Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Rijalul Ansor Jatim Awali Pengajian Bulanan dengan Kitab Riyadlu Akhlaq Sholihin

Rijalul Ansor Jatim Awali Pengajian Bulanan dengan Kitab Riyadlu Akhlaq Sholihin
Pengajian Bulanan Rijalul Ansor Jatim. (Foto: NOJ/LY)
Pengajian Bulanan Rijalul Ansor Jatim. (Foto: NOJ/LY)

Surabaya, NU Online Jatim

Pimpinan Wilayah (PW) Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor (RA) Jatim mengawali pengajian bulanan setiap selasa awal Bulan Masehi yang dilangsungkan secara virtual dari kantor PW Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jatim, Selasa (02/03/2021) malam. Acara ini dirangkai dengan peringatan Haul Habib Iqbal Assegaf, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor periode 1995-1999.

 

Beberapa anggota RA dan GP Ansor yang hadir tampak khidmat menyimak kajian Kitab Riyadlu Akhlaq Sholihin yang diampu oleh Ketua PW MDS RA Jatim, H Mohammad Nailur Rochman. Kitab tersebut dikarang oleh Syekh Ahmad bin Muhammad ‘Abdullah, seorang mufti dari Dagestan, Rusia.

 

Banyak hal yang disampaikan oleh Gus Amak dalam kajian itu, semuanya terkait hawa nafsu dan akhlak yang ada di dalam diri manusia. Diterangkannya, bahwa akhlak adalah tonggak agama dan menjadi inti utama dari agama, dengan kita berpegang teguh kepada akhlaq yg baik, maka akan terwujud masyarakat yang baik.

 

“Dan dengan melepaskan akhlaq maka akan terjadi berbagai macam cobaan dan musibah-musibah,  ketika kita tahu bahwa baik buruknya sebuah masyarakat dimulai dari pribadi kita masing-masing. Bagi siapapun yang berakal dan ingin mewujudkan masyarakat yang baik, dia harus memperbaiki akhlak yang kurang dari dirinya,” kata Gus Amak sambil mengutib Kitab tersebut.

 

Gus Amak mengatakan, di dalam bab pertama kitab ini, dijelaskan bahwa nafsu bisa diartikan sebagai  jiwa (hawa nafsu) dan hubungannya dengan akhlaq (karakter) manusia terbagi menjadi 3 fasal, yakni tentang hakikat nafsu, tazkiyatun nafsi (pemurnian/pembersihan jiwa), dan tobat.

 

“Nafsu itu adalah satu hal yang sangat lembut yang tidak bisa diketahui bentuknya dengan cara apapun, nafsu berasal dari pemberian (anugerah) dari Allah, dia adalah ruh sebelum bergandengan dengan hajat. Ketika Allah memerintahkan nafsu utk berikatan dengan jasad, ia mulai mengenal selain Allah, maka kemudian mereka menjadi terhalang-halangi untuk mengenal Allah,” jelas Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pasuruan ini.

 

Menurut cucu KH Abdul Hamid Pasuruan tersebut, nafsu itu sesungguhnya adalah sesuatu yang tidak pernah lepas dari syahwat, lalai, selalu disibukkan dengan urusan-urusan duniawi. Serta dikelilingi oleh pengaruh-pengaruh buruk dari setan yang berupa manusia dan jin, maka dia tidak pernah lepas dari dosa.

 

“Yang harus kita lakukan adalah memperbaiki nafsu kita, menghilangkan noda-noda dosa dan menjauhkan nafsu dari bahaya dosa, termasuk kotornya hati karena banyak dosa. Seperti lampu yang kotor maka cahayanya redup dan bahkan tidak bisa menerangi,” tegas alumni Universitas Ahmad Kastaru, Damascus, Suriah tersebut.

 

Dirinya menambahkan, bahwa orang yang hatinya mati bukan kehilangan cahayanya Allah, tapi cahaya yang ada di dalam hatinya tertutupi noda. Cara untuk memperbaiki diri kita adalah dengan membersihkan kaca yang mengotori tersebut.

 

“Tidak ada cara lain untuk menghilangkan noda-noda itu kecuali dengan bertaubat dan bersimpuh kembali kehadirat  Allah SWT. Kita tidak boleh puas diri dengan diri sendiri  dan kita harus selalu mencurigai nafsu, itulah kunci agar kita selalu taat, waspada, serta kuat dalam menghindari maksiat,” urainya.

 

Mengakhiri kajian, Gus Amak mengingatkan, bahwa nafsu adalah musuh abadi, kita tidak boleh mudah bertoleransi kepada nafsu kita sendiri, makanya banyak ulama yg keras terhadap dirinya sendiri tapi lembut kepada orang lain.

 

“Kita bisa mengenali siapa jiwa (diri) kita dan bagaimana kita memperlakukan nafsu dan kita bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT,” pungkasnya.

 

Rangkaian acara pengajian malam ini diawali dengan pembacaan Ratibul Haddad, Kajian Kitab Riyadhu Akhlak Sholihin, sambutan Sekretaris PW GP Ansor Jatim, pembacaan Yasin dan Tahlil, dan diakhiri dengan doa bersama.

 

Editor: Rofi'i Boenawi

PWNU Jatim