Rembulan yang Terbelah dan Cerita di Balik Keislaman Raja Syiria

Rembulan yang Terbelah dan Cerita di Balik Keislaman Raja Syiria
Kali ini Nabi Muhammad menampakkan mukjizat yang dimiliki dengan membelah rembulan. (Foto: NOJ/Bb)
Kali ini Nabi Muhammad menampakkan mukjizat yang dimiliki dengan membelah rembulan. (Foto: NOJ/Bb)

اقسمت بالقمر المنشق أن له
من قلبه نسبة مبرورة القسم

 

Aku bersumpah dengan sumpah yang baik, demi rembulan yang telah terbelah menjadi dua, di antara rembulan itu dengan hati Sang Nabi sesungguhnya SAW ada pertalian yang menghubungkan keduanya.

 

Tentang rembulan yang terbelah yang merupakan salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW, kisahnya secara kronologis adalah sebagaimana berikut ini.

 

Setelah Abu Jahal dan gerombolannya merasa tidak mampu menghadapi Nabi Muhammad Saw, sementara matahari syari'at beliau makin tinggi dan orang-orang makin banyak yang beriman kepadanya, maka si gembong kafir itu lalu mengirim surat kepada Raja Syiria, Habib bin Malik, yang isinya sebagaimana berikut ini.

 

"Amma ba'du. Hendaknya diketahui oleh Sang Raja bahwa telah muncul di antara kita seorang tukang sihir yang sekaligus pembohong. Dia hanya mengakui satu Tuhan dan satu agama. Dia mencaci tuhan-tuhan kami. Setiap kali kami menghadapinya dengan berbagai argumentasi, selalu saja dia mengalahkan berbagai argumentasi kami. Hari ini agamamu dan agama leluhurmu telah lemah. Temuilah dia sebelum agamanya makin tersebar luas ke mana-mana."

 

Merespons surat Abu Jahal itu, Habib bin Malik langsung berangkat ke Mekkah bersama dengan dua belas penunggang kuda. Sampai di al-Abthah, Sang Raja dan rombongan berhenti. Abu Jahal dan para pembesar Mekkah langsung menyambutnya dengan berbagai hadiah. Habib bin Malik bertanya kepada Abu Jahal tentang Nabi Muhammad SAW: "Tuan, tanyakan saja langsung kepada Bani Hasyim," jawab si gembong kafir.

 

Orang-orang Bani Hasyim yang hadir di situ langsung memberikan jawaban: "Kami mengenal Muhammad sebagai orang yang jujur di waktu kecil. Setelah umurnya mencapai 40 tahun, dia lalu mencaci tuhan-tuhan kami dan menyebarkan agama yang bukan merupakan agama leluhur kami."

 

"Bawa dia ke mari," perintah Sang Raja, "kalau mau. Kalau tidak mau, paksa saja." Mereka minta seseorang yang mau memanggilnya.

 

Abu Bakar yang kemudian bersedia mendatangi Rasulullah SAW dengan membawa pakaian merah dan surban hitam. Keduanya lantas dipakai oleh Sang Nabi, menuju kepada mereka yang sedang menunggu di al-Abthah. Abu Bakar berada di sebelah kanan beliau, sedang Khadijah berada di belakangnya.

 

Ketika Habib bin Malik melihat Nabi Muhammad SAW, raja itu berdiri dalam rangka memuliakan beliau. Ketika Sang Nabi SAW duduk dan cahaya berkilau-kilau di wajahnya, mereka semua diam dan dirundung rasa takut. Kemudian terjadilah dialog antara Raja Syiria dengan Sang Nabi SAW sebagaimana berikut ini:

 

+: "Muhammad, engkau tahu bahwa semua nabi itu memiliki mukjizat, apakah kau punya mukjizat?"

-: "Apa yang kau inginkan?"

+: "Aku ingin matahari terbenam sekarang. Lalu muncul rembulan. Kau turunkan rembulan itu ke bumi, terus kau belah menjadi dua. Lalu rembulan itu menyatu kembali, naik lagi ke langit dengan terang-benderang."

-: "Apakah kau akan beriman kepadaku jika permintaanmu itu aku penuhi?"

+: "Ya, tapi juga dengan syarat kau beri tahu apa yang ada di hatiku."

 

Nabi Muhammad SAW lalu naik ke Gunung Abi Qubis. Di sana beliau shalat dua raka'at dan berdoa kepada Tuhannya. Malaikat Jibril turun menjumpai beliau dan berkata: "Sesungguhnya Allah Ta'ala menundukkan matahari, rembulan, siang, dan malam untukmu. Dan Habib bin Malik memiliki seorang putri yang lumpuh, tidak punya kedua tangan, tidak punya kedua kaki, tidak punya kedua mata. Sekarang Allah Ta'ala telah mengembalikan anggota-anggota tubuh itu pada putri Sang Raja."

 

Nabi Muhammad SAW turun dari Gunung Abi Qubis. Malaikat Jibril berada di angkasa. Para malaikat berbaris. Sang Nabi SAW menunjuk matahari dengan jarinya. Matahari berlari ke arah barat, lalu terbenam. Malam jadi kelam. Purnama muncul dengan terang-benderang. Sang Nabi SAW menunjuknya dengan jari, rembulan itu pun bergerak menuju bumi. Lalu terbelah menjadi dua. Kemudian menyatu, dan terbang lagi. Pun, matahari. Kembali sebagaimana semula.

 

"Masih ada satu syarat lagi," kata Raja Syiria. "Baiklah," sabda Sang Nabi SAW: "kau punya putri yang lumpuh tak berdaya. Sekarang Allah Ta'ala telah mengembalikan anggota-anggota tubuhnya dan menjadikannya sehat."

 

Dengan riang dan penuh keyakinan, Habib bin Malik, Sang Raja Syiria, menandaskan: "Wahai penduduk Mekkah, aku tidak akan kufur lagi setelah beriman. Ketahuilah sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusanNya."

 


Pernah nyantri di Pondok Pesantren Nurul Islam, Karangcempaka, Bluto, Sumenep. Kini tinggal di Yogyakarta.

Iklan Medsos