Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Rempeyek Bayam, Sajian Khas saat Lebaran di Bojonegoro

Rempeyek Bayam, Sajian Khas saat Lebaran di Bojonegoro
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

Bojonegoro, NU online Jatim

Tradisi 'sowan' atau silaturahim ke kediaman KH Moh Thohir sudah menjadi kebiasaan di Desa Lengkong Kecamatan Balen Kabupaten Bojonegoro, utamanya saat Hari Raya Idul Fitri. Seperti sekarang ini meski masih suasana pandemi Covid-19, silaturahim dilakukan dan tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19.

 

Namun ada yang menjadi pembeda saat sowan ke kediaman Kiai Thohir. Pasalnya, di rumah pengasuh Pondok Pesantren Tasdini yang ada di Desa Lengkong tersebut menyiapkan camilan khas, berupa rempeyek bayam yang menjadi incaran santri dan masyarakat saat berkunjung ke kediamannya.

 

"Setiap tahun selalu menyediakan rempeyek bayam, sudah menjadi kebiasaan selama bertahun-tahun saat lebaran Idul Fitri," kata Kiai Thohir sembari mempersilahkan menikmati jamuan yang disediakan.

 

Rempeyek pada umumnya di Kabupaten Bojonegoro berbahan baku tepung yang dicampur kedelai, kacang hijau maupun udang sebelum digoreng. Tetapi rempeyek bayam, buatan Nyai Zulfa (istri Kiai Thohir) sengaja dibuat dari sayur bayam yang banyak tumbuh di Desa Lengkong. Rasanya yang gurih, renyah dan menyehatkan menjadi sajian pembeda diantara roti kaleng, kacang-kacangan dan yang lainnya.

 

"Banyak yang bertanya (rempeyek bayam) saat silaturahim lebaran, tidak hanya dari desa sendiri dan sekitarnya. Namun dari luar kecamatan maupun luar daerah juga menanyakan," ungkapnya sambil tersenyum.

 

Saat silaturahim tidak sedikit santri dan masyarakat berdiskusi dengan Kiai Thohir. Baik seputar agama maupun topik kekinian seperti Covid-19 dan insiden di luar negeri. Mereka santai mengobrol sembari menikmati rempeyek bayam yang disediakan.

 

Salah seorang santri yang membantu melayani tamu di kediaman KH Moh Thohir, Cahyono menceritakan, setiap lebaran Idul Fitri selalu standby di rumah Kiai Thohir. "Hari pertama lebaran yang silaturahim santri dan masyarakat Desa Lengkong sangat banyak," tuturnya.

 

Ditambahkan Kang Yoyon, panggilan Cahyono, baru satu jam melayani mereka yang silaturahim sudah tiga sampai empat kali mengisi toples berisi rempeyek bayam yang sudah menjadi ciri khas. "Sehingga harus keluar masuk mengambil rempeyek bayam, karena banyak yang tanya untuk menikmatinya (rempeyek bayam)," imbuhnya.

 

Sementara itu, Supriyanto mengaku setiap tahun selalu silaturahim ke kediaman Kiai Thohir. Menurutnya, meskipun ia berusia 35 tahun lebih masih mengaji di Kiai Thohir bersama jamaah lainnya yang lebih tua.

 

 

"Kalau silaturahim ke Kiai Thohir, tidak lengkap kalau belum makan rempeyek bayam," pungkasnya sambil menikmati rempeyek bayam dengan malu-malu.

 

Editor: Romza

F1 Promosi Iklan