Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Soal Kemandirian, Pesantren Sunan Drajat Lamongan Layak Jadi Rujukan

Soal Kemandirian, Pesantren Sunan Drajat Lamongan Layak Jadi Rujukan
Dikelola profesional, unit usaha Pesantren Sunan Drajat Lamongan kian berkembang. (Foto: NOJ/ATl)
Dikelola profesional, unit usaha Pesantren Sunan Drajat Lamongan kian berkembang. (Foto: NOJ/ATl)

Lamongan, NU Online Jatim

Selama ini, kiprah pesantren dalam menggerakkan ekonomi maupun memberdayakan warga sekitar kurang mendapatkan perhatian. Sepinya pemberitaan, dan tidak terlalu tertariknya pesantren untuk berbagi kabar, seakan membenarkan kondisi tersebut.

 

Padahal bila ditelisik dengan seksama, sudah banyak pesantren yang memberikan andil dalam sektor ini. Tidak semata memenuhi kebutuhan pesantren dengan beragam usaha yang digeluti, juga menyediakan lapangan kerja bagi sejumlah kalangan.

 

Hal tersebut seperti yang dilakukan Pondok Pesantren Sunan Drajat (PPSD), Paciran, Lamongan. Dari semangat awal untuk menghidupi pondok, KH Abdul Ghofur selaku pengasuh pesantren melakukan berbagai kegiatan usaha di samping tetap berdakwah. Kini, aneka unit usaha pesantren tersebut berkembang begitu pesat. Hingga memiliki ribuan karyawan.

 

’’Prinsip Abah (sebutan KH Abdul Ghofur, Red) itu berani melarat untuk pondok. Berani melarat untuk perjuangan agama,’’ ucap Ketua Bidang Perekonomian PPSD Anas Alhifni suatu ketika.

 

Pria yang biasa dipanggil Gus Anas itu menambahkan, arti dari prinsip tersebut adalah, seorang kiai harus berjuang dan berusaha menghidupi pondoknya. Bukan malah mencari penghidupan dari pondok.

 

Keuntungan dari aktivitas unit-unit usaha itu kini menjadi penopang jalannya kegiatan pesantren. Maka, tak heran jika para santri PPSD sampai saat ini tidak dibebani biaya SPP maupun administrasi yang mahal.

 

Saat ini, untuk asrama dan makan dua kali sehari, santri hanya membayar Rp 350.000 per bulan. Bahkan, dari 14 ribu santri yang kini menuntut ilmu di PPSD, seribu di antaranya ada yang dibebaskan biaya sama sekali. Mereka disebut santri karyawan. Selain belajar ilmu agama, mereka juga membantu pesantren dengan mengurusi unit-unit usaha milik pesantren.

 

Usaha Dikelola Profesional

Kini, PPSD sudah memiliki beberapa unit bisnis yang dikelola secara profesional. Misalnya, PT SDL yang bergerak di bidang produksi pupuk dan persewaan alat berat. Ada juga CV Aidrat yang memproduksi air minum dalam kemasan.

 

Selain itu, PPSD sudah lama ‘bermain’ dalam usaha garam dapur melalui UD Samudra Sunan Drajat. Untuk unit usaha garam, kemampuan produksi mereka saat ini mencapai 50 ton sehari. “Pemasarannya sudah masuk di Jawa dan Bali,” ujar Gus Anas.

 

Semua yang sudah disebutkan itu adalah unit bisnis PPSD yang mengarah ke pasar di luar pesantren. Di dalam lingkungan pesantren sendiri, PPSD juga mendirikan beberapa unit bisnis lain. Di antaranya, percetakan, kantin, minimarket, laundry, warnet, tekstil, sampai potong rambut. Jadi, semua kebutuhan buku, seragam, maupun keperluan sehari-hari santri berusaha dipenuhi sendiri oleh pesantren.

 

Unit-unit usaha tersebut di luar aktivitas Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) PPSD. Sampai saat ini, Kopontren PPSD terus bergerak di bidang keuangan syariah. Sudah ada sebelas cabang Kopontren PPSD. Total aset yang mereka miliki Rp 50 miliar.

 

“Salah satu cabangnya ada di Madura,” tegas Gus Anas.

 

PPSD adalah di antara pesantren yang tergabung dalam One Pesantren One Product atau OPOP yang menjadi andalan Gubernur Jawa Timur. Kiprahnya memberikan nilai tambah bagi ratusan pesantren di provinsi ini yang terus berupaya mengembangkan aneka usaha.

Iklan promosi NU Online Jatim