Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Receh yang Tak Boleh Dianggap Remeh

Receh yang Tak Boleh Dianggap Remeh
Ibu-ibu Muslimat dan Fatayat sedang menghitung hasil kotak infak. (Foto: NOJ/ Istimewa)
Ibu-ibu Muslimat dan Fatayat sedang menghitung hasil kotak infak. (Foto: NOJ/ Istimewa)

Oleh: Nur Kasanah*

Apa yang terpikirkan oleh sebagian besar kita jika mendengar uang receh dan koin 100, 200, 500 dan 1000 rupiah. Receh segitu buat apa, bahkan parkir pun sekarang 2000. Ah, paling cuma bisa buat beli permen, kerupuk, mengisi kotak infak.

 

Jika Anda ada di barisan jawaban terakhir, recehan adalah alternatif untuk mengisi kotak infak maka sudah saatnya melihat apa yang ada di Sragen, Jawa Tengah. Masyarakat Kabupaten Sragen, kususnya nahdliyin (jamaah Nahdlatul Ulama) melalui Pengurus Cabang NU (PCNU) dan NU Care Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah NU (LAZISNU) Kabupaten Sragen telah memulai langkah bagus. Mengelola receh atau koin yang semula terabaikan menjadi suatu maslahat besar yang tidak lagi di pandang remeh. Program ini mereka namakan dengan Gerakan Koin NU. 

 

Koin bisa diartikan sebagai uang koin atau recehan serta akronim dari Kotak Infak. Gerakan ini terilhami oleh kegiatan serupa yang ada di Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Dimana 107 kotak infak dibagikan untuk setiap kepala keluarga dengan mengumpulkan 500 rupiah mampu mengumpulkan Rp 300 juta dalam setahun. Penyalurannya untuk berbagai keperluan santunan dan pembangunan penerangan.

 

Gerakan Koin NU yang populer seperti sekarang, di ujicoba dulu dengan gerakan seribu rupiah sehari di anak ranting NU Jetak, Ranting NU Pringanom, MWCNU Masaran, Kabupaten Sragen pada pertengahan 2015. Teknisnya dicoba dengan membagi 30 kotak kepada Nahdliyin, dan berhasil mengumpulkan infak senilai 4, 2 miliar rupiah  setahun. Setelah peresmiannya, kemudian bisa berkembang menjadi lebih dari 45.000 kotak. 

 

Berbagai kegiatan baik internal NU atau masyarakat umumnya di Sragen, didanai dari uang receh yang dihimpun melalui Gerakan Koin NU. Mulai dari program karitas, misalnya pemberian sembako dan uang, mobil ambulan, penyaluran air bersih, alat kesehatan, bahan bangunan, beasiswa. Hingga program pemberdayaan, misalnya pemberian rombong jualan, kambing bergulir, gedung sekretariat MWCNU dan gedung sekolah NU, moda transportasi, swalayan NU Mart, BMT NU dan pembangunan rumah sakit Sumber Waras di Sumberlawang, Sragen.

 

Keberhasilan Gerakan Koin NU tersebut tentu bukanlah hasil sulap bim salabim atau usaha yang hanya satu dua hari. Manajemen yang Modern, Akuntabel, Transparan, Amanah dan Profesional (Mantap) adalah kuncinya. Dari hasil ngangsu kaweruh penulis selama menulis tugas akhir disana ada beberapa poin yang bisa ditiru, tentunya dengan berbagai inovasi sesuai karakter daerah masing-masing.

 

Manajemen pengumpulan dana (fundraising) Gerakan Koin NU dilakukan dengan mengumpulkan uang koin atau recehan yang di himpun dari warga NU. Menggunakan media berupa kotak kayu yang diseragamkan modelnya, dihimpun oleh ibu-ibu Fatayat dan Muslimat NU. Dilakukan secara langsung, baik melalui face to face ataupun memanfaatkan special event. Pengumpulan dilakukan setiap menjelang pertemuan rutin tingkat MWCNU dan hasilnya dilaporkan saat pertemuan rutin tersebut. Pelaporannya meliputi perolehan hasil infak dan jumlah kotak infak yang dibuka.

 

Manajemen distribusi dan pendayagunaan hasil infak berupa uang yang terkumpul digunakan untuk tujuan konsumtif dan produktif sesuai yang ditetapkan Standar Operasional Prosedur.

 

Manajemen pelaporan dilakukan mulai sejak tingkat ranting dengan pencatatan sederhana dengan buku baru. Setelah ditingkat MWC, pelaporan tersebut dibukukan melalui rekening bank. Untuk pengawasan dilakukan secara internal oleh tim audit PCNU dan NU Care LAZISNU Kabupaten Sragen dan pengawasan eksternal dilakukan tim audit PW NU Care LAZISNU Jawa Tengah. Hasil laporan keuangan dan hasil program Gerakan Koin NU dapat dilihat khalayak melalui website www.lazisnusragen.org dan media sosial seperti facebook, twitter dan instagram.

 

 


 

 

 Jadi sudah siapkah kita menjadi bagian yang memobilisasi dan mendayagunakan uang koin dan receh. Meski saat ini masih banya yang mengabaikan serta menganggap tidak bernilai. Maka, seharusnyalah dikelola dengan profesional supaya mampu memberikan kontribusi yang luar biasa bagi kemandirian masyarakat.

 

*Manajer Fundraising NU Care LAZISNU Jenangan, Kabupaten Ponorogo

F1 Promosi Iklan