Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Rais Syuriyah MWCNU di Sumenep: NU Jangan Ditawar

Rais Syuriyah MWCNU di Sumenep: NU Jangan Ditawar
Suasana konsolidasi NU di masjid Al-Hidayah, Dusun Pesisir, Desa Aeng Panas, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Ahad (20/12/2020). (Foto: NOJ/ Firdausi).
Suasana konsolidasi NU di masjid Al-Hidayah, Dusun Pesisir, Desa Aeng Panas, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Ahad (20/12/2020). (Foto: NOJ/ Firdausi).

Sumenep, NU Online Jatim

Dalam tradisi masyarakat NU Jawa Timur, khususnya Madura, masyarakatnya bukan saja berkultur NU, melainkan telah menjadikan NU sebagai mazhab terbaik. Jangankan duduk di struktur maupun di kultur, seperti kaum petani, buruh, nelayan, dan lainnya, pasti membawa simbol NU.

 

Penegasan ini disampaikan oleh KH Zarkasyi Abdurrahim dalam kegiatan Konsolidasi dan Sidang Bahtsul Masail Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan, Kabupaten Sumenep. Ketika itu Rais Syuriyah MWCNU Pragaan tersebut memperjalas konsep jamaah dalam Aswaja NU di masjid Al-Hidayah, Dusun Pesisir, Desa Aeng Panas, Kecamatan Pragaan, Ahad (20/12/2020).

 

Kiai Zarkasyi mengatakan, Aswaja itu adalah ahli atau orang-orang yang berkomitmen untuk melaksanakan apapun yang diwariskan oleh baginda Rasulullah SAW. Baik berupa perkataan, perbuatan maupun ikrar persetujuan beliau.

 

"Untuk melaksanakan warisan Nabi itu, kita harus menyatukan langkah dalam wadah yang disebut jamaah," tuturnya penuh wibawa.

 

Ia menegaskan bahwa Islam Aswaja An-Nahdliyah tidak akan bisa berjalan sesuai kehendaknya tanpa jamaah yang terorganisir.

 

Menurutnya, jamaah bisa disimpulkan dari kalimat yang pernah disampikan oleh

Sayyidina Umar bin Khatab. Pemimpin yang dikenal sebagai Amirul Mu'minin itu mengatakan, al-ardha al-ardha, bumi.

 

"Maknanya, bumi yang kita pijak, bumi yang kita pangku, bumi yang oleh NU kemudian menjadi lambang bola  dunianya Nahdlatul Ulama," tegas Ketua Takmir Masjid Mustaqbil tersebut saat memberikan pengarahan kepada anggota musyawirin.

 

Ia melanjutkan, memangku bumi ini harus dipangku dengan kekuatan jamaah. Jamaah bukan sekedar berkumpul, tapi berkumpul secara terorganisir.

 

Alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan tersebut menyitir pesan agama, La Islama illa bil jamaah. La jamaata illa bil imaroh, wa la imarata illa bi at-tha'ah. Islam itu bisa kuat jika diikat dengan jamaah perkumpulan. Sebuah perkumpulan harus ada pengurusnya dan warga yang diurus, dan dalam kepengurusan ini pun memerlukan kepatuhan dan ketenggangrasaan yang kuat diantara warga yang ada di dalamnya.

 

"NU ini, sudah pas dan final sebagai jamaah dan jamiyah yang benar. Jangan ditawar- tawar lagi," paparnya penuh nasehat.

 

Selanjutnya, NU-nya sudah benar, hanya saja kita sebagai pengurusnya, perlu memperjuangkan melalui tahapan-tahapan yang harus dinaiki dengan prinsip logos, mitos dan etos.

 

 

Logos, sambungnya, adalah nilai atau tugas Keilahian yang memberi kesatuan, pertalian dan makna pada alam semesta. Mitos memiliki makna tugas keilahian itu harus terkonsep dengan strategi yang matang. Adapun Etos adalah semangat kerja yang tinggi dari para pengurusnya yang memungkinkan NU bisa melaksanakan program-programnya dengan gemilang.

 

"Semoga melalui rutinitas bulanan ini, warga NU bisa memetik hikmahnya. Sebab kami beserta pengurus harian di struktur NU, kami artikan sebagai pengkhidmatan dan proses jihad sosio-keagamaan," pungkasnya.

 

Editor: Romza

Iklan promosi NU Online Jatim