Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Program Radio Nusa FM Sumenep Telaah Pemikiran Al-Ghazali

Program Radio Nusa FM Sumenep Telaah Pemikiran Al-Ghazali
Suasana dialog di radio nusa FM. (Foto: NOJ/Firdausi)
Suasana dialog di radio nusa FM. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Luasnya pemikiran Abu Hamid ibn Muhammad ibn Ahmad Al-Ghazali sangat mempengaruhi ilmu pengetahuan dan menempatkan tasawuf akhlakinya sebagai pendukung dalam rangka mendidik dan membimbing aspek esoterik manusia untuk mencapai ihsan atau sikap mental spiritual.

 

Penegasan ini disampaikan oleh Mahmudi yang didaulat sebagai narasumber di program suara nahdliyin radio Nusa FM Sumenep dengan tajuk telaah pemikiran Al-Ghazali sebagai Manhajul Fikr Ahlusunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, Kamis pagi (01/04/2021). Secara historis, karier intelektualnya dimulai belajar pada Ahmad bin Muhammad Al-Razikani di Naisapur. Setelah itu berguru pada Imam Al-Haramyn Al-Juwaini di Baghdad dengan mendalami ilmu kalam, tauhid, fiqh, logika, filsafat, dan tasawuf.

 

"Saat Al-Ghazali belajar pada Imam besar Baghdad, beliau diramal oleh gurunya bahwa kelak akan menjadi calon intelektual Islam yang akan memberi kontribusi besar pada dunia Islam. Apalagi kecerdasan dan kemampuannya unggul dibandingkan dengan teman-temannya saat itu. Hingga akhirnya diberikanlah gelar bahr al-mughriq (bahtera yang menghayutkan) dan zain al-din (hiasan agama)," urainya.

 

Tak sampai di situ, tokoh sufi yang mampu meramu beragam ilmu pengetahuan menjadi kesatuan itu diangkat menjadi guru besar dan pimpinan madrasah Nizamiyah. Selanjutnya, Algazel melakukan uzlah atau melakukan pengembaraan sufistiknya, seperti meditasi, menyendiri, dan menikmati kedekatan dengan Allah SWT.

 

"Berdasarkan data, tempat uzlahnya di salah satu menara yang suasananya sepi di Damaskus. Hal ini ia lakukan, semata-mata ingin menemukan kebenaran hakiki," ungkap Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-guluk.

 

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk itu menegaskan bahwa Al-Ghazali sosok yang multitalent yang menguasai seluruh disiplin ilmu, baik secara dlahiriyah atau pun batiniyah. Buktinya, karya-karyanya sampai saat ini dijadikan rujukan oleh ulama dan pesantren se-antero dunia, seperti Ihya' Ulumuddin, Maqasid Al-Falasifah, Tahafut Al-Falasifah, Al-Munqiz min Al-Dalal, Miyaul Ilm, Minhajul Abidin, Misykatul Anwar, dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan.

 

"Kami yakin pemikiran dan mahakaryanya bisa mencegah ekstrimitas dan sikap berlebih-lebihan (al ghuluw) yang dapat menjerumuskan seseorang pada penyelewengan akidah dan syariat. Untuk mencegahnya maka cara yang tepat dalam tasawuf lewat riyadlah dan mujahadah menurut kaifiyat yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam," tambahnya.

 

Pria yang juga tergabung dalam Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Ganding ini menyimpulkan bahwa pemikiran Algazel tetap dikembangkan dalam sebuah tradisi, kebudayaan, pesantren, madrasah dan perguruan tinggi.

 

"Yang kami rasakan, pemikirannya masih relevan di zaman 4.0 karena sentralnya manusia menurut Al-Ghazali ada di hati. Namun beliau tidak menafikan akal dan indera yang dijadikan sumber oleh manusia dalam menyingkap kebenaran hakiki lewat jalan tasawuf. Dengan berpedoman pada akhlak yang luhur, maka gerakan wahabisme jilid II akan mengurangi jumlahnya secara pelan-pelan," pungkasnya.

 

 

Editor: Risma Savhira

Iklan promosi NU Online Jatim