Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Produksi Masakan Tradisional, Pesantren Nur Yasin Bangkalan Mandiri secara Finansial

Produksi Masakan Tradisional, Pesantren Nur Yasin Bangkalan Mandiri secara Finansial
Produk Bebek Awet Madura. (Foto: NOJ/anita)
Produk Bebek Awet Madura. (Foto: NOJ/anita)

Bangkalan, NU Online Jatim

Pondok Pesantren Nur Yasin, Alaskokon, Modung, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur adalah salah satu pesantren produktif yang memiliki Pusat Pengembangan Teknologi Pangan dan Non Pangan. Adanya pusat pengembangan tersebut tidak lepas dari campur tangan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Gunungkidul. Lembaga ini memberikan pendampingan dalam pengembangan makanan tradisional yang mampu bersaing dengan makanan modern.


Gus Muhammad Karimullah, Koordinator Pengembangan Usaha, memaparkan bahwa pesantren memang memiliki ciri khas dari segi kemandirian baik secara finansial maupun usaha. Kemandirian tersebut adala upayauntuk meningkatkan kesejahteraan pesantren.


“Ciri khas pesantren kami adalah mandiri dari segi finansial dan usahanya. Sehingga kami mampu menyejahterakan pesantren, ustadz, guru, dan masyarakat secara luas,” katanya pada Kamis (12/11/2020).


Pondok Pesantren Nur Yasin memiliki produk unggulan yakni Bebek Awet Madura. Bebek awet madura yang baru dilaunching pada 2 Maret 2020 lalu merupakan masakan tradisional yang dikemas secara modern dengan kaleng yang bisa bertahan satu tahun tanpa bahan pengawet.

 

“Untuk menjadikan produk kami unggul dan berdaya saing tinggi, kami melakukan pemasaran baik secara online maupun offline. Dan tak lupa kami juga memanfaatkan jaringan alumni,” ujar Gus Karim, sapaan akrab Muhammad Karimullah.

 

Produksi masakan tradisional tersebut berada di bawah naungan Lembaga Pusat Pengembangan Teknologi Pangan Awet Muda Madura Food. Selain olahan bebek, PT Nur Yasin berencana akan memproduksi olahan pangan yang lain yakni kuah adun awet madura, srapa awet madura, ladeh awet madura, dan burung dara awet madura.

 

Gus Karim mengungkapkan bahwa omzet penjualan mencapai 50 juta rupiah dengan jumlah produksi sekitar 1000 kaleng dalam kurun waktu tiga hingga empat bulan.

 

“Alhamdulillah untuk omzet dari produk bebek awet madura mencapai 50 juta rupiah, dengan produksi sekitar 1000 kaleng lebih dalam waktu 3-4 bulan ini. Walaupun sedikit ada kendala karena adanya wabah ini,” terangnya.


Dengan hadirnya One Pesantren One Product (OPOP) Gus Karim berharap, program ini dapat meningkatkan pemberdayaan pesantren khususnya di sektor ekonomi.

 

“Harapannya, OPOP bisa menjadi tempat bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memperbaiki segala kekurangan. Karena pada umumnya UMKM memiliki berbagai batasan di segi keuangan,” harapnya.


Selain itu, Gus Karim juga berterima kasih kepada Ibu Gubernur karena telah memberikan perhatian khusus kepada UMKM yang ada di Pondok Pesantren.

 

“Terima kasih kepada Ibu Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, karena sudah memberikan perhatian khususnya terhadap UMKM yang ada di pesantren,” pungkasnya.

 

 

Penulis: Anita

Editor: Risma Savhira

Iklan promosi NU Online Jatim