Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Sosok Gus Baha yang Kian Memesona

Sosok Gus Baha yang Kian Memesona
KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha di Pondok Pesantren Bustanul Huffadz As-Saidiyah Sampang. (Foto: NOJ/Istimewa)
KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha di Pondok Pesantren Bustanul Huffadz As-Saidiyah Sampang. (Foto: NOJ/Istimewa)

Oleh: Muhammad Muhallil*

 

Beberapa waktu berselang, KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha berkunjung ke Madura yakni Sumenep. Kedatangan kiai yang digandrungi banyak kalangan ini menyisakan catatan terkait bagaimana belajar menghormati guru.

 

Sebuah ‘kaidah alam’ yang bukan rahasia lagi, bahwa di balik kemuliaan luar biasa yang dicapai seseorang, pasti ada penghormatan dan takdzim yang juga luar biasa kepada seorang guru. Bagaimana seorang Sayyidina Abu Bakar menangis haru ketika mendapat izin untuk mengawal hijrah Rasulullah, padahal harta bahkan nyawa adalah taruhannya. Tapi bagi sahabat pilihan ini, tawaran tersebut dianggap ‘khidmah’ yakni sebuah anugerah tak terkira. Alih-alih menganggapnya sebagai beban atau bahan keluhan seperti realita banyak santri di era saat ini.

 

Bagaimana seorang Imam Subki turun dari unta yang dinaikinya setelah mengetahui bahwa orang Baduwi penuntun untanya pernah menghadiri pengajian Imam Nawawi. Bagaimana seorang Syaikhana Khalil sampai rela turun dari sebuah delman karena khawatir kuda delman itu adalah salah satu dari keturunan kuda gurunya, Syaikh Abdul Ghani Bima. Demikiian pula bagaimana sangat menghormati gurunya, Syaikh Abdul Adhim An-Naqsyabandi bahkan setelah Syaikhana wafat dan berpindah ke alam barzakh.

 

“Tadi ketika saya mau ziarah ke makam Syaikhana Khalil, tiba-tiba di depan gang saya ‘diusir’ oleh beliau. Beliau menyuruh saya untuk berziarah dulu ke makam gurunya Syaikh Abdul Adhim,” kata seorang waliullah al-Mursyid Habib Muhsin al-Hinduan Sumenep ketika ditanya mengapa kembali di tengah jalan sebelum sampai ke makam Syaikhana Khalil.

 

Bagaimana raut wajah Habib Umar akan berubah khusuk dan penuh takdzim setiap kali siaran radio di mobilnya memutar ulang rekaman pengajian sang guru, Habib Abdul Qodir Assegaf. Bagaimana seorang Habib Mundzir al-Musawa akan segera turun dari kursi lantas bersimpuh di lantai ketika mendapat telepon dari gurunya, Habib Umar bin Hafidz meski jarak sang guru ribuan kilometer di Tarim Hadhramaut sana. Dan masih banyak bukti nyata lain.

 

Pun begitu dengan Gus Baha. Meski kealiman dan kejeniusan adalah sisi yang banyak dikenal dan diekspos selama ini, dari dulu saya sudah curiga, bahwa di balik kemuliaan luar biasa yang didapatkan saat ini pasti ada penghormatan luar biasa juga kepada para guru.

 

Selama ini kita mengetahui hormat dan kefanatikan Gus Baha kepada Mbah Kiai Maimun Zubair, itu sudah bukan rahasia lagi. Tapi kunjungannya ke Madura kemarin membuat saya mengetahui sisi takdzim lain dari seorang Gus Baha.

 

Seperti biasa, destinasi yang wajib dikunjungi pertama kali ketika menginjakkan kaki di bumi Madura adalah makam Syaikhana Khalil. Gus Baha seakan ingin mengajarkan satu adab: kalau mau bertamu ke suatu tempat, sowan dulu ke tuan rumahnya, ke shahibul wilayahnya, jangan asal nyelonong masuk begitu saja. Saya tidak sempat mengawal Gus Baha di Bangkalan, tapi melalui orang dalam yaitu dua murid kinasih yakni Habib (Sodiq Alkhered dan Muhammad Ismail al-Ascholy ) saya mendapat informasi bahwa Gus Baha sedang menuju salah satu pesantren di Kota Sampang yang namanya mungkin masih asing di telinga masyarakat Madura yakni Pondok Pesantren Bustanul Huffadz As-Saidiyah.

 

Saya awalnya bertanya-tanya, di tengah jadwal padatnya, untuk apa Gus Baha rela meluangkan waktunya untuk berkunjung ke sebuah tempat?

 

Saya sampai di Pondok Bustanul Huffadz sekitar jam 16:30 WIB, ketika itu Gus Baha dan rombongan sudah ada di dalam bersama pengasuh. Saya masuk, Gus Baha mempersilakan saya untuk duduk di dekatnya. Jika dulu selalu menanyakan: “Mengapa nikah kok jauh-jauh ke Yaman?“, maka kali ini Gus Baha bertanya: “Katanya sekarang udah jadi artis?“

 

Saya tersenyum tanpa menjawab. Dalam hati saya berkata: “jauh lebih artisan panjenengan Gus.”

 

Bagi saya, seorang Gus Baha adalah fenomena. Ketika keviralannya tidak kalah dengan para artis dan tokoh, ceramahnya bahkan ditonton jutaan kali di Youtube, tapi seakan dia tak peduli dengan semua itu. Terbukti sampai sekarang –di saat orang-orang berlomba-lomba untuk membeli gawai Iphone atau Android terbaru- Gus Baha justru masih tetap memakai gawai Nokia Simbian jadul yang mungkin sudah tidak layak jual atau bahkan sudah punah di pasaran. Gus Baha tidak punya Facebook, WhatsApp, apalagi Instagram.

 

Pada akhirnya saya tahu, bahwa ternyata Gus Baha berkunjung ke pondok itu bukan untuk mengisi seminar atau ceramah, melainkan untuk silaturahim sekaligus hormat dan tabarruk. Apakah pernah ngaji di sana? Tidak! Jadi begini ceritanya:

 

Gus Baha mempunyai sanad al-Quran melalui jalur ayahnya KH Nursalim, KH Nursalim mengambil sanad dan berguru kepada KH Abdullah Salam Kajen, dan KH Abdullah Salam berguru kepada Kiai Said Ismail pendiri pondok yang Gus Baha kunjungi.

 

Jadi, kunjungan Gus Baha bukan dalam rangka hormat kepada guru (langsung) tapi guru dari guru ayahnya! Kiai Said sendiri ternyata memang dikenal sebagai seorang ahli al-Quran yang banyak mencetak ulama besar seperti KH Hasan Askari (Mbah Mangli) KH Abdullah Salam dan masih banyak murid lainnya. Gus Baha sendiri pernah mengatakan bahwa Kiai Said adalah seorang ulama kelahiran Mekkah yang sudah hafal al-Quran sebelum usia baligh, dan ketika disebut nama Syaikh Said dalam sanad al-Quran, maka yang dimaksud adalah Kiai Said Sampang.

 

Pada acara di Sumenep kemarin, Gus Baha juga menyampaikan: “Saya ini punya komitmen dari dulu untuk tetap istikamah membaca kitab-kitab Mbah Mun, bersama santri saya juga muhibbin. Saya tidak mau menjadi ‘tersangka’ seorang santri yang menyia-nyiakan ilmu gurunya.

Gus Baha lalu menukil komentar Imam Syafi’i:

 

الليث أفقه من مالك و لكن ضيعه أصحابه

 

Artinya: Imam Laits itu lebih alim fiqh daripada Imam Malik. Hanya saja ilmu beliau disia-siakan oleh murid-muridnya. (tidak ada yang memperhatikan dan membukukan ilmu Imam Laits sehingga madhzabnya punah)

 

Dari Gus Baha dan para guru kita belajar bahwa kunci kemuliaan memanglah banyak. Atthuruq ilallah bi adad anfasil kholaiq ucap seorang ulama, bahwa jalan menuju Allah ada sangatlah banyak sebanyak nafas para makhluk. Tapi bagi ia yang telah mengikrarkan dirinya sebagai seorang murid dan santri, kunci kemuliaan dunia-akhiratnya hanya ada pada takdzim dan cintanya kepada para guru. Persis seperti sebuah kalam yang dinukil oleh Mbah Hasyim Asyari dalam Adabul Alim wal Muta’allim.

 

 الذي لا يعتقد جلالة أستاذه لا يفلح

 

Artinya: Orang yang tak pernah meyakini keagungan dan kemuliaan gurunya, ia tak akan pernah hidup beruntung dan bahagia.

 

Juga persis seperti pesan indah dari Sulthonul Auliya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani:

 

 من أراد الفلاح فليصر ترابا تحت أقدام الشيوخ

 

Artinya: Barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan (dunia-akhirat) maka jadilah ia debu di bawah telapak kaki para guru.

 

Mereka sudah melakukan dan membuktikan, tinggal kita ingin memilih jalan yang mana.

 

 

Pernah nyantri di Madrasah Aliyah Salafiyah Syafiiyah, Seblak, Diwek, Jombang.  

.

 


Editor:
F1 PWNU Jatim