Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Saat Puluhan Kacamata Baca Tak Mampu Membantu Lora di Madura

Saat Puluhan Kacamata Baca Tak Mampu Membantu Lora di Madura
Ternyata kacamata bisa jadi sarana efektif untuk menutupi kekurangan. (Foto: NOJ/GK)
Ternyata kacamata bisa jadi sarana efektif untuk menutupi kekurangan. (Foto: NOJ/GK)

Menjadi anak kiai apalagi cucu tokoh terkenal, tentu membanggakan. Ke mana saja tentu akan dihormati khalayak. Apalagi di kalangan masyarakat yang memang sangat menjunjung tinggi trah dan dzurriyah.

 

Namun hal tersebut dapat menjadi beban, bahkan malah bisa juga sebagai beban kalau sang anak maupun cucu kiai yang di Madura dipanggil lora ternyata tidak memiliki pengetahuan yang memadai.

 

Kejadian berikut dapat menjadi pelajaran, namun juga sebagai modus bagi keturunan kiai dan ulama besar, namun kurang memiliki kemampuan membaca kitab.

 

Suatu ketika di salah satu kota di Pulau Madura, ada kegiatan dengan menghadirkan banyak orang. Yang istimewa, kala itu sejumlah kiai dan ulama kenamaan turut hadir. Maklum acara haul tokoh terkenal.

 

Salah satu acara pada kesempatan tersebut adalah membaca kitab karangan kiai yang haulnya diperingati dengan cukup mewah. Dan sebagai penghormatan, salah seorang keturunan sang tokoh diberikan kesempatan untuk membaca dan mengulas kitab hasil karangan sang tokoh.

 

“Mohon maaf, tadi saya lupa tidak membawa kacamata baca,” katanya kepada panitia yang juga disampaikan saat sambutan di hadapan ribuan hadirin.

 

Sontak saja, hal ini membuat hadirin kecewa.

 

“Saya memang tidak bisa membaca dengan baik kalau tidak dibantu dengan kacamata khusus,” kilahnya.

 

Seakan tidak ingin kehilangan kejadian langka itu, sebagian kiai dengan dibantu panitia menawarkan kacamata baca agar sang lora bisa membaca dan menerangkan isi kitab dimaksud.

 

Satu demi satu, kacamata yang disodorkan panitia dan kiai dicoba oleh lora dimaksud.

 

“Mohon maaf, ternyata seluruh kacamata yang ada tidak cocok,” ungkapnya.

 

Bahwa dengan sejumlah alat bantu penglihatan yang tersedia, ternyata belum mampu membaca dengan jelas.

 

“Sayangnya, setelah saya coba semua, ternyata masih kabur. Kalau kacamata saya yang di rumah, pasti mampu membaca dengan jelas tulisan kitab ini,” terangnya.

 

Salah seorang lora atau putra kiai yang duduk agak jauh mengatakan dengan suara lirih.

 

“Beliau sejatinya memang tidak alim dalam membaca kitab kuning,” sergahnya.

 

“Sehingga kalaupun diberikan kacamata dengan ukuran berapa saja, pasti beralasan tidak cocok,” katanya sembari terkekeh.

 

Jamaah yang ada di sebelahnya turut menahan tawa.

PWNU Jatim Harlah