dilakukan adalah juga menulis. 

 

”Buatlah diri anda menjadi ada. Untuk menjadi ada, anda harus membaca. Dan jangan biarkan hasil bacaan itu hanya bertengger di kepala anda, tulislah hasil bacaan itu, karena tulisan itu tidak hanya melampaui umur penulisnya, tetapi juga membuat penulisnya ada,” katanya memberikan motivasi.

 

Hal itu juga yang kini tengah digeluti. Ayah dari lima anak ini selain menjadi seorang direktur,  masih aktif menulis beberapa karya ilmiah seperti buku, jurnal, dan sejenisnya. Kegemaran membaca dan menulis membuat dirinya akrab dengan pemikiran kritis. Pandangan sejumlah tokoh pemikir barat klasik, modern dan post-modern, pemikiran tokoh muslim Timur Tengah dikuasainya dengan baik. Pemikiran Hasan Hanafi, Muhammad Abid al-Jabiri, Nasr Hamid Abu Zayd, Muhammad Arkoun, Abdul Karim Soros, hingga tokoh seperti Gus Dur, Masdar Farisd Mas’udi, Nurcholish Madjid, Johan Efendi, dan Munawir Sadzali juga dikuasai.

 

Penulis: Wildan Rofikil Anwar

Editor: Syaifullah

PWNU Jatim Harlah