Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Selain Silaturrahim, Perantau Asal Madura Ramai-ramai Ziarahi Leluhur

Selain Silaturrahim, Perantau Asal Madura Ramai-ramai Ziarahi Leluhur
Para perantau di Madura ziarah makam leluhur saat Lebaran. (Foto: NOJ/BT)
Para perantau di Madura ziarah makam leluhur saat Lebaran. (Foto: NOJ/BT)

Pamekasan, NU Online Jatim

Berkunjung kepada kerabat menjadi hal yang paling dinanti setelah usai Lebaran. Saking sakralnya, banyak perantau yang rela pulang  bertemu sanak famili di kampungnya masing-masing. Kebiasaan lain yang membuat mereka jauh-jauh pulang dari tanah perantauan ialah berziarah ke makam orang tua dan para leluhur di kampung halaman.

 

Di Madura, tradisi ini seakan menjadi kewajiban bagi perantau asal Pulau Garam. Seperti yang terlihat di Desa Tobungan, Kecamatan Galis, Pamekasan. Sselain bertemu dengan keluarga yang masih hidup, mereka berbondong-bondong berjalan kaki menuju makam guna mendoakan dan mengingat perjuangan para 'bhujuk' (nenek moyang) yang menjadi pencetus terciptanya masyarakat di desa tersebut.

 

Sebelum Idul Fitri tiba, tepatnya di hari ke-27 Ramadlan, masyarakat terlebih dahulu membersihkan makam keluarganya masing-masing. Kemudian sore hari setelah Shalat Idul Fitri masyarakat Tobungan ini melaksanakan kebiasaan turun-temurun tersebut.

 

A’wan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Galis KH Sayuti mengatakan, ziarah maqbarah adalah tradisi yang baik sebagai media penyambung antara keluarga yang sudah meninggal dunia untuk tetap dirawat dan mengajarkan pada anak-anak yang belum pernah bertemu dengan yang meninggalkannya.

 

"Apalagi sekarang anak-anak pada suka main HP terus. Kalau tidak diajak seperti ini bisa lupa mereka pada nenek-nenek mereka," katanya, Selasa (18/05/2021).

 

Ia menjelaskan, terdapat perbedaan antara berziarah langsung ke makam dengan hanya mengirim Fatihah dari rumah. Dia membandingkan dengan orang-orang yang berkunjuk ke makam para wali.

 

Orang tua atau nenek yang telah meninggal juga berperan penting dalam kehidupan manusia, baik sebagai orang yang melahirkan pun juga sebagai pendidik bagi anak-anak pada masa hidupnya.

 

"Jadi, aneh kalau orang cuma ziarahnya ke makam para wali tapi orang tuanya tidak pernah dikunjungi dan dirawat makamnya," ujar Kiai Sayuti.

 

Editor: Nur Faishal

F1 Promosi Iklan