Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Pesona Kampoeng Batik Jetis Sidoarjo, Corak Bunga Banyak Diminati

Pesona Kampoeng Batik Jetis Sidoarjo, Corak Bunga Banyak Diminati
Sejumlah motif dan warna yang tersedia di Kampoeng Batik Jetis Sidoarjo. (Foto: NOJ/ Yuli Riyanto).
Sejumlah motif dan warna yang tersedia di Kampoeng Batik Jetis Sidoarjo. (Foto: NOJ/ Yuli Riyanto).

Sidoarjo, NU Online Jatim

Batik telah menjadi identitas bangsa Indonesia sekaligus sebagai pelestari budaya. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan kain batik. Hal ini merupakan bukti keanekaragaman budaya nusantara.

 

Begitu pula di Kabupaten Sidoarjo, kain batik tulis tradisional hingga kini masih terjaga dengan baik, salah satunya di Kampoeng Batik Jetis Sidoarjo. Nama Kampoeng Batik dipilih karena warga di kampung tersebut banyak yang menjadi perajin dan penjual kain batik.

 

Kampoeng Batik Jetis Sidoarjo adalah salah satu destinasi wisata yang terletak di Kelurahan Lemah Putro, Kecamatan Sidoarjo dan lokasinya dekat dengan Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo.

 

Kampung ini sudah ada sejak sekitar tahun 1675 silam dan sebagian besar perajin batik di sini turun-temurun hingga saat ini. Di Kampoeng Batik Jetis, pengunjung bisa berbelanja kain batik berbagai motif dan warna.

 

Di antaranya abangan dan ijo-ijoan (gaya Madura), motif beras kutah, motif krubutan (campur-campur), juga ada motif bunga, burung merak, dan aneka motif lainnya.

 

Sebelum pandemi, Kampoeng Batik Jetis merupakan tempat wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun dari luar kota pada hari biasa maupun hari libur.

 

Masuk Kampoeng Batik Jetis, mulai dari gapura depan hingga sepanjang jalan banyak dijumpai toko yang menjual kain batik. Salah satunya adalah Toko Adis Batik.

 

Slamet Riyadi sang pemilik toko mengatakan, dirinya berjualan kain batik tulis sejak tahun 2006. Menurutnya, harga kain batik tulis yang dijual di tokonya bervariasi tergantung tingkat kesulitannya. Mulai dari harga Rp 150 ribu hingga Rp 1 juta. Adapun yang banyak diminati adalah motif bunga.

 

“Selama masa pandemi ini sepi dan omset kami turun drastis, dalam satu bulan kadang hanya laku sepuluh potong. Sebelum pandemi rata-rata kami bisa menjual 50 potong per bulan, karyawan saya dulu ada tiga orang dan sekarang tinggal satu orang,” katanya kepada NU Online Jatim, Sabtu (04/09/2021).

 

Dijelaskannya, selain menjual batik tulis hasil karya ibunya sendiri, tokonya juga menjual aneka batik printing. Soal pelanggan, Slamet Riyadi mengaku banyak yang berasal dari luar kota, bahkan ada yang dari luar negeri seperti Amerika, Brunei, dan Malaysia.

 

“Kami berharap perajin dan pengusaha batik khususnya yang ada di Kampoeng Batik Jetis ini diberdayakan dan diperhatikan oleh pemerintah dalam hal ini Disperindag, misalnya apabila ada even pameran, subsidi, dan bantuan. Semoga pandemi ini segera berakhir agar perekonomian bisa pulih kembali,” pungkasnya.

 

Editor: Romza


Editor:
F1 PWNU Jatim