Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Sekolah Aswaja, Cara IPNU di Banyuwangi Bentengi Pelajar dari Paham Radikal

Sekolah Aswaja, Cara IPNU di Banyuwangi Bentengi Pelajar dari Paham Radikal
Sekolah Aswaja oleh PAC IPNU-IPPNU Kota Banyuwangi. (Foto: NOJ/Vina Yunda Safitri)
Sekolah Aswaja oleh PAC IPNU-IPPNU Kota Banyuwangi. (Foto: NOJ/Vina Yunda Safitri)

Banyuwangi, NU Online Jatim

Sudah tidak asing lagi istilah hijrah dan radikal di kalangan remaja saat ini. Baik dalam ranah pergaulan maupun media sosial. Hal tersebut ternyata pengaruh dari informasi yang diterima. Karenanya, generasi muda Nahdlatul Ulama harus mendapatkan pengetahuan dan gambaran soal ini.

 

Menyikapi hal tersebut, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Banyuwangi menyelenggarakan Sekolah Aswaja sebagai program kerja. Dengan demikian, pelajar dapat mengetahui pemahaman dan gerakan radikal dengan baik dan benar.

 

“Pembukaan sekolah Aswaja sudah dimulai sejak Rabu yakni 16 Desember 2020. Kegiatan ini akan berlanjut selama dua pekan berdasarkan silabus yang telah dibuat PAC IPNU Kota Banyuwangi,” kata Rizal Jiwandono, Senin (21/12/2020).

 

Ketua PAC IPNU Kota Banyuwangi tersebut menjelaskan bahwa para peserta mendapatkan materinya tentang ideologi, khittah, analisis kawan dan lawan, dan sebagainya. Salah seorang pemateri yakni KH Abdillah As’ad yang menjelaskan Aswaja.

 

Disampaikannya bahwa pengaruh radikalisme sudah menjangkit seluruh kalangan. Karenanya acara yang dipusatkan di base camp PAC IPNU-IPPNU Kota Banyuwangi. tidak hanya dihadiri kader IPNU tetapi juga Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dan masyarakat sekitar.

 

“Tujuannnya supaya mereka paham apa, bagaimana, dan siapa Aswaja,” ungkapnya. Berikutnya mereka tidak sekadar mengetahui, tapi paham bagaimana gerakan dan pola pikir Aswaja, lanjutnya.

 

Dikemukakan bahwa sekolah Aswaja merupakan upaya membentengi kader IPNU dan IPPNU. Sehingga mereka tidak terpengaruh dengan kalangan yang mengaku Aswaja di berbagai tempat.

 

“Selain itu, kader dapat menganalisis terkait kondisi hari ini karena banyak yang mengklaim dirinya Aswaja, tetapi pemahamannya tidak jelas,” terang dia.

 

Dirinya juga menjelaskan fenomena yang tidak jarang membuat persepsi tentang Islam menjadi misguided arabisme (Arab yang kesasar jalan). Seperti saat ini, sering mendengar istilah ‘kembali pada Al Qur’an dan sunah’ atau istilah ‘penistaan agama’. “Padahal kalimat tersebut tidak serta merta dilabelkan kepada seorang atau kelompok tanpa melakukan penyelidikan secara mendalam terkait tuduhan tersebut,” keluhnya.

 

Lebih lanjut dikemukakan bahwa yang pertama dikenalkan kepada kader yaitu mengapa harus NU dan kriteria menjadi ulama yang hujjahnya patut dijadikan rujukan.

 

“Penjelasan mengenai bagaimana implementasi Aswaja pada NU dan kriteria ulama menjadi pondasi awal kader untuk tertarik mempelajari tentang bahaya radikalisme,” tandas Rizal.

 

Penulis: Vina Yunda Safitri

Editor: Syaifullah

 

Iklan promosi NU Online Jatim