Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Sepenggal Kisah Habib Ja'far dalam Menjauhi Dunia

Sepenggal Kisah Habib Ja'far dalam Menjauhi Dunia
Habib Ja'far Al kaff, Kudus. (Foto: NOJ/fb)
Habib Ja'far Al kaff, Kudus. (Foto: NOJ/fb)

Surabaya, NU Online Jatim

Habib Ja'far Al Kaff memang telah meninggalkan semua para pecintanya. Namun nilai-nilai dan tindak tanduknya tetap dikenang dan ada di hati. Tidak jarang Habib Ja'far Al Kaff memberi pelajaran berharga bagi jamaahnya. 

 

Suatu waktu, Habib Ja'far memanggil salah satu jamaahnya yang biasa dipanggil 'Kaji' dan memberinya uang sebanyak Rp 400 ribu.

 

"Ji, ini duit buat kamu. Buat beli Fortuner ya," kata Habib Ja'far.

"Iya, bib," ucap Pak Kaji sambil menghitung jumlah uang pemberian habib.

Melihat uang pemberiannya dihitung, Habib Jakfar berkata, "Jangan dihitung, Ji. Harus ikhlas," ujarnya.

 

Pelajaran pertama yang didapatkan dari Habib Ja'far, bahwa pemberian Allah baik berupa uang ataupun harta yang lain tidak boleh dilihat dari sisi materinya saja. Juga berapa jumlahnya. Tetapi lihat lah siapa yang memberinya, yakni Allah Ta'ala.

 

Beberapa waktu kemudian, Habib Jakfar mengajak Pak Kaji tersebut ke tepi laut.

"Ji, uang yang ada di dalam tas ini ayo dibuang ke laut. Diniati shadaqah sir (rahasia) ya," ajaknya.

 

Bersama salah satu khadim (pembantu), Pak Kaji tersebut membuang lembaran-lembaran uang ke laut. Menurut Pak Kaji, jumlah uang tersebut tidak kurang dari Rp 20 juta. Pak Kaji itu berpikir keras apa makna perbuatan ini.

 

Dari peristiwa ini, Habib Ja'far ingin mengajarkan bahwa bagi seorang arif billah, antara uang dan tanah liat nilainya tidak ada bedanya. Yang membuat berbeda adalah kecintaan hati kepada salah satu dari keduanya. Jika hanya memiliki rasa cinta kepada Allah, maka emas, uang atau yang lain tidak lagi berharga sehingga tidak layak dikejar apalagi dicinta.

 

Perbuatan membuang uang ke laut pernah menjadi sasaran kritik Ibnul Qayyim kepada kaum Sufiyyah yang melakukannya. Karena perbuaan tersebut secara fikih dhahir hukumnya haram disebabkan tadzyi'ul maal atau menyia-nyiakan harta. Namun Ba'dhul Arifien Quddisa Sirruh menepis hal tersebut.

 

"Kaum Sufiyyah membuang harta ke laut saat mereka mulai merasa hatinya tertambat dengan harta tersebut. Bagi seorang Sufi, haram hukumnya mencintai harta dunia, dan bahayanya cinta dunia itu lebih dahsyat dari dosanya menyia-nyiakan harta. Jika ditanya mengapa tidak dishadaqahkan, menurutnya, terhadap sosok Sufi seperti diri mereka sendiri saja, mereka tidak mempercayai untuk menyerahkan dunia. Apalagi terhadap orang lain, kekhawatiran tersebut membuat mereka terpaksa membuangnya ke laut," jelasnya.

 

Apa yang dilakukan Habib Ja'far juga selaras dengan hal di atas, di mana Habib Ja'far ingin mengajari jamaahnya supaya tidak cinta dunia. Dan hal tersebut dipraktikkan sendiri di depan matanya, membuang uang berjuta-juta ke tengah laut.

 

Kemudian saat akan pulang, Habib memanggilnya Pak Kaji kembali.

 

"Ji, kamu punya tanaman dalam pot di pojok rumah?," tanyanya.

 

Pak Kaji menjawab, "Benar bib," terangnya.

 

"Sampai rumah, dicabut saja," perintah Habib Ja'far.

 

Pak Kaji langsung tercengang. Bukan heran, Habib Ja'far bisa tahu dirinya punya tanaman itu dan dirinya begitu suka merawatnya. Padahal hal-hal kasyaf seperti itu sudah biasa dijumpai dalam diri Habib Jakfar. Tetapi dia kaget karena baru sadar, ini pelajaran penting untuk dirinya. 

 

''Harganya mahal. Saya membelinya Rp 7 juta,'' terang Pak Kaji.

 

Seketika Habib Ja'far memberi nasihat kepada Pak Kaji.

 

"Ji, bebaskan hatimu dari ta'alluq (condong) dengan tanaman berharga jutaan. Bersihkan hatimu dari suka mobil Fortuner. Bersihkan hatimu dari kicauan Lovebird. Bersihkan hatimu dari akik bacanmu . Bersihkan hatimu dari wajah cantik istrimu dan lucunya anak-anakmu. Bersihkan. Bersihkan. Dan bersihkan," pungkasnya.

Iklan promosi NU Online Jatim