Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Perkuat Silaturahim, Bani Syarqawi di Sumenep Gelar Ziarah Kubur Online

Perkuat Silaturahim, Bani Syarqawi di Sumenep Gelar Ziarah Kubur Online
Suasana ziarah di Makbarah Pohon Sawo yang diikuti Bani Syarqawi. (Foto: NOJ/Firdausi)
Suasana ziarah di Makbarah Pohon Sawo yang diikuti Bani Syarqawi. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk salah satu pesantren tertua di Sumenep dan didirikan almaghfurlah KH Muhammad Asy-Syarqawi. Ulama dari Jawa Tengah tersebut merupakan cicit dari Sunan Kudus serta sahabat karib Syaikhana Kholil Bangkalan saat menuntut ilmu di Hijaz.

 

Untuk mengenang sosok pendiri beserta sesepuh lain, keluarga besar Bani Syarqawi menggelar ziarah kubur yang dilakukan secara online, Rabu (3/6).

 

Acara yang dipusatkan di Makbarah Pohon Sawo berjalan hikmah dan dihadiri para kiai sepuh. Mulai dari keturunan Ny Shalihah, Ny Jauharoh, Ny Zubaidah, Kiai Idris, KM Ilyas, Kiai Abdullah Siraj, Kiai Abdullah Sajjad, dan Ny Aisyah. 

 

"Acara ini pertama kali digelar oleh kami yang tujuannya untuk mengumpulkan para keluarga dan disiarankan secara langsung melalui Medsos Bani Syarqawi," kata Kiai Ahmad Irfan AW selaku ketua panitia. 

 

Dirinya menegaskan bahwa ziarah kubur atau praktik mengunjungi makam sesepuh salah satu kebudayaan Nahdliyin untuk menghargai jasa para leluhur dengan mengirinya lewat panjatan doa.

 

"Walaupun terhalang dengan Covid-19, kami berharap keluarga yang tidak bisa berkumpul atau pulang kampung bisa sama-sama mendoakan para leluhur secara online," ungkapnya. 

 

Kiai Moh Ilyas menjelaskan bahwa momen ini bisa dijadikan ajang silaturahim atau taarruf antarsesama keluarga, terutama secara online. Apalagi manfaat dari acara dapat semakin mengenalkan keturunan yang ada.

 

"Kami berharap keluarga yang belum kenal bisa mengenal kerabat, terutama keluarga yang berada di luar Jawa. Sedangkan yang tidak bisa hadir bisa melihat secara langsung lewat Medsos dan mengenal kiprah almarhum serta sanad keilmuannya," jelasnya. 

 

Dirinya menegaskan bahwa acara merupakan budaya klasik yang dikenal dengan istilah momento mori yang secara harfiah berarti ingatlah akan kematian. Karenanya diharapkan mereka yang hadir dan menyaksitkan, doanya dikabulkan. 

 

Acara diisi dengan pembukaan yang dipimpin KM Faizi, pembacaan Yasin dipimpin Basyyam Syamil Al-Hafidz. Sedangkan tahlil oleh KH Muhammad Husnan Nafi', doa oleh Lora Muhammad Al-Mubassyir Sa'di Amir. Kegiatan dipungkasi taarruf yang dipandu Kiai Ahmad Irfan AW.

 

Kontributor: Firdausi
Editor: Syaifullah
 

F1 Promosi Iklan