Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Pesantren Mansyaul Ulum Malang, Dalami Wirausaha dengan Produk Kacang Bawang

Pesantren Mansyaul Ulum Malang, Dalami Wirausaha dengan Produk Kacang Bawang
Produk kacang bawang Pondok Pesantren Mansyaul Ulum. (Foto: NOJ/opopjatim)
Produk kacang bawang Pondok Pesantren Mansyaul Ulum. (Foto: NOJ/opopjatim)

Malang, NU Online Jatim

Para santri Pondok Pesantren Mansyaul Ulum, Ganjaran, Gondanglegi, Kabupaten Malang giat diajarkan berwirausaha. Sejumlah 600 santri mengembangkan usaha ritel sampai memproduksi camilan kacang banwang. Hal ini diungkapkan oleh KH Saiful Ghozi, Pengasuh Pondok Pesantren Mansyaul Ulum.

 

“Tiap hari santri itu pasti butuh makan, dan cemilan sebagai selingan makan. Itu juga yang jadi pertimbangan kami memilih jenis usaha, untuk memenuhi kebutuhan santri diinternal,” katanya, Senin (17/05/2021).

 

Dirinya mengungkapkan, bahwa usaha kacang bawang ini cukup laku dengan didistribusikan di kantin-kantin serta dititipkan ke toko-toko sekitar pesantren.

 

Kendati demikian, produk ini masih memiliki kendala dari faktor modal. Sedangkan untuk produksi, pesantren ini masih melibatkan alumni.

 

“Kami masih kesulitan modal, tapi kalau soal tenaga, kami di sini dibantu para santri. Supaya tidak mengganggu kegiatan pendidikan, maka untuk usaha kacang bawang ini kami libatkan para alumni. Dari lulusan sekolah sini, diberikan kesempatan bila ada yang ingin bekerja,” jelasnya.

 

Sementara itu, Gus Rohmatullah, Ketua Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Mansyaul Ulum mengakui selain kesulitan modal, produknya juga mengalami kendala pemasaran di luar pesantren yang harus memiliki izin.

 

“Maka sementara ini merela baru memasarkan di internal di kantin-kantin, sekolahan, warung-warung di sekitar pesantren,”

 

Oleh karena itu, Gus Rohmat berharap izin usaha kacang bawangnya bisa segera keluar sehingga pemasaran bisa lebih massif.

 

“Terlebih dengan program One Product One Pesantren (OPOP) Jatim yang mendorong kemajuan bisnis tiap pesantren,” harapnya.

Bank Jatim (31/7)