Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Sosialisasikan Covid-19, Kopri Guluk-guluk Gelar Kajian Online

Sosialisasikan Covid-19, Kopri Guluk-guluk Gelar Kajian Online
Kajian Covid-19 digelar Kopri Guluk-guluk Sumenep secara online. (Foto: NOJ/Firdausi)
Kajian Covid-19 digelar Kopri Guluk-guluk Sumenep secara online. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Awal tahun 2020, dunia digemparkan dengan merebaknya virus baru, yakni Coronavirus (SARS-COV-2) atau yang disebut Coronavirus Desiase 2019 (COVID-19) yang berasal dari Wuhan, Tiongkok, China. 

 

Jenis ini ditemukan di akhir Desember 2019, yang mana sampai saat ini sudah dipastikan terdapat 29 negara yang terjangkit pademi Covid-19. Berita seputar ini menjadi perhatian utama semua negara terutama Indonesia, agar seluruh rakyat selalu waspada dan tetap siaga menghadapi wabah ini. 

 

Masalah tersebut menggerakkan Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Putri atau Kopri Komisariat Guluk-guluk Sumenep mengadakan kajian khusus yang bersifat online. 

 

“Kajian yang kami lakukan demi memberikan konstribusi mengenai cara efektif penanggulangan virus Corona serta mensosialisasikan pembatasan jarak kontak sosial dan mengurangi pemutusan kontak persahabatan,” kata Mahsunah Baihaqi, Jumat (10/4).

 

Ketua Kopri ini menjelaskan bahwa diskusi dengan menghadirkan Ahmad Rofiqi sebagai pemantik dan Husnul Chotimah Fauzi selaku moderator. Adapun tema yang diusung ‘Berdamai dengan Covid-19’.

 

“Rutinitas kajian Kopri tidak akan putus dikarenakan Covid-19, justru dengan adanya masalah ini warga pergerakan bisa mengurangi kepanikan, ketakutan, bahkan sebagian masyarakat mengentengkannya,” kata Rofiqi yang juga tim Satgas Covid-19 Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Bluto tersebut.

 

Hal tersebut terjadi karena kurangnya pengetahuan tentang Covid-19 dan pemahaman keagamaan yang masih minim, serta semangat beragamanya terlalu tinggi.

 

Anggota Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) MWCNU Bluto itu membandingkan Covid-19 dengan virus SARS dan virus MERS yang pernah ada sebelumnya. Bahwa angka kematian pasien Covid-19 lebih rendah dibandingkan dengan virus SARS dan MERS. Catatan WHO menjelaskan bahwa angka kematian virus SARS mencapai 10% dan virus MERS 37%.

 

"Namun saat ini tingkat infektivitas virus pneumoni Covid-19 diketahui setara dan lebih tinggi daripada virus SARS dan MERS," urai dia.

 

Sekretaris Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Bluto tersebut menegaskan bahwa Covid-19 dapat menimbulkan gejala ringan, sedang, dan berat. 

 

"Gejala klinis utama yang muncul yaitu demam dengan suhu di atas 38 derajat celcius, batuk, dan kesulitan bernapas disertai juga sesak napas memberat, fatigue, mialgia, gejala gastrointestial seperti diare dan gejala saluran napas lainnya," ungkapnya.

 

Kajian Agama
Dijelaskan pula bahwa dalam perspektit Islam, wabah sudah ada sejak dulu, mulai zaman Nabi, sahabat, tabi'in, hingga saat ini.

 

"Di zaman Ibn Hajar al-Asqalaini pernah menerapkan pembatasan jarak kontak sosial antarsesama masyarakat. Hal ini dilakukan dalam rangka mencegah penyebaran wabah,” jelasnya. Bahkan pernah mengadakan istighotsah, namun peningkatan kematian semakin meningkat, lanjutnya.

 

Kejadian inilah membuat ulama bersepakat untuk menjaga jarak demi menjaga keselamatan diri. Karena pada dasarnya Islam selalu mempermudah dan memberi keringanan dalam kegiatan ubudiyah, contohnya shalatnya seorang musafir, shalat saat perang, shalatnya orang sakit dan yang lainnya.

 

"Permasalahan saat ini di Indonesia sering ditanggapi negatif oleh sebagian masyarakat, contohnya peniadaan shalat Jumat," sergahnya.

 

Fatwa ulama Indonesia yang viral di medsos tidak usah dikhawatirkan lagi kebenarannya. Karena mereka menemukan hukum tersebut berdasarkan ijtihad yang bisa dipertanggungjawabkan.
 

Mengenai referensi hukum bisa diakses di hasil bahtsul masail PWNU Jawa Timur dan tidak diragukan legi kredibelitasnya. Dalam hasil bahtsul masail tersebut sudah diuraikan semuanya, mulai dari segi pedoman ibadahnya serta mengurus jenazah.

 

"Covid-19 bisa memperbanyak diri melalui sel host-nya. Virus tidk bisa hidup tanpa sel host. Jadi, virus corona tidak akan berkembangbiak lagi ditubuh manusia yang sudah mati", jelasnya.

 

Penolakan jenazah yang sangat berlebihan bisa kita luruskan dengan pengetahuan ini. Karena hakikatnya, jenazah Covid-19 yang ditangani dokter, sangat dijaga kesterilannya. Mulai dari peti mayat dan yang lainnya.

 

Dirinya menyampaikannya bahwa ini adalah tugas kader muda NU untuk meluruskan masalah. Terkait penolakan jenazah, memusuhi, dan menjaga jarak yang berlebihan ditimbulkan oleh kepanikan dan ketakutan masyarakat. 

 

“Maka dari itu, pengetahuan tentang Covid-19 harus disosialisasikan secara massif oleh kader, minimal kepada keluarga, tetangga, dan teman-teman sejawatnya,” jelasnya.

 

Jika memiliki kerabat yang merantau di daerah zona merah, maka hukumnya wajib untuk mengingatkan prosesur kesehatan perjalanan. 

 

“Kita terus edukasi sambil bekerja sama dengan Puskesmas dan aparat desa agar bisa mengisolasi secara sementara,” pungkasnya.

 

 

Terkait hal ini, Husnul Chotimah Fauzi selaku moderator mengajak peserta menyikapi dengan tenang, jangan panik, dan tetap waspada serta patuhi protokol kesehatan yang telah diberlakukan. 

 

“Ikhtiar ini bukan untuk diri kita sendiri, tapi kita wajib mengedukasi siapa pun termasuk keluarga," kata Sekretaris Kopri Guluk-guluk tersebut.

 

Hikmah kajian online harus diamalkan secara pribadi dan dasar yang kuat. Di era digital banyak kalangan yang semangat mengabarkannya sangat tinggi, tetapi jarang diamalkan. 

 

“Contohnya pamflet istighotsah sering dishare oleh seseorang, tapi sedikit yang mengamalkannya,” tandasnya.

 

Kontributor: Firdausi
Editor: Syaifullah
 

Bank Jatim (31/7)