Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Politisi Tuding Makam Gus Dur Gunakan Uang Negara, Ini Kata Alissa

Politisi Tuding Makam Gus Dur Gunakan Uang Negara, Ini Kata Alissa
Makam Gus Dur di Komplek Pondok Pesantren Tebuireng. (Foto: NOJ/ Istimewa).
Makam Gus Dur di Komplek Pondok Pesantren Tebuireng. (Foto: NOJ/ Istimewa).

Surabaya, NU Online Jatim

Makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang berada di komplek Pondok Pesantren Tebuireng Jombang selama ini bermanfaat untuk masyarakat. Kotak amal di area makam Gus Dur bisa memperoleh ratusan juta bahkan miliaran rupiah dalam setahun.

 

Bahkan lokasi makam dengan jelas berada di komplek pesantren yang merupakan lahan milik keluarga. Namun, belakangan ini ramai menjadi perbincangan publik. Sebab Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Demokrat Rachland Nashidik menuding makam Gus Dur dibiayai negara.

 

Tudingan ini lantas dibantah dengan tegas oleh Alissa Wahid yang merupakan putri Gus Dur. "Bang @RachlanNashidik, makam Gus Dur sampai saat ini dibiayai oleh keluarga Ciganjur, termasuk prasasti. PP Tebuireng pun hormati ini," tulis Alissa di akun Twitternya @alissawahid, dilansir pada Sabtu (20/02/2021).

 

Ning Alissa mengatakan dana negara tidak untuk makam. Namun, dana negara digunakan untuk pembangunan jalan raya dan lahan berjualan warga di luar makam Gus Dur.

 

Bantahan juga datang dari Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Barisan kader ( Barikade) Gus Dur, Priyo Sambadha. Ia menegaskan bahwa makam Gus Dur sepenuhnya dibiayai oleh keluarga inti. Pemda, hanya membantu membangun infrastruktur sekitar makam.

 

Lebih lanjut Priyo menyampaikan, makam Gus Dur juga memiliki peran besar dalam meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar. Tanggapan tersebut disampaikan Priyo melalui akun Twitter pribadinya @Psambadha pada Jumat, (19/02/2021).

 

“Makam #GusDur dibiayai sepenuhnya oleh keluarga inti. Pemda hanya membangun infrastruktur pelebaran jalan, parkir bus dll demi kelancaran lalin krn ribuan peziarah setiap hari. Makam GusDur jg punya andil besar dlm peningkatan ekonomi masyarakat sekitar,” ujarnya.

 

Ia juga menjelaskan terkait kotak amal yang terdapat di makam Gus Dur yang kemudian disumbangkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan. “Hasil kotak amal yg jumlahnya lumayan juga seluruhnya dikembalikan ke masyarakat. Disumbangkan ke ponpes2, panti2 asuhan yatim piatu, bansos, dll. Tak ada yg dimanfaatkan untuk keperluan makam,” tutur Priyo.

 

Ia menambahkan, Gus Dur tetap bermanfaat bagi masyarakat meskipun dirinya telah tidak ada. Ia meminta kepada pihak manapun agar jangan ada yang mengusik lagi Gus Dur. “Intinya, amal dan 'manfaat' dari umat Tuhan yang sangat bersahaja bernama Gus Dur terhadap masyarakat dan kemanusiaan tidak berhenti ketika beliau wafat. Alhamdulillah. Puji Tuhan. Beliau sudah tenang di sisi mulia Tuhan Sang Maha Cahaya. Mohon dg hormat jangan diusik lagi,” kata Priyo.

 

Dilansir dari detik.com, Barikade Gus Dur juga melayangkan somasi kepada Rachland. Berikut isi Somasi tersebut:

 

1. Bahwa dari pemberitaan/cuitan saudara dalam media sosial twitter tanggal 17 Februari 2021 dan media online yang menyatakan makam Gus Dur dibiayai dari anggaran negara, yang mana hal ini menjadi alasan/mengaitkan dan atau pembanding atas polemik pembangunan Museum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Pacitan yang dibiayai oleh uang APBD dalam hal ini Pemprov Jawa Timur sebesar Rp 9 miliar.

 

2. Bahwa apa yang saudara katakan adalah sangat tidak benar/tendensius dan mengada-ada dan membuat para santri Gus Dur merasa terlecehkan. Oleh karena makam Gus Dur sepenuhnya dibiayai oleh keluarga inti.

 

3. Bahwa negara mengeluarkan biaya adalah untuk pembangunan infrastruktur jalan demi untuk kelancaran lalu lintas karena ribuan peziarah hadir setiap hari sepanjang tahun dan museum Islam Nusantara. Jadi sama sekali tidak untuk membiayai makam Gus Dur.

 

Sebelumnya, Rachland menuliskan dalam akun Twitter-nya bahwa makam Gus Dur dibangun menggunakan uang negara. Hal itu ia cuitkan pada 17 Februari 2021 menanggapi pertanyaan dari warganet.

 

Rachland awalnya mencuitkan soal pembangunan museum kepresidenan. Ia mencontohkan museum Bung Karno yang juga ada di Indonesia.

 

 

Menurutnya, museum merupakan jejak bagi ingatan sejarah yang juga bisa menjadi objek wisata bagi pendapatan daerah. Hal ini terkait pembangunan museum SBY di Pacitan yang belakangan dikritik karena dibiayai menggunakan APBD.

 

Pernyataan itu kemudian ditanggapi warganet yang menyindir ada pihak yang 'mengemis' anggaran untuk membangun museum keluarga.

PWNU Jatim Harlah