Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Pesantren Annuqayah Berduka, KH Abd Wadud Munir Wafat

Pesantren Annuqayah Berduka, KH Abd Wadud Munir Wafat
Almarhum KH KH Abd Wadud Munir.
Almarhum KH KH Abd Wadud Munir.

Sumenep, NU Online Jatim

Hari Senin (15/6) berita duka datang dari Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk, Sumenep. Seorang kiai yang istikamah mendidik santri meninggal dunia pada usia 78 tahun, yakni KH Abd Wadud Munir.

 

Menurut keterangan Koordinator Bani Syarqawi, Kiai Ahmad Irfan AW bahwa almarhum adalah putra dari pasangan Kiai Munir dan Ny Mamdudah. 

 

"Kiai Munir salah satu cicit almaghfurlah KH R Ruham, ulama terkemuka di Desa Kembang Kuning Pamekasan. Keturunannya melahirkan ulama yang alim seperti KH R Kholil As'ad Syamsul Arifin,” katanya kepada media ini. 

 

Dirinya menambahkan bahwa ibu almarhum salah satu cicit dari empat  ulama terkemuka di Madura. 

 

"Ny Mamdudah cicit atau keturunan dari 4 ulama terkemuka di Madura, antara lain KH Muhammad Asy-Syarqawi atau pendiri Pesantren Annuqayah, Kiai Muhammad Zubair Sumber Anyar, Kiai Muhammad Rowi Langgar Assem, dan Kiai Abd Akhir Arogan," jelasnya. 

 

Almarhum yang biasa disapa Kiai Wadud, menikah dengan Ny Hj Alif Layyinah yang juga putri almarhum KH A Basyir Abdullah Sajjad, paman sepupunya sendiri. 

 

Untuk jenjang pendidikan, almarhum mengawali dari madrasah ibtidaiyah hingga ke perguruan tinggi yang ditempuh di Pesantren Annuqayah. 

 

"Kala itu beliau angkatan pertama Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Annuqayah atau STISA yang merupakan cikal bakal Institut Ilmu Keislaman Annuqayah atau Instika," ungkap Kiai M Hazmi Basyir.

 

Dewan Pengasuh Pesantren Annuqayah Daerah Latee tersebut menjelaskan, ketika diambil mantu oleh KH A Basyir Sajjad, almarhum tipe orang yang bisa menjalankan dua profesi, yakni sebagai guru dan wirausahawan. 

 

"Beliau aktif mengajar hampir di semua tingkatan, baik di lingkungan santri putra dan putri. Di samping itu almarhum membantu mertuanya sebagai pengasuh Pesantren Annuqayah Latee saat mengisi pengajian kitab kuning," urainya. 

 

Pada saat yang sama, almarhum merupakan pebisnis ulet dalam mengelola beberapa unit usaha, baik yang ada di dalam maupun di luar pesantren. 

 

"Almarhum mampu mengelola beberapa usaha yakni toko dan foto copy yang merupakan usaha bersama dengan seluruh anggota keluarga besar Kiai Basyir," terangnya. Bahkan pada masanya, almarhum juga pembisnis tembakau dan komoditas-komoditas lain, lanjutnya. 

 

Dalam kenangannya bersama almarhum, yakni dikenal sebagai sosok penyabar dan tenang. "Sesulit apapun masalah yang dihadapi, beliau bisa menghadapinya tanpa panik. Bahkan saya tidak pernah melihat almarhum marah, karena mampu mengendalikan diri," jelasnya. 

 

Sedangkan KH Ah Syamli Muqsid dan KH Muhammad Husnan A Nafi' mengutarakan kesannya bahwa almarhum salah satu guru yang ahli di bidang ilmu tata bahasa. 

 

"Beliau sangat ulet, friendly dan penuh ketelaten saat mengayomi santri. Almarhum salah satu kiai dan guru yang menguasai ilmu bahasa Arab dan balaghah," jelas KH Ah Syamli yang dibenarkan KH Muhammad Husnan A Nafi'. 

 

Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh salah satu santri bahwa almarhum mengampu materi bahasa Arab. 

 

"Beliau sangat tekun dan teliti saat mengajar, terutama ketika mengisi pengajian kitab Kifayatul Atqiya'. Kata-kata beliau terstruktur rapi, bahkan sering mengulang-ulang pelajaran sebanyak dua kali," kata Gus Ahmad Bahrus Sholihin.

 

Santri Annuqayah tersebut mengingat kenangannya bahwa almarhum terkadang mengurangi ketegangan saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

 

"Almarhum juga gemar melontarkan joke-joke dan anekdot untuk menghibur para santri," kenangnya. 

 

Hal inilah yang menjadikannya Gus Bahrus meniru metodologi pembelajarannya saat menjadi tenaga pendidik. "Belakangan ini, ketika menjadi guru dan dosen, saya meniru metode dan strategi mengajar Kiai Wadud. Semoga apa yang beliau berikan kepada saya dan seluruh santri bisa bermanfaat bagi umat Islam," harapnya.

 

Kontributor: Firdausi
Editor: Syaifullah
 

PWNU Jatim Harlah