Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Pesantren Center: Holding Oke, Akusisi Jangan

Pesantren Center: Holding Oke, Akusisi Jangan
Direktur Pesantren Center, H Abdurrahman. (Foto: NOJ/Adi)
Direktur Pesantren Center, H Abdurrahman. (Foto: NOJ/Adi)

Malang, NU Online Jatim

Menteri Badan Udaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, telah memberikan perintah kepada PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk mengakuisisi PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Tujuannya untuk membentuk satu korporasi besar yang di khususkan untuk menangani UMKM dan ultra mikro.

 

Menanggapi hal tersebut, Direktur Pesantren Center, H Abdurrahman menjelaskan jika selama ini pegadaian dekat dengan warga pesantren. Mereka rata-rata masyarakat kalangan bawah.

 

"Di Kabupaten Malang saja ada 600 sekian pesantren, sedangkan yang sudah gabung di pesantren center ada 368 pesantren,” katanya, Sabtu (23/01/2021).

 

Disampaikan bahwa dari sejumlah pesantren ini mulai dari wali santri, santri sampai masyarakat yang tergabung dalam komunitas pesantren ini dari kalangan menengah ke bawah.

 

"Banyak dari mereka terlilit utang di rentenir, apalagi di pesantren sudah menjamur SMK. Hal ini membuat masyarakat yang tidak familiar dengan pesantren, kini berbondong-bondong memondokkan anaknya karena lebih murah dan ada asramanya," jelasnya.

 

Direktur Pascasarjana IAI Al-Qolam ini menjelaskan jika selama ini Pegadaian adalah solusi bagi masyarakat kalangan bawah.

 

"Saya banyak mengenal bank dan pegadaian, dan pegadaian ini adalah solusi masyarakat bawah. Dengan caranya yang merakyat, tidak begitu sulit, persyaratan yang mudah dan dipahami masyarakat," ujarnya.

 

Sementara perbankan masih sangat asing bagi masyarakat kelas bawah atau masyarakat pinggiran. Pasalnya sistemnya lebih berbelit daripada pegadaian.

 

Pria yang akrab disapa Gus Rohman ini mengatakan jika di beberapa media, pemerintah ingin menerapkan holding dalam rangka sinergitas antara BRI Pegadaian dan PNM. Ia mengatakan sebelumnya tidak ada instruksi akusisi baik dari presiden atau kementrian BUMN.

 

"Kemudian mencuat isu BRI akan mengakuisisi pegadaian. Sejujurnya kami di pesantren yang tahu masyarakat bawah ini khawatir jika itu benar-benar diakusisi kemudian caranya adalah cara-cara perbankan," ungkapnya.

 

Ia menegaskan jika demikian, akan semakin menyuburkan rentenir. Karena keberadaannya seperti gurita, sehingga tidak ada yang bisa menghapus keberadaan rentenir sampai kapan pun.

 

Beberapa pesantren memang sudah ada yang bisa menerangi rentenir. Namun sayangnya hanya pesantren besar atau modern yang mampu melakukan.

 

"Memang ada beberapa pesantren yang sudah memiliki Baitul Ma'al Takmir atau BMT, tapi yang memilikinya hanya pesantren besar atau modern di Malang dan kebanyakan wali santrinya kalangan menengah ke atas," tuturnya.

 

Pria berkacamata ini menjelaskan mendukung adanya holding antara BRI, Pegadaian dan PNM. Tapi ini tidak setuju jika akan dilakukan akusisi.

 

"Kalau menurut saya, adalah sebuah kemajuan holding itu, karena dalam bahasa kami terkoneksi terintegrasi itu lebih efisien, efektif dan lebih banyak fungsinya,” urainya.

 

Tapi jika caranya dengan akusisi itu sebenarnya tidak perlu untuk integrasi terkoneksi. Jadi untuk sinergi BRI, Pegadaian, PNM yang menggulirkan ultimate grow yang menjangkau UMKM.

 

“Dan masalah permodalan UMKM itu selalu kita sampaikan lewat pegadaian. Jadi, mungkin holding saja oke tapi kalau akuisisi jangan," pungkasnya.

 

Penulis: Adi

PWNU Jatim Harlah