Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Serunya Diskusi HTI dan PKI oleh Lakpesdam NU di Sumenep

Serunya Diskusi HTI dan PKI oleh Lakpesdam NU di Sumenep
KH Zarkasyi Abdurrahim (memegang mik) memberikan pengarahan sebelum kajian dimulai. (Foto: NOJ/Firdausi)
KH Zarkasyi Abdurrahim (memegang mik) memberikan pengarahan sebelum kajian dimulai. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Setelah beberapa bulan fakum karena Covid-19, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan melangsungkan diskusi tematik di kediaman Kiai Nawari. 

 

Lembaga yang dinakhodai Kiai Zubairi Hasyim tersebut mengangkat tema 'Bahaya Laten HTI dan PKI'. Diskusi dihadiri Abrari Alsael dan Kiai Ach Rofiq Syuja' sebagai pemateri, Sabtu (11/7).

 

KH Zarkasyi Abdurrahim mengapresiasi kajian tersebut karena periode kali ini seluruh lembaga dan Badan Otonom NU aktif.

 

Rais MWCNU Pragaan tersebut mengacungi jempol kepada Kajian Lakpesdam NU yang memiliki dua jenis yaitu kajian qonun asasi dan tematik. 

"Jika kajian qonun asasi peneguh keorganisasian dan kajian tematik peneguh kontekstualnya. Sehingga menjadi pencerahan bagi generasi muda NU dan bisa eksis dengan pemikiran-pemikiran washatiyah, taasamuh dan lainnya," ujarnya. 

 

Tidak berhenti di situ, Kiai Zarkasyi memiliki pandangan bahwa pengembang kajian ini sudah menggeliat dan berkembang sehingga muncul inisiatif untuk mengkader persoalan kekinian. 

 

Putra almaghfurlah KH Abdurrahim ini berharap format yang sudah berjalan harus menggabungkan antara ijtihad dan mujahadah (olah pikir dan olah rasa). Karena akan mengukukuhkan ideologi NU. "Mudah-mudahan kegiatan ini terus terlaksana hingga di akhir periode kami," harapnya saat memberikan pengarahan. 


Membincang Sepak Terjang HTI
Diskusi dimulai jam 21.00 WIB yang dipandu Ustadz Sulaiman dan mempersilahkan kedua penyaji menyampaikan makalahnya. 

 

Dalam pemasarannya, Kiai Ach Rofiq Syuja' bahwa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) semakin menggurita walaupun pemerintah sudah membubarkan. Namun faktanya mereka masih berkembang di masyarakat. 

 

"HTI berasal dari bahasa Arab, hizmun artinya partai sedangkan tahrir artinya kebebasan. Arti bebasnya adalah partai kebebasan. Dan jika berbicara partai, jadi konsepsi yang terbangun adalah politik,” jelasnya. 

 

Tak berhenti sampai di situ, HTI adalah partai politik yang digagas untuk merespons fenomena politik yang tidak adil dalam konteks implikasi terhadap masyarakat, baik di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, dan budaya. Sehingga dalam teori politik akan mendesak komunitas tertentu untuk semakin berani kepada pemerintah. 

 

Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk tersebut menjelaskan bahwa HTI didirikan oleh tokoh Islam yakni Taqiyyudin Annabhani yang menurut sejarawan mendirikannya pada tahun 1949.

 

"Lahirnya HTI karena penetrasi politik Palestina saat itu. Karena menjadi rebutan negara sekutu, sebut saja Amerika dan Inggris. Sehingga warga Palestina terjebak pada perang dan menyebabkan kalah," ungkapnya. Bahkan Afghanistan dan Irak pun di bawah kekuasaannya. 

 

Selanjutnya, ia menjelaskan asbab jatuhnya Palestina ke tangan sekutu yang menurutnya tentara sekutu dibantu oleh Yahudi Zionis atau Israel. Di mana sekutu menjanjikannya membuat pemerintahan di negeri yang dikenal kota seribu nabi.

 

"Tahun 1924 sekutu mengeluarkan sebaran bahwa Yahudi boleh melakukan imigrasi tanpa batas. Awalnya hanya 8 persen, tapi lambat laun Yahudi meningkat 80 persen menetap di Palestina," urainya.

 

Pada tahun 1947 Palestina dikuasai Israel yang kemudian berani memerdekakan dirinya sehingga masyarakat pri bumi tersingkirkan. "Inilah yang membuat Taqiyyudin Annabhani terpanggil untuk merekrut kader-kader agama untuk menentang ketidakadilan politik yang kemudian mendirikan partai politik yang mewadahi isu-isu politik dengan pembebasan masyarakat Palestina," tegasnya. 

 

Tak berhenti di situ, semangat Taqiyyudin Annabhani mampu menggaet artis-artis ibu kota ngetren dengan jenggot dan yang diteriakkannya adalah berjihad di Palestina. 

 

"Awalnya tidak banyak pesertanya, karena saat itu Taqiyyudin melawan iklim politik yang gerakannya separatis atau senyap tanpa diketahui oleh pemerintah. Hingga ia mengajukan mandat legalitas yang awalnya tidak disetujui namun akhirnya disetujui pula," curahnya sambil menebarkan senyumannya.

 

Alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut mengutarakan bahwa HTI dilegalkan di Indonesia. Karena secara geopolitik memiliki potensi untuk mengadu domba antar sesama bangsa, bahkan Indonesia memiliki lahan basah yakni sumber daya alam dan manusia.

 

Selanjutnya ia menyitir pendapatnya Muhammad Shaltut seorang sarjanawan sunni Mesir bahwa Indonesia adalah qith'atun minal jannah yang artinya sepotong surga yang diturunkan oleh Allah ke bumi.  "Bayangkan jika kita melempar satu biji, maka akan tumbuh," jelasnya. Wajar jika Indonesia dikenal negeri gemah rimpah atau loh jinawi.

 

Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-guluk tersebut menjelaskan asbab masuknya HTI ke Indonesia yang diawali oleh ketidaksengajaan pengasuh pondok pesantren Al-Ghazali Bogor menyekolahkan anaknya ke Australia dan bertemu dengan Abdurrahman Al-Baghdadi.

 

"Awalnya sang anak menemukan buku-buku HTI sehingga tertarik untuk mempelajarinya dan mengajak ayahnya untuk bertemu dengan Abdurrahman Al-Baghdadi yang mengatakan gerakannya bagian dari dakwah. Kemudian kiai kharismatik tersebut mengajak ke Indonesia untuk memperkenalkan pahamnya,” ungkapnya.

 

Tak sampai di situ, gerakannya mudah menyebar bahkan kalangan mahasiswa pun ikut mengaji yang mayoritas dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

 

Dirinya menegaskan bahwa HTI bukan berkembang melalui masyarakat bawah seperti halnya NU. "Gerakannya massif, sistematis, dan terstruktur. Mereka membawa atribusi keumatan," tegasnya. Bagi mahasiswa yang basic agamanya lemah, maka akan mudah dipengaruhi. 

 

Selanjutnya, ia menjelaskan pengalamannya saat menuntut ilmu di UIN Sunan Ampel yang mana kala itu Unesa, Unair, dan ITS atau kampus-kampus negeri dijadikan bibit yang mudah digaet ke kelompok Islam trans nasional, skiptualis, atau fundamentalis yang orang-orangnya mendadak alim tetapi tidak pernah belajar agama di pesantren .

 

"Mereka merekrut mahasiswa menyediakan kontrakan gratis, mengajak untuk shalat berjamaah, dan mengadakan kajian ta'lim. Ingat mereka getol menggunakan istilah-istilah Arab," terangnya.

 

Tak sampai di situ, HTI menjadikan kampus sebagai lahan basahnya melalui Lembaga Dakwah Kampus (LDK) bahkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang didominasi oleh aktivis andal dengan modus dakwah menyebarkan Islam sehingga mudah diterima. 

 

"Selain LDK dan UKM, mereka menguasai masjid kampus sebagai proses pengkaderannya," jelasnya.

 

Tak sampai di situ, mereka menyebarkan pahamnya sangat luas. Saat ada pertemuan antara beberapa kampus, ia menjadikan pertemanan sebagai jembatannya untuk memperluas sayapnya tanpa mengatasnamakan HTI.

 

"Mereka senang mengatasnamakan dirinya sebagai mahasiswa yang gemar mengikuti kajian keislaman yang endingnya berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin yang digagas oleh Jalaluddin Al-Afghani," tegasnya. Gerakannya sama dengan Sayyid Kutub dengan tafsirnya Fi Dhilalil Quran (di bawah naungan Quran) yang mampu menaungi rakyat dengan menggunakan dasar Quran. 

 

Dosen Institut Sains Teknologi (IST) Annuqayah Guluk-guluk tersebut menjelaskan bahwa saat Orde Baru HTI tidak berani menampakkan diri. Ia hanya memanfaatkan kampus dan pertemanannya sebagai media dakwah. Namun saat tumbang pada tahun 1998 mengajukan legalitasnya kepada pemerintah.

 

"Seorang kader dianggap militan jika menguasai 4 kitab Taqiyyudin Annabhani, salah satunya Nidhamul Islam Takkatul Hizbi Mafahimu Hizbi Tahrir Nafsiyah Islamiyah dan memiliki 30 halaqah yang setiap halaqah memiliki 5 orang," ungkapnya. 

 

Selanjutnya ia menjelaskan tingkatan pengkaderan HTI, antara lain: hizbiyyin, daris yang dibawah awasan musyrif, dan Gemma atau gerakan mahasiswa pembebasan.

 

"Proses pengkaderannya dimulai dari pertemanan melalui LDK, masjid dan wadah lainnya. Lalu menjalin interaksi dengan masyarakat dengan membawa modal isu politik dan agama, contohnya perundangan porno aksi dan LGBT. Terakhir mereka tunduk kepada keputusan pemerintah dengan cara memonitor kebijakan pemerintah, contohnya penolakan Obama, demo BBM di masa pemerintahan SBY" urainya. 

 

Dirinya menyitir pemikirannya Gus Baha bahwa ajaran mereka sederhana sehingga mudah diterima oleh masyarakat. "Ciri lainnya adalah mereka tidak memihak kepada pemerintah dan mengeklaim bahwa sistem politiknya bukan berasaskan Islam bahkan mengeklaim dengan sebutan politik kafir," tegasnya. 

 

Dengan demikian demo yang memblokade jalan raya dijadikan edukasi yang endingnya merongrong negara dan akan membangkitkan berdirinya khilfah walaupun mereka belajar melalui kitab terjemahan. 
 
"Gerakan sekolah tahfidzul Quran salah satu bagian dari mereka. Padahal dalam sejarah pesantren materi dasar yang diajarkan oleh kiai hanya berkutat pada aqidah, fiqih, dan syariat. Tidak ada tafsir dan hafalan quran, yang ada hanya Tafsir Jalalain," terangnya. 

 

Pengasuh LPI Al-Islamiyah Aeng Panas tersebut menegaskan bahwa secara kultural mereka membentuk budaya digital maksudnya mengusai media cetak dan online. 

 

"Saat kami kuliah di Surabaya, majalah Al-Wa'ie dan Ad-Dakwah serta buletin HTI tersebar di kantor dosen dan staf akademik. Disebarnya paham lewat media tersebut berawal dari hasil kajian yang kemudian dibukukan dan disosialisasikan lewat masjid dan lainnya," tegasnya 

 

Membincang Kiprah PKI
Di kesempatan berbeda, Abrari Alsael mengibaratkan PKI seperti grup band Superman is Dead.

 

"Komunisme suatu ajaran yang berkembang di Uni Soviet yang mengajarkan tanpa kelas. Tokohnya adalah Sayyid Marx dan Lenin," sontak para undangan tertawa terbahak-bahak. 

 

Dilanjutkannya, masuknya HTI dan PKI ke Indonesia sama-sama diamini oleh sebagian pemerintah saat itu yang ajarannya menganggap agama tidak begitu penting bagi penganutnya. 

 

Mantan anggota DPRD Sumenep tersebut menegakkan bahwa yang terpenting menurut mereka adalah kemakmuran bersama yang diatur oleh negara dan rakyat harus mengabdi kepada negara lalu mengembalikannya sebagai kemakmuran. 

 

"Tahun 1955, PKI menjadi kontestan politik dan menjadi pemenang ke-4 setelah NU, Masyumi, PNI. Bahkan 1 orang anggota DPR Sumenep berasal dari PKI,” katanya. 

 

Selain itu, tahun 1955 mencapai puncaknya yakni 30SPKI. "Jika dipikir-pikir seolah PKI yang kejam yang dilambangkan oleh 1 film yang dibuat oleh Soeharto," ajaknya.

 

Dirinya mengajak kepada audien buku 'Palu Arit diladang Tebu' perlu digarisbawahi bahwa tidak semua sejarah yang dituliskan Soeharto belum tentu benar. 

 

"Di situ ada konflik militer. Karena yang membantai dewan jenderal tidak semua PKI. Sebut saja Lekol Untung yang ditengarai bersekutu dengan PKI," jelasnya. Di sebelahnya ada Soeharto yang konotasinya angkatan darat dan ingin melanggengkan dirinya jumawa.

 

"Inilah alasannya Soeharto membuat film G 30S PKI yang ada peran militer dan seolah-olah melakukan pembantaian. Padahal tidak seperti itu karena sejarah selalu hadir dan berpihak kepada yang benar," jelasnya. 

 

Selanjutnya ia menegaskan bahwa isu kebangkitan PKI dibangun atas kepentingan politik oleh pihak yang tidak setuju dengan kelompok yang berkuasa. 

 

"Jika kita terjebak kepada spektrum yang dimainkan oleh para politisi yang tidak sependapat dengan penguasa, maka kita akan tertarik secara pelan-pelan pada permainannya," ujarnya.

 

Mas Abe sapaannya menegaskan bahwa wacana saat ini ibarat sedang bermimpi burung. Karena sesungguhnya PKI sudah habis. "Inilah yang membangkitkan emosi lama terutama kalangan Ansor. Bahkan kasus Ahok dimunculkan kembali karena wajahnya China. 

 

Dosen Instika tersebut mengenang masa lalunya bahwa matrikulasi pelajaran sejarah yang dikenal PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) tidak ditemukan nama Seokarno mulai halaman pertama hingga terakhir. 

 

"Negara ini akan aman dari bencana, sepanjang dalam rumah warga aman. Maksudnya, jika sebuah keluarga aman, maka saya pastikan aman dari ancaman," jelasnya saat menyitir pemikiran KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. 

 

 

Kontributor: Firdausi

Iklan promosi NU Online Jatim