Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Sayyidah Aisyah, Perawi Ribuan Hadits Wafat Bulan Ramadlan

Sayyidah Aisyah, Perawi Ribuan Hadits Wafat Bulan Ramadlan
Sayyidah Aisyah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki perempuan lain. (Foto: NOJ/INj)
Sayyidah Aisyah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki perempuan lain. (Foto: NOJ/INj)

Aisyah namanya, istri Rasulullah SAW yang merupakan putri dari Abu Bakar As-Shiddiq. Kesalehan karakternya menjadikannya disebut ummul mukminin atau ibunya orang-orang beriman. Juga disebut shiddiqa yakni perempuan yang jujur atau selaras antara yang dikatakan dan dikerjakan.

 

Ibnu Katsir, ahli tafsir Al-Qur’an terkemuka menggambarkan sosok Sayyidah Aisyah sebagai perempuan luar biasa. Bahwa di negara mana pun (pada saat itu) tidak ada perempuan sehebat Aisyah dalam hal ingatan, pengetahuan, kefasihan berbicara, dan kecerdasan. Beliau (Aisyah) melampaui semua perempuan dalam pengetahuan dan kebijaksanaan: beliau ahli dalam memahami fiqih (hukum Islam), menghafal puisi, dan semua ilmu syariah (hukum Islam).

 

Sementara Az-Dzahabi mengatakan: Aisyah adalah perempuan yang paling jenius di antara perempuan pada masa itu. Tidak ada perempuan yang setara dengannya.

 

Kecerdasan Sayyidah Aisyah dibuktikan dengan kemampuannya meriwayatkan 2210 hadits selama mendampingi Rasulullah SAW. Secara keseluruhan, Aisyah menempati posisi keempat sebagai perawi hadits terbanyak, setelah Abu Hurairah (5374 hadits), Ibnu Umar (2630 hadits), dan Anas bin Malik (2286 hadits).

 

Kecerdasannya yang luar biasa dan hafalannya yang kuat membuat Aisyah menjadi rujukan para sahabat. Salah satu sahabat terkenal bernama Abu Musa Al-Asy'ari mengatakan: Setiap kali ia dan para sahabat lain mendapati kesulitan dalam memahami hadits, mereka akan menemui Aisyah, dan Aisyah selalu paham akan hadits yang dimaksud.

 

Di antara hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah adalah tentang keistikamahan dalam melakukan amalan baik.

 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: سَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا وَاعْلَمُوْا اَنْ لَنْ يَدْخِلَ اَحَدَكُمْ عَمَلَهُ الْجَنَّةَ وَاَنَّ اَحَبَّ الْاَعْمَالِ اَدْوَمُهَا اِلَى اللهِ وَاِنْ قَلَّ.

 

Artinya: Dari Aisyah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Tetaplah pada jalan kebenaran dan bersahajalah. Dan ketahuilah bahwa pekerjaan seseorang di antara kamu tidak dapat menjadikan masuk surga. Sesungguhnya amal-amal yang paling disukai Allah adalah yang tetap terus berlangsung meskipun hanya sedikit.

 

Sayyidah Aisyah juga dijelaskan memiliki sifat zuhud, yaitu tidak menjadikan harta adalah alasan untuk bergembira maupun menderita.

 

Dirawikan oleh Hisyam bin ‘Urwah, bahwa Mu’awiyah suatu ketika memberikan Aisyah seratus ribu dirham. Uang sebanyak itu pada hari yang sama dibagikan oleh Aisyah kepada banyak orang. Kisah tersebut menjadi inspirasi bahwa harta adalah titipan yang sejatinya dapat didayagunakan untuk mencari keberkahan.

 

Kehidupan Sayyidah Aisyah identik dengan kisah cintanya sebagai istri Rasulullah SAW setelah wafatnya Sayyidah Khadijah, yaitu sekitar lima tahun (tiga tahun sebelum kepergian Rasulullah ke Madinah dan dua tahun setelah tinggal di Madinah). Aisyah yang mendapatkan panggilan kesayangan khumaira (pipi yang kemerah-merahan), menyajikan teladan indah kisah cinta sesama manusia.

 

Dalam hadits nomor 3706 kitab Shahih Bukhari dijelaskan: Dari Aisyah RA: Sesungguhnya Nabi SAW bersabda kepadanya: Aku melihat dirimu dalam mimpi dua kali, yaitu aku melihat (rupa) mu di sehelai sutra, dan seseorang berkata: Inilah istrimu, maka bukalah (wajah)nya. Ternyata dia adalah dirimu. Maka aku berkata: Jika ini adalah (pemberian) dari sisi Allah, maka Dia akan melaksanakannya.

 

Sedangkan Anas bin Malik berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Keutamaan Aisyah atas beberapa perempuan adalah seperti keutamaan kuah roti atas makanan yang lain.

 

Istri yang di akhir hayat berada di samping Rasulullah SAW, kemudian wafat tepat pada pada 16 Ramadlan 58 H setelah melaksanakan shalat witir di kota suci Madinah. Sama halnya dengan Sayyidah Aisyah, Sayyidah Khadijah juga wafat pada bulan suci, tepatnya 11 Ramadhan tahun kesepuluh setelah kenabian.

 

Lia Istifhama adalah Wakil Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.

F1 Promosi Iklan