Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Safari Ranting NU Pragaan Sumenep Bawa Pesan Dzikir dan Ilmu

Safari Ranting NU Pragaan Sumenep Bawa Pesan Dzikir dan Ilmu
Suasana kompolan di PRNU Aeng Panas, Pragaan, Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)
Suasana kompolan di PRNU Aeng Panas, Pragaan, Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Kompolan atau perkumpulan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Aeng Panas yang dilaksanakan setiap bulan dijadikan momentum oleh Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan Sumenep untuk mencari keberkahan dan bersilaturahmi dengan sesama Nahdliyin. Pertemuan ini dikemas safari ranting yang dipusatkan di kediaman salah satu pengurus Ranting yakni Ustadz Khairul Anam, Jumat (3/7).

 

Sebelum memasuki acara inti, Kiai Hambali Makhtum selaku Sekretaris MWCNU Pragaan memperkenalkan satu persatu jajaran pengurus harian, mulai dari unsur mustasyar, syuriyah, dan tanfidziyah.

 

Dalam sambutannya, KH Zarkasyi Abdurrahim mengatakan bahwa acara merupakan pertemuan spesial. Hal itu demi melecut semangat pengabdian anggota PRNU Aeng Panas menghidupkan organisasi melalui program diniyah dan ijtimaiyah. 

 

"Sebagaimana yang diilustrasikan oleh kegiatan ini, NU adalah organisasi kebangkitan ulama dan ilmu. Kenapa? Karena dunia tempatnya racun yang jauh dari rahmat,” kata Rais MWCNU Pragaan ini. 

 

Dikemukakan bahwa isi dunia ini terlaknat kecuali dengan dzikrullah. Bahwa afdalu dzikri adalah tahlil. Yang mana saat ini dijadikan ikon NU dalam amaliahnya.

 

“Hingga mengakar atau diyakini oleh warga pedesaan sebagai penawar racun dunia tersebut," jelasnya.

 

Putra almaghfurlah KH Abdurrahim tersebut menegaskan bahwa yang paling utama rentetan tahlilan adalah kalimat la ilaha illa allahu. Bahwa kalimat itu menjadi satu-satunya yang dimiliki serta meyakini, maka kegiatan amaliah lainnya akan secara otomatis dilakukan. 

 

“Contohnya setelah adzan dikumandangkan kita berdzikir, setelah iqamah juga, ketika shalat, dan setelah shalat pun kita berdzikir secara kontinu dengan amaliah lainnya," urainya. 

 

Dirinya melanjutkan wejangannya bahwa penawar racun lainnya adalah ilmu. Oleh karenanya beliau mewanti-wanti kepada Nahdliyin agar menjadi warga yang tidak lelah menjadi alimun (orang berilmu) atau mutaallimun (orang yang sedang belajar). 

 

“Sebagaimana menurut Imam Syafii, semakin menguak beragam ilmu pengetahuan, maka semakin menyadari ketidaktahuan kita dan sebaliknya atau mengetahuinya," pintanya saat menguatkan doktrin.

 

Berikutnya, Kiai Jamali Salim menyapa para pejuang generasi ulama salafus saleh yang kapasitasnya berbeda. Menurutnya, niat seseorang harus sesuai dengan niat yang ditanam dalam hati. 

 

“Kita datang ke sini tak lain ingin meneruskan perjuangan para muassis. Jika menemukan kendala saat berkhasiat di NU, sama halnya dengan kisah Rasulullah yang berat dengan tantangan dengan ketidaksenangan dari orang sekitar,” kata kiai yang juga pembina PRNU Aeng Panas dan Karduluk ini. 

Bahkan Nabi Nuh selama 950 tahun dimusuhi oleh tetangga dan kerabat dekat. Nabi Nuh dicap orang yang tidak baik, namun tidak pernah melakukan kedhaliman. 

 

Wakil Ketua MWCNU Pragaan tersebut mengemukakan bahwa menjadi orang baik tidak cukup dengan pengakuan publik dengan labelasi baik. Melainkan disesuaikan dengan amal perbuatannya individu. 

 

Dalam pandangannya, bagi Nahdliyin yang menjadi tantangan adalah kaum ibu. Jika pengabdian didukung oleh istri atau keluarga, maka harus mensyukuri. 

 

“Berbeda dengan yang tidak mendukung, sehingga dijadikan tantangan oleh kita. Bisa-bisa dikatakan wali," ujarnya saat menjelaskan keramatnya sebab mendapat dukungan keluarga. 

 

Pembina Lembaga Bahtsul Masail (LBM) dan Lembaga Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) MWCNU Pragaan mengenalkan keberatan wakil ketua Pembina. Tugasnya membidik kemasyarakatan seperti pengumpulan dan pentasharrufan zakat, infaq dan shadakah serta urusan kesehatan Nahdliyin yang dibidani Kiai A Subairi Karim. 

 

"Periode kali ini juga aktif melaksanakan kajian masalah kemasyarakatan baik kajian tekstual qanum asasi maupun kajian isu kontekstual yang sedang aktual dibicarakan publik,” katanya. Kajian tersebut dibahas dalam wadah Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) yang bebannya diberikan kepada KH Asy'ari Khatib, lanjutnya. 

 

Dirinya menegaskan bahwa Kiai Asy'ari sapaannya juga membina Lembaga Ta'lif wan-Nasyr (LTN) yang fokus pada bidang penulisan, penerjemahan, dan penerbitan secara cetak dan online. Juga membina Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) yang saat ini masih mempertahankan macopat dan mamacah di Pragaan. 

 

"Adapun di bidang perekonomian dan pertaniannya dipercayakan kepada KH Asnawi Sulaiman,” katanya. Untuk bagian dakwah dan pendidikan dibina Kiai Imam Sutaji. Lembaga Takmir Masjid (LTM) dan Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) diamanahi kepada Kiai Sumaryadi. 

 

Sebelum acara dipimpin oleh pengurus harian MWCNU Pragaan, kegiatan diisi rentetan acara, yakni tawassul dipimpin Kiai Ach Maimun. Dilanjutkan tahlil yang dipandu Kiai Washil Aziz, dan kajian kitab Sullam At-Taufiq ila Mahabbatillah 'ala At-Tahqiq karangan Abdullah bin Husain bin Thohir Ba'alawi At-Tarimi, yang pimpin oleh Ustadz Suknan Tohir dengan membahas bab puasa. Acara diakhiri doa oleh KH Asnawi Sulaiman.

 

Kontributor: Firdausi
Editor: Syaifullah
 

Iklan promosi NU Online Jatim