Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Saat Rais MWCNU Pragaan Sumenep Mengajak Bershalawat 

Saat Rais MWCNU Pragaan Sumenep Mengajak Bershalawat 
Kepalan tangan saat menyanyikan mars Syubbanul Wathan saat safari ranting MWCNU Pragaan, Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)
Kepalan tangan saat menyanyikan mars Syubbanul Wathan saat safari ranting MWCNU Pragaan, Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim 

Berdasarkan hasil rapat koordinasi dan konsolidasi pengurus harian Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan, Sumenep, pengurus mulai menuntaskan program safari ranting. Kali ini yang disapa adalah Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Prenduan yang dipusatkan di kediaman Rais MWCNU Pragaan, Rabu (15/7).

 

KH Zarkasyi Abdurrahim sangat berhagia sebab pertemuan dihadiri oleh jajaran pengurus syuriah, tanfidziyah, lembaga, dan badan otonom NU yang ada.  

 

Rais MWCNU Pragaan tersebut menjelaskan bahwa pertemuan sebetulnya acara rutin bulanan PRNU Prenduan yang kemudian dipadukan dengan safari ranting pengurus MWCNU Pragaan. 

 

"Kemarin Ketua MWCNU menghubungi saya lewat telepon bahwa Pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia atau Lakpesdam juga ingin memeriahkan acara ini dengan kajian qanun asasi," katanya saat sambutan.

 

Selanjutnya, ia menyetujui permohonan tersebut sehingga acara yang digelar berlangsung lebih komplit dan meriah.

 

"Mudah-mudahan hadirnya semua bisa menjadi peneguhan NU Prenduan yang mengalami hambatan besar di tengah masyarakat yang metropolis sebagaimana disampaikan KH Asy'ari Khatib," ungkapnya.

 

Dirinya sepakat dengan yang disampaikan Kiai Asy'ari karena berdasarkan cerita ayahnya, almaghfurlah KH Abdurrahim ketika hendak pamitan ke KH As'ad Syamsul Arifin saat ingin menata kehidupan masyarakat Prenduan yang sebelumnya pernah dilakukan oleh pendahulunya yakni KH Muhammad Syarqawi dan KH Abuddin atau Kiai Gemma.

 

"Waktu itu abah pamit ke Mbah Kiai As'ad untuk menjadi tokoh agama di Prenduan. Ada salah satu perkataan beliau yang dijadikan jimat oleh abah, yakni kira-kira kamu kuat jadi kiai di Prenduan?," kisahnya. 

 

Di akhir sambutan, putra almaghfurlah KH Abdurrahim tersebut mengobati kekecewaan nahdliyat yang dikarenakan group hadrah al-banjari Lesbumi NU berhalangan hadir. Dirinya mempersembahkan sebuah bingkisan spesial yakni shalat Nariyah, Nahdliyah, dan Mars Syubbanul Wathan yang dibawakan dengan genre reggae. 

 

"Jika shalawat Nariyah dikatakan shalawat api oleh sebagian masyarakat, maka kami mengiakannya. Karena shalawat tersebut akan membakar ego kita dan akan mendinginkan hati seperti halnya Nabi Ibrahim AS dilemparkan ke dalam tumpukan api, namun tidak merasakan kepanasan," ujarnya. 

 

Selanjutnya, di NU juga ada shalawat Annahdliyah yang menjadi peneguh para Nahdliyin di Prenduan yang kata legenda Madura dikenal dengan sebutan desa merindu.

 

"Kami juga akan mempersembahkan Mars Syubbanul Wathan, semoga karya yang diciptakan oleh almarhum KH Abd Wahab Chasbullah pada tahun 1934 bisa meneguhkan semangat cinta tanah air," katanya. 

 

Dan sejurus kemudian, seluruh hadirin melantunkan shalawat Nariyah dan Annahdliyah serta kepalan tangan saat menyanyikan Mars Syubbanul Wathan.

 

Kontributor: Firdausi
 

Iklan promosi NU Online Jatim