Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Rais NU di Sumenep: Pastikan Warga Merasakan Manfaat Jamiyah

Rais NU di Sumenep: Pastikan Warga Merasakan Manfaat Jamiyah
Jamiyah harus dirasakan manfaatnya oleh jamaah. (Foto: NUJ)
Jamiyah harus dirasakan manfaatnya oleh jamaah. (Foto: NUJ)

Sumenep, NU Online Jatim

Banyak cara yang dilakukan oleh Nahdliyin untuk menguatkan gerakan jamiyah. Salah satunya adalah mengadakan rapat konsolidasi pengurus agar bisa mengetahui seberapa besar pencapaian organisasi terhadap masyarakat.

 

Seperti halnya dilakukan oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan, Sumenep yang mengadakan rapat konsolidasi pengurus lengkap. Mulai dari jajaran mustasyar, syuriyah, dan tanfidziyah di kediaman KH Abu Yazid atau tetapnya di Pondok Pesantren Al-Azhar Panggung Desa Pekamban Daya, Senin (31/8/2020) malam.

 

Dalam pengarahannya KH Zarkasyi Abdurrahim menegaskan bahwa majunya organisasi diukur dari seberapa besar anggotanya tahu diri dan sadar diri.

 

"Inilah yang menjadi penentu organisasi akan maju. Jika demikian, saya yakin akan menjadi pendongkrak utama majunya organisasi sehingga keberadaannya benar-benar dirasakan oleh segenap elemen masyarakat," ungkap Rais MWCNU Pragaan tersebut.

 

Tak sampai di situ, yang juga penting diperhatikan adalah satu komando dalam menyikapi beragama persoalan. Jika sebaliknya, maka kapasitas sebagian jamiyah akan dipertanyakan secara organisatoris.

 

Dirinya menjelaskan ulang pesan moril Ketua MWCNU Pragaan yang dikirim lewat via WhatsApp di grup pengurus bahwa terdapat 4 golongan manusia menurut Syekh Abd Basith al-Fakhuri.

 

"Pertama, rajulun yadri wa yadri annahu yadri fahuwa alimun fattabi'uhu. Yang artinya, seseorang yang tahu (orang yang berilmu) dan dia tahu kalau dirinya tahu. Orang ini disebut alimun," terangnya.

 

Selanjutnya, yang harus kita lakukan adalah mengikutinya. Apalagi jika kita masih termasuk golongan orang awam. Maka kita butuh diajari olehnya.

 

Dalam pandangannya, itu jenis manusia yang paling baik. Manusia yang memiliki kemampuan ilmu dan mengamalkan ilmunya serta berusaha agar ilmunya benar-benar bermanfaat bagi dirinya, orang sekitar, dan bagi semua umat,. Ini harus dipertahankan di Pragaan dan jangan sampai turun rangkingnya karena beliau berfungsi sebagai penyadar bagi anggota lainnya, lanjutnya.

 

Yang kedua, rajulun yadri wa la yadri annahu yadri fahuwa naaimun fa ayqudzuhu. Artinya, seseorang yang tahu (berilmu) tapi dia tidak tahu kalau dirinya tahu. Jika diumpamakan ia sebagai orang yang tertidur.

 

"Sikap kita kepadanya adalah harus membangunkan dari tidurnya dengan bimbingan, arahan dan nasihat, agar ia menyadari bahwa dirinya memiliki ilmu dan kecakapan atau bakat," katanya.

 

Disampaikannya bahwa manusia seperti ini sering dijumpai. Terkadang menemukan orang yang sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa tetapi tidak tahu memiliki potensi tersebut.

 

"Keberadaannya seakan tak berguna. Selama dia belum bangun, maka SDM organisasi akan macet," ungkapnya. Berikan wadah atau tempat baginya agar mampu mengasah bakat tersebut, lanjutnya.

 

Yang ketiga, rajulun la yadri wa yadri annahu la yadri fahuwa mustarsyidun fa arsyiduuhu. Artinya, seseorang yang tidak tahu (belum berilmu) tapi dia tahu alias sadar bahwa dirinya tidak tahu.

 

"Jenis manusia seperti ini masih tergolong baik. Sebab ia menyadari kekurangannya. Lalu ia bisa berintrospeksi diri dan bisa menempatkan diri di tempat yang sepantasnya," ulasnya.

 

Karena dirinya tahu bahwa tidak berilmu, maka dia harus belajar. Karena dengan belajar sangat diharapkan bisa memiliki ilmu dan tahu dirinya berilmu sehingga dirinya bisa membesarkan jamiyah.

 

Yang keempat, rajulun la yadri wa la yadri annahu la yadri fahuwa syaitanun faj tanibuhu. Artinya, seseorang yang tidak tahu (tidak berilmu) dan tidak tahu kalau dirinya tidak tahu.

 

"Ini jenis manusia yang paling buruk bahkan diumpamakan sebagai syaitan. Orang seperti ini biasanya merasa paling mengerti, merasa tahu, dan merasa memiliki ilmu yang tinggi padahal dirinya tidak tahu apa-apa," tegasnya.

 

Menurut pandangannya, orang seperti itu susah disandarkan. Kalau diingatkan ia akan membantah dan merasa paling tahu. "Jangan sampai anggota kita disusupi setan. Kembalikanlah mereka kepada asal mulanya sebagai manusia yang sempurna," pungkasnya.

 

Editor: Syaifullah


Editor:
F1 Promosi Iklan