Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Proses Kedatangan Santri di Malang Dilakukan dengan Prokes Ketat

Proses Kedatangan Santri di Malang Dilakukan dengan Prokes Ketat
H Ahmad Rofik, Ketua Satgas Covid-19 Pondok Pesantren Modern Al Rifa’ie 02 Gondanglegi Kabupaten Malang. (Foto: NOJ/MMR).
H Ahmad Rofik, Ketua Satgas Covid-19 Pondok Pesantren Modern Al Rifa’ie 02 Gondanglegi Kabupaten Malang. (Foto: NOJ/MMR).

Malang, NU Online Jatim

Santri putra Pondok Pesantren Modern Al Rifa’ie 02 Gondanglegi Kabupaten Malang dinyatakan harus kembali ke pesantren pada Ahad (04/07/2021). Sehari sebelumnya, santri putri pondok pesantren setempat juga dituntut untuk kembali ke pesantren.

 

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 pesantren setempat, H Ahmad Rofik menyatakan, bahwa proses kedatangan santri ini sudah dilakukan koordinasi dengan Satgas Covid-19 Malang Raya dan Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka)

 

“Alhamdulillah, kemarin kami menerima kedatangan santri putri, dan sekarang giliran santri putra,” ucapnya saat ditemui NU Online Jatim di halaman pesantren.

 

Dirinya menyebutkan, bahwa pada proses kedatangan santri ini dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat. Salah satunya dengan menerapkan sistem drive thru atau pihak pengantar tidak boleh turun dari mobil.

 

“Penerapan prokes ketat juga kami berlakukan saat proses belajar mengajar nantinya. Seluruh pihak yang berada di area pesantren wajib menerapkan 5 M sebagaimana imbauan pemerintah,” tambahnya.

 

Tak hanya itu, santri yang datang juga wajib menunjukkan beberapa persuratan sesuai prosedur. Salah satunya ialah menunjukkan surat pernyataan kesediaan orang tua untuk santri kembali belajar di pesantren dan hasil swab antigen dengan keteragan negatif.

 

“Bagi santri yang dinyatakan positif, kami persilahkan isolasi mandiri terlebih dahulu di rumah masing-masing sampai kondisi benar-benar fit,” ungkap Abah Rofik, sapaan akrabnya.

 

Terkait santri yang terlambat kembali, Abah Rofik menyebutkan, bahwa santri yang terlambat karena isolasi mandiri di rumah masing-masing, maka yang bersangkutan dipastikan tidak menerima ta’dzir atau hukuman.

 

“Dengan catatan, keterlambatannya tersebut sudah dikomunikasikan terlebih dahulu sejak awal,” terangnya.

 

Abah Rofik menuturkan, bahwa pihaknya sudah mempersiapkan 15 tenaga medis dari pesantren untuk menangani santri apabila dinyatakan positif ketika berada di pesantren.

 

 

“Sedang ruang isolasi tersedia dua kamar yang cukup luas. Tentunya pula juga disediakan segala perlengkapan yang berkaitan dengannya,” jelasnya.

 

Ia pun berharap, seluruh santri akan selalu menerapkan protokol kesehatan di mana pun berada. “Semoga seluruh santri dapat peraturan ini, agar proses belajar mengajar berjalan dengan lancar,” pungkasnya.

 

Editor: A Habiburrahman


Editor:
F1 Bank Jatim