Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Pesan KH Taufiqurrahman FM saat Detik-Detik Terakhir Jabat Rais Syuriyah PCNU Sumenep

Pesan KH Taufiqurrahman FM saat Detik-Detik Terakhir Jabat Rais Syuriyah PCNU Sumenep
KH. Taufiqurrahman FM, Rais Syuriyah PCNU Sumenep periode 2015-2020. (Foto : NOJ/ Firdausi).
KH. Taufiqurrahman FM, Rais Syuriyah PCNU Sumenep periode 2015-2020. (Foto : NOJ/ Firdausi).

Sumenep, NU Online Jatim

Sudah 5 tahun berlalu Rais dan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenenp memimpin dan mengatur jalannya roda organisasi. Kali ini sampailah pada puncaknya, dimana keduanya harus  mempertanggung jawabkan kepada nahdliyin. Selain itu digelar pula pemilihan Rais dan Ketua baru untuk periode 2020-2025.

 

Sebelum menyampaikan pidato terakhirnya KH. Taufiqurrahman FM sengaja membacakan pidato iftitah yang pernah disampaikan oleh Hadaratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari saat mendeklarasikan NU atau setelah mendapat legalitas dari pemerintah Hindia Belanda.

 

Rais PCNU Sumenep tersebut mengatakan bahwa Konferensi Cabang (Konfercab) NU Sumenep yang di selenggarakan di pondok pesantren Nasy'atul Muta'allimin Gapura, Minggu (27/9) merupakan forum musyawarah tertinggi. Saat ini momen yang amat penting untuk mendiskusikan beberapa permasalahan dan mencari solusi demi kemajuan NU 5 tahun mendatang.

 

"Termasuk juga kita akan menentukan figur terbaik dalam syuriyah dan tanfidziyah," ujarnya.

 

Pada kesempatan yang berbeda KH. A. Pandji Taufiq mengutarakan bahwa lembaga dan badan otonom NU di Sumenep relatif hidup.

 

"Contoh dari kesuksesan tersebut adalah dulu tibbun nabawi dihidupkan oleh orang di luar NU. Namun saat ini istilah dukon (Red Madura) diambil alih oleh warga NU, mulai mulai dari bekam, ruqyah, totok, dan lainnya," kata Ketua PCNU Sumenep saat menyampaikan pidato terakhirnya.

 

Selanjutnya, ia mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan keamanan mulai dari Pagar Nusa, Barisan Ansor Serbaguna (Banser), Corp Brigade Pembangunan (CBP), Korp Pelajar Putri (KPP), dan Sako Pramuka Ma'arif yang sejak dulu hingga sekarang mengawal jalannya kegiatan NU.

 

"Tak lupa juga rekan-rekan media baik internal dan eksternal yang selalu istikamah meliput kegiatan NU termasuk tim media NU Online dan NU Online Jatim yang selalu intens mengawal kegiatan kami," katanya.

 

Alumni pondok pesantren Annuqayah Guluk-Guluk tersebut menegaskan pada khalayak bahwa Konferancab ini merupakan yang pertama kali yang murni menggunakan kekuatan warga.

 

"Motto yang yang diusung panitia 'Dari Warga, Oleh Warga, Untuk Warga'. Maksudnya pendanaan murni 100% dari warga NU. Seluruh MWCNU, BMT NU, pesantren dan LPI se-Kabupaten Sumenep ikut terlibat demi terealisasinya perhelatan akbar," terangnya.

 

Tak sampai disitu, begitulah seharusnya NU dalam menyelenggarakan kegiatan yang tak tergantung pada orang-orang di luar NU.

 

Dalam pandangannya, inilah yang dikatakan BMT Nuansa Umat. Karena seluruh elemen yang ada di dalam tubuh NU ikut terlibat dalam menggerakkan Koin Konfercab ke setiap pedesaan. "Saat ini BMT NU luar biasa. 3 tahun terakhir jasa pertahun berkisar 200 juta. Dana tersebut diperuntukkan mendanai NU terutama kegiatan sosial kemasyarakatan," ungkapnya, suara tepuk tangan ramaikan suasana.

 

Ini nikmat yang harus disyukuri karena kita hadir ke NU untuk mengasah diri demi izzul Islam wal muslimin atau mengharap ridla Allah SWT.

 

Sambutan Tuan Rumah

KH. A. Munif Zubairi mengatakan bahwa pesantrennya kurang layak dijadikan tempat Konfercab. Karena sarana-prasarana pesantren tidak selengkap pesantren besar.

 

Pengasuh pondok pesantren Nasy'atul Muta'allimin Gapura tersebut merasa kagum kepada panitia yang menggerakkan Koin Konfercab hingga ke tingkat ranting. Jika gerakan ini tetap dipertahankan, dirinya yakin PCNU mampu membangun rumah sakit Islam.

 

"Mengapa Konfercab harus diletakkan di pesantren? Karena pesantren dan NU tidak bisa dipisahkan dan memiliki hubungan simbiosis serta mutualis," tegasnya.

 

Tak henti disitu, ketika pesantren mengalami degradasi akhlak maka NU akan maju untuk memperbaikinya.

 

"Pesantren adalah NU kecil, sedangkan NU adalah pesantren besar," ungkapnya saat menyitir pemikirannya Gusdur.

 

Wakil Rais PCNU Sumenep tersebut memberikan deskripsi bahwa hari ini anggota musyawirin menggunakan aksesoris yang beragam. Mulai dari cincin, tongkat, surban, tasbih, dan lainnya. Ini menandakan bahwa warga NU memiliki beragam tradisi yang belum ada di organisasi lainnya.

 

Dirinya berharap kepada anggota musyawirin untuk menjalani Konfercab dengan hati dan pikiran yang jernih serta mengedepankan prinsip-prinsip akhlakul karimah. "Ingat S3. Serius, santai, dan selesai dengan baik," pungkasnya.

 

Editor : Romza

PWNU Jatim Harlah